Akun Agusta Ita (fb.com/agusta.ita) mengunggah sebuah postingan berisi klaim sebagai berikut:
“_ *Breaking News dari Xinhua* _
* Dr. Li Wenliang *, Dokter pahlawan Tiongkok yg dihukum karena mengatakan yg sebenarnya tentang Virus Corona dan kemudian meninggal karena penyakit yg sama, telah mendokumentasikan kasusfile untuk tujuan penelitian dan dalam kasusfile mengusulkan penyembuhan yg secara signifikan akan mengurangi dampak COVID – 19 Virus pada tubuh manusia.
_Bahan kimia *Methylxanthine*, *Theobromine* dan *Theophylline* merangsang senyawa yang dapat menangkal virus ini pada manusia dengan minimal sistem kekebalan rata-rata._
Apa yang lebih mengejutkan adalah bahwa kata-kata rumit Bahan Kimia yang begitu sulit bagi orang-orang di China untuk mengerti sebenarnya adalah *_Seduhan Teh Panas_* yg dikonsumsi oleh Orang China dan India.
_YA, Teh reguler kami memiliki semua bahan kimia ini di dalamnya, Methylxanthine utama dalam teh adalah kafein stimulan, Methylxanthines lain yang ditemukan dalam teh adalah dua senyawa yang secara kimiawi serupa, Theobromine dan Theophilin._
Pabrik teh secara otomatis telah menciptakan bahan kimia ini sebagai cara untuk mengusir serangga dan hewan lainnya.
_Siapa yang tahu bahwa salah satu solusi untuk virus ini adalah secangkir teh sederhana. dan itulah alasan mengapa begitu banyak pasien di China lebih cepat disembuhkan. Staf rumah sakit di Cina telah mulai menyajikan Teh Panas kepada pasien 3 kali sehari, Dan efeknya akhirnya di *Wuhan* “Pusat Pandemi ini” telah terkandung dan penularannya hampir berhenti._
*_Silakan bagikan pesan ini kepada teman dan keluarga Anda untuk membuat mereka mengetahui tentang berkah ini dalam bentuk TEH di dapur, Sesering mungkin minum Teh Panas, akan menolong Anda._*”
[SALAH] “salah satu solusi untuk virus ini adalah secangkir teh sederhana”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 28/03/2020
Berita
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran Tim Cek Fakta Tempo, klaim bahwa minum teh dapat membantu mengurangi dampak COVID-19 pada tubuh manusia adalah klaim yang tidak ada bukti ilmiah.
Selain itu, tidak ditemukan situs kredibel yang menulis tentang dokter Li Wenliang ataupun rumah sakit di Cina yang menggunakan teh panas untuk menyembuhkan pasien yang terinfeksi virus Corona Covid-19.
Sebaliknya, beberapa media telah menerbitkan artikel bantahan atas pesan berantai yang juga viral di sejumlah negara itu, seperti India dan Singapura.
Dikutip dari China Daily, pada akhir Februari 2020, beredar sebuah artikel yang mengklaim bahwa minum teh dapat membantu mencegah infeksi virus Corona Covid-19. Menurut artikel itu, para peneliti dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Zhejiang, Cina, dalam sebuah percobaan dengan sel yang dikultur secara in vitro, menemukan bahwa teh, yang kaya polifenol, bekerja dengan baik dalam membunuh virus tersebut secara ekstraseluler dan menekan proliferasi intraselulernya.
Namun, hal itu dibantah oleh seorang ahli imunologi. Menurut dia, virus Corona Covid-19 menginfeksi sel epitel alveolar di paru-paru. Sementara teh yang diminum tidak akan mencapai paru-paru.
Bahkan, jika percobaan in vitro menunjukkan bahwa teh dapat membunuh virus tersebut, tidak berarti bahwa minum teh bisa menghasilkan efek yang sama. Setelah tes in vitro, uji coba pada hewan harus dilakukan, kemudian dipertimbangkan untuk uji klinis pada manusia. Hasil tes in vitro tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa minum teh dapat membantu mencegah infeksi virus Corona Covid-19.
Saat ini pun, artikel yang dipublikasikan lewat akun WeChat CDC Zhejiang tersebut sudah dihapus. Staf CDC Zhejiang mengatakan temuan dari penelitian terbaru akan dipublikasikan melalui akun WeChat setelah prosedur-prosedur yang diperlukan telah diselesaikan.
Dilansir dari BBC, memang benar bahwa methylxanthine ditemukan dalam teh, serta dalam kopi dan coklat. Namun, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa dokter Li Wenliang meneliti efek dari bahan kimia itu terhadap pasien Corona. Li Wenliang pun merupakan seorang dokter spesialis mata, bukan ahli virus. Selain itu, menurut laporan BBC, klaim bahwa rumah sakit di Cina merawat pasien Corona dengan memberikan teh tidak benar.
India Today pun telah memverifikasi klaim tersebut dan menyatakan bahwa tidak ada bukti ilmiah atas klaim itu.
Sejauh ini, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), belum ada vaksin ataupun obat yang bisa mencegah serta mengobati Covid-19. Para pasien Corona hanya mendapatkan perawatan untuk meredakan gejala-gejalanya. Sementara pasien yang mengalami gejala sakit yang lebih serius harus dibawa ke rumah sakit.
Ada beberapa kandidat vaksin serta obat untuk Covid-19 yang masih diteliti melalui uji klinis. WHO tengah mengkoordinasikan upaya dalam menyediakan vaksin dan obat untuk mencegah dan mengobati Covid-19 tersebut.
WHO juga menyatakan bahwa cara yang paling efektif untuk melindungi diri dan orang lain dari Covid-19 adalah sering mencuci tangan, menutup mulut saat batuk dengan siku yang terlipat atau tisu, dan menjaga jarak setidaknya 1 meter dari orang yang batuk-batuk atau bersin-bersin.
Selain itu, tidak ditemukan situs kredibel yang menulis tentang dokter Li Wenliang ataupun rumah sakit di Cina yang menggunakan teh panas untuk menyembuhkan pasien yang terinfeksi virus Corona Covid-19.
Sebaliknya, beberapa media telah menerbitkan artikel bantahan atas pesan berantai yang juga viral di sejumlah negara itu, seperti India dan Singapura.
Dikutip dari China Daily, pada akhir Februari 2020, beredar sebuah artikel yang mengklaim bahwa minum teh dapat membantu mencegah infeksi virus Corona Covid-19. Menurut artikel itu, para peneliti dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Zhejiang, Cina, dalam sebuah percobaan dengan sel yang dikultur secara in vitro, menemukan bahwa teh, yang kaya polifenol, bekerja dengan baik dalam membunuh virus tersebut secara ekstraseluler dan menekan proliferasi intraselulernya.
Namun, hal itu dibantah oleh seorang ahli imunologi. Menurut dia, virus Corona Covid-19 menginfeksi sel epitel alveolar di paru-paru. Sementara teh yang diminum tidak akan mencapai paru-paru.
Bahkan, jika percobaan in vitro menunjukkan bahwa teh dapat membunuh virus tersebut, tidak berarti bahwa minum teh bisa menghasilkan efek yang sama. Setelah tes in vitro, uji coba pada hewan harus dilakukan, kemudian dipertimbangkan untuk uji klinis pada manusia. Hasil tes in vitro tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa minum teh dapat membantu mencegah infeksi virus Corona Covid-19.
Saat ini pun, artikel yang dipublikasikan lewat akun WeChat CDC Zhejiang tersebut sudah dihapus. Staf CDC Zhejiang mengatakan temuan dari penelitian terbaru akan dipublikasikan melalui akun WeChat setelah prosedur-prosedur yang diperlukan telah diselesaikan.
Dilansir dari BBC, memang benar bahwa methylxanthine ditemukan dalam teh, serta dalam kopi dan coklat. Namun, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa dokter Li Wenliang meneliti efek dari bahan kimia itu terhadap pasien Corona. Li Wenliang pun merupakan seorang dokter spesialis mata, bukan ahli virus. Selain itu, menurut laporan BBC, klaim bahwa rumah sakit di Cina merawat pasien Corona dengan memberikan teh tidak benar.
India Today pun telah memverifikasi klaim tersebut dan menyatakan bahwa tidak ada bukti ilmiah atas klaim itu.
Sejauh ini, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), belum ada vaksin ataupun obat yang bisa mencegah serta mengobati Covid-19. Para pasien Corona hanya mendapatkan perawatan untuk meredakan gejala-gejalanya. Sementara pasien yang mengalami gejala sakit yang lebih serius harus dibawa ke rumah sakit.
Ada beberapa kandidat vaksin serta obat untuk Covid-19 yang masih diteliti melalui uji klinis. WHO tengah mengkoordinasikan upaya dalam menyediakan vaksin dan obat untuk mencegah dan mengobati Covid-19 tersebut.
WHO juga menyatakan bahwa cara yang paling efektif untuk melindungi diri dan orang lain dari Covid-19 adalah sering mencuci tangan, menutup mulut saat batuk dengan siku yang terlipat atau tisu, dan menjaga jarak setidaknya 1 meter dari orang yang batuk-batuk atau bersin-bersin.
Kesimpulan
Tidak ada bukti ilmiah atas klaim minum teh dapat membantu mengurangi dampak COVID-19 pada tubuh manusia. Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa dokter Li Wenliang meneliti efek dari bahan kimia itu terhadap pasien Corona. Li Wenliang pun merupakan seorang dokter spesialis mata, bukan ahli virus.
Rujukan
- https://cekfakta.tempo.co/fakta/702/fakta-atau-hoaks-benarkah-dokter-li-wenliang-dan-rs-di-cina-sarankan-minum-teh-bagi-pasien-corona
- https://global.chinadaily.com.cn/a/202003/03/WS5e5d9950a31012821727bbdc.html
- https://www.bbc.com/news/world-asia-india-51910099
- https://www.indiatoday.in/fact-check/story/viral-post-china-whistleblower-doctor-tea-cures-coronavirus-1659303-2020-03-24
- https://www.who.int/news-room/q-a-detail/pertanyaan-dan-jawaban
[SALAH] Tenaga Medis China Didatangkan Untuk Membantu Menangani Covid-19 di Indonesia
Sumber: whatsapp.comTanggal publish: 27/03/2020
Berita
Hari ini Tim Dokter China sudah tiba Indonesia 👍👍👍
Infonya Tempat dan lokasi Treatment juga sdh disiapkan di seluruh daerah. Alat test dan obat nya juga sdg di distribusikan.
Lokasi untuk rawat pasien positive covid-19 sedang di renovasi ada di Wisma atlit yg dibangun a hok dekat R.S Mitra kemayoran.
Infonya Tempat dan lokasi Treatment juga sdh disiapkan di seluruh daerah. Alat test dan obat nya juga sdg di distribusikan.
Lokasi untuk rawat pasien positive covid-19 sedang di renovasi ada di Wisma atlit yg dibangun a hok dekat R.S Mitra kemayoran.
Hasil Cek Fakta
Sebuah akun twitter bernama @ANDINI_MAHARAN1 mengunggah sebuah video yang diklaim merupakan tenaga medis asal China yang didatangkan untuk membantu menangani pasien Virus Covid-19 di Indonesia.
Dalam video tersebut terlihat orang-orang yang berpakaian APD lengkap di terminal 3 Bandara Internasional Soekarno Hatta.
Setelah ditelusuri, dari pengamatan video itu, mereka mengantre di gate Keberangkatan Internasional Terminal 3, bukan di Kedatangan Internasional.
“Benar, mereka bukan tiba di sini, tapi mereka akan berangkat ke Cina. Jumlahnya sekitar 124 orang,” ungkap Febri Toga Simatupang, Senior Manager Branch Communication and Legal PT Angkasa Pura II Bandara Internasional Soekarno Hatta, saat dihubungi Liputan6.com, Kamis (26/3/2020).
Kepala Sub Bagian Humas Direktorat Jenderal Imigrasi Kementrian hukum dan Ham, Achmad Nur Shaleh juga turut membantah kabar yang beredar terkait kedatangan tim medis dari China ke Indonesia melalui Bandara Soekarno-Hatta.
“Jadi itu area keberagkatan yang difoto. Bukan area kedatangan dan diambilnya waktu pemulangan WN RRT,” ujar Nur Shaleh dalam keteragan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis, 26/03/20.
Lantaran penerbangan dari dan ke tanah daratan China masih ditutup, ratusan penumpang tersebut mencharter pesawat. Mereka menumpang maskapai asal Kamboja, kemudian akan transit di negara tersebut untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke China.
Penerbangan pun terjadi pada sore tadi. Sekitar pukul 17.00 WIB, pesawat take off membawa ratusan penumpang sewaan tersebut menuju negara tujuan.
Lalu, soal mayoritas penumpangnya yang mengenakan baju APD lengkap, ternyata tetap harus dibuka pada saat pemeriksaan X-Ray keberangkatan.
Achmad Nur Saleh menjelaskan bahwa Warga Negara RRT tersebut dievakuasi kembali ke negaranya menggunakan pesawat carteran cambodia airlines (KR3708). “Untuk proses evakuasi WN RRT,” kata dia.
Orang yang terdaftar dalam manifestasi penerbangan pesawat carteran cambodia airlines (KR3708) adalah kru pesawat sebanyak 7 orang terdiri atas 1 WNI dan 6 WNA (1 Korea Selatan, 3 Kamboja, 2 Filipina). Jumlah penumpang sebanyak 126 Warga Negara RRT.
Dalam video tersebut terlihat orang-orang yang berpakaian APD lengkap di terminal 3 Bandara Internasional Soekarno Hatta.
Setelah ditelusuri, dari pengamatan video itu, mereka mengantre di gate Keberangkatan Internasional Terminal 3, bukan di Kedatangan Internasional.
“Benar, mereka bukan tiba di sini, tapi mereka akan berangkat ke Cina. Jumlahnya sekitar 124 orang,” ungkap Febri Toga Simatupang, Senior Manager Branch Communication and Legal PT Angkasa Pura II Bandara Internasional Soekarno Hatta, saat dihubungi Liputan6.com, Kamis (26/3/2020).
Kepala Sub Bagian Humas Direktorat Jenderal Imigrasi Kementrian hukum dan Ham, Achmad Nur Shaleh juga turut membantah kabar yang beredar terkait kedatangan tim medis dari China ke Indonesia melalui Bandara Soekarno-Hatta.
“Jadi itu area keberagkatan yang difoto. Bukan area kedatangan dan diambilnya waktu pemulangan WN RRT,” ujar Nur Shaleh dalam keteragan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis, 26/03/20.
Lantaran penerbangan dari dan ke tanah daratan China masih ditutup, ratusan penumpang tersebut mencharter pesawat. Mereka menumpang maskapai asal Kamboja, kemudian akan transit di negara tersebut untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke China.
Penerbangan pun terjadi pada sore tadi. Sekitar pukul 17.00 WIB, pesawat take off membawa ratusan penumpang sewaan tersebut menuju negara tujuan.
Lalu, soal mayoritas penumpangnya yang mengenakan baju APD lengkap, ternyata tetap harus dibuka pada saat pemeriksaan X-Ray keberangkatan.
Achmad Nur Saleh menjelaskan bahwa Warga Negara RRT tersebut dievakuasi kembali ke negaranya menggunakan pesawat carteran cambodia airlines (KR3708). “Untuk proses evakuasi WN RRT,” kata dia.
Orang yang terdaftar dalam manifestasi penerbangan pesawat carteran cambodia airlines (KR3708) adalah kru pesawat sebanyak 7 orang terdiri atas 1 WNI dan 6 WNA (1 Korea Selatan, 3 Kamboja, 2 Filipina). Jumlah penumpang sebanyak 126 Warga Negara RRT.
Kesimpulan
Bukan tenaga medis dari China. orang-orang yang memakai APD lengkap itu adalah warga tiongkok yang ingin berangkat ke China mengunakan maskapai Kamboja yang dicharter, lantaran penerbangan dari dan ke tanah daratan China masih ditutup.
Rujukan
- https://m.liputan6.com/amp/4212239/viral-ratusan-wna-china-berpakaian-apd-lengkap-di-bandara-soetta-bagaimana-faktanya
- https://nasional.kompas.com/read/2020/03/27/10011521/beredar-video-tim-medis-china-tiba-di-indonesia-ini-penjelasan-imigrasi
- https://www.antaranews.com/berita/1383918/imigrasi-bantah-kabar-tim-medis-dari-china-telah-datang-ke-indonesia
- https://www.inews.id/news/nasional/viral-tim-medis-china-ke-indonesia-imigrasi-itu-pemulangan-warga
[SALAH] 5 Kecamatan di Lampung “Red Zone” COVID-19
Sumber: whatsapp.comTanggal publish: 27/03/2020
Berita
Beredar sebuah pesan berantai melalui WhatsApp yang menyebutkan jika beberapa kecamatan di Lampung telah masuk warning zone COVID-19. Pesan tersebut berupa tabel daerah yang diklaim "red zone" COVID-19 di Lampung dan disertai narasi "Hati-hati lampung sudah masuk zona merah.”
Hasil Cek Fakta
Namun setelah melakukan penelusuran informasi tersebut dibantah langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Reihana, mengutip dari TribunLampung.co.id Reihana menjelaskan jika informasi tersebut adalah hoaks. Dia juga mengatakan jika tabel informasi warning zone tersebut bukan bersumber dari Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 di Provinsi Lampung.
"Jadi tidak pernah ada Diskes Lampung menyebarkan tabel itu. Saya juga kaget siapa yang mengeluarkan data tersebut," kata Reihana.
Selain itu Nasrul selaku Humas Grab Lampung juga mengatakan jika data yang beredar tersebut tidak benar.
"Data tersebut bukan dari kami, di internal Grab Lampung tidak pernah mengeluarkan edaran warning zone semacam itu," ujar Nasrul mengutip dari kumparan.com
Nasrul juga menambahkan baik pihak Grab Lampung maupun pusat tidak pernah mengeluarkan edaran warning zone tersebut.
"Imbauannya secara umum untuk pencegahan Covid-19, dan kami juga berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi Lampung. Jadi kami juga tidak sembarangan mengeluarkan imbauan. Kami mengimbau demi keamanan para driver saat mengantar makanan ditarok di pagar agar tidak kontak langsung, kemudian untuk driver yang sakit diimbau untuk beristirahat di rumah, disesuaikan dengan kondisi bisa sampai 14 hari," jelasnya dikutip dari kumparan.com.
Reihana juga menghibau warga agar tidak panik dan tidak langsung percaya pada sebuah informasi.
"Harap masyarakat mematuhi anjuran kebijakan pemerintah untuk melakukan self monitoring dan self isolation. Jangan sampai kita seperti negara terjangkit lainnya yang menyepelekan imbauan pemerintah. Jadi masyarakat harus tetap waspada, tapi juga jangan panik, karena yang PDP belum tentu positif terinfeksi virus Corona, dan tiga PDP di Lampung justru negatif corona," ujar Reihana melalui grup WhatsApp.
"Jadi tidak pernah ada Diskes Lampung menyebarkan tabel itu. Saya juga kaget siapa yang mengeluarkan data tersebut," kata Reihana.
Selain itu Nasrul selaku Humas Grab Lampung juga mengatakan jika data yang beredar tersebut tidak benar.
"Data tersebut bukan dari kami, di internal Grab Lampung tidak pernah mengeluarkan edaran warning zone semacam itu," ujar Nasrul mengutip dari kumparan.com
Nasrul juga menambahkan baik pihak Grab Lampung maupun pusat tidak pernah mengeluarkan edaran warning zone tersebut.
"Imbauannya secara umum untuk pencegahan Covid-19, dan kami juga berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi Lampung. Jadi kami juga tidak sembarangan mengeluarkan imbauan. Kami mengimbau demi keamanan para driver saat mengantar makanan ditarok di pagar agar tidak kontak langsung, kemudian untuk driver yang sakit diimbau untuk beristirahat di rumah, disesuaikan dengan kondisi bisa sampai 14 hari," jelasnya dikutip dari kumparan.com.
Reihana juga menghibau warga agar tidak panik dan tidak langsung percaya pada sebuah informasi.
"Harap masyarakat mematuhi anjuran kebijakan pemerintah untuk melakukan self monitoring dan self isolation. Jangan sampai kita seperti negara terjangkit lainnya yang menyepelekan imbauan pemerintah. Jadi masyarakat harus tetap waspada, tapi juga jangan panik, karena yang PDP belum tentu positif terinfeksi virus Corona, dan tiga PDP di Lampung justru negatif corona," ujar Reihana melalui grup WhatsApp.
Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan mengenai informasi warning zone di Lampung yang dibantah langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, maka informasi tersebut masuk ke dalam Konten Yang Menyesatkan atau Misleading Content.
Rujukan
- https://lampung.tribunnews.com/2020/03/23/kadiskes-lampung-warning-zone-covid-19-yang-tersebar-di-medsos-hoaks
- https://kumparan.com/lampunggeh/beredar-data-warning-zone-corona-mengatasnamakan-grab-grab-lampung-itu-hoaks-1t4iu8KC9B8
- https://www.saibumi.com/artikel-100539-warning-zone-covid19-kota-bandar-lampung-ternyata-hoax.html
- https://www.merdeka.com/cek-fakta/cek-fakta-warning-zone-di-lampung-hoaks.html
- https://www.lampost.co/berita-kadinkes-i-waring-zone-i-covid-19-di-lampung-hoaks.html
- https://regional.kompas.com/read/2020/03/23/06525671/viral-5-kecamatan-di-lampung-red-zone-covid-19-dinkes-itu-hoaks
[SALAH] “Masuk Kota Sukabumi Harus Memiliki Surat Keterangan dari kepolisian domisili”
Sumber: whatsapp.comTanggal publish: 27/03/2020
Berita
Telah beredar pesan berantai Whatsapp yang bersifat pengumuman, mengatasnamakan Dinas Kesehatan Kota Sukabumi. pengumuman ini ditujukan kepada masyarakat yang ingin mengunjungi Kota Sukabumi diwajibkan harus memiliki surat keterangan dari kepolisian domisili. Di dalam pesan tersebut Dinas Kesehatan Kota Sukabumi menyebutkan alasannya adalah untuk melakukan pencegahan penularan wabah virus COVID-19. Berikut kutipan narasinya:
“PENGUMUMAN
Kepada Seluruh Warga Kota Sukabumi.
Sehubungan dengan Himbauan Pemerintah Daerah bahwa tidak boleh menerima tamu luar berkunjung ke Sukabumi untuk mencegah dan membatasi Virus Corono Covid 19 agar tidak menyebar dan masuk ke wilayah Sukabumi khususnya Kota, maka kami menghimbau agar setiap warga Sukabumi untuk bisa membantu dan memberitahukan kepada siapa saja yang akan berkunjung ke Sukabumi agar memenuhi peraturan yg telah dibuat sasuai Intruksi Presiden QQ Kapolri No. 002/Skep-POLRI/III/2020. Agar setiap pengunjung/tamu/ keluaraga yang tiba dari luar kota harus dilengkapi "Surat Keterangan dari Kepolisian Domisi" Demikian pengumuman ini kami sampaikan agar diperhatikan.
Sukabumi, 24 Maret 2020.
Dinas Kesehatan Kota Sukabumi.”
“PENGUMUMAN
Kepada Seluruh Warga Kota Sukabumi.
Sehubungan dengan Himbauan Pemerintah Daerah bahwa tidak boleh menerima tamu luar berkunjung ke Sukabumi untuk mencegah dan membatasi Virus Corono Covid 19 agar tidak menyebar dan masuk ke wilayah Sukabumi khususnya Kota, maka kami menghimbau agar setiap warga Sukabumi untuk bisa membantu dan memberitahukan kepada siapa saja yang akan berkunjung ke Sukabumi agar memenuhi peraturan yg telah dibuat sasuai Intruksi Presiden QQ Kapolri No. 002/Skep-POLRI/III/2020. Agar setiap pengunjung/tamu/ keluaraga yang tiba dari luar kota harus dilengkapi "Surat Keterangan dari Kepolisian Domisi" Demikian pengumuman ini kami sampaikan agar diperhatikan.
Sukabumi, 24 Maret 2020.
Dinas Kesehatan Kota Sukabumi.”
Hasil Cek Fakta
Dari hasil penelusuran, diketahui bahwa Dinas Kesehatan Kota Sukabumi tidak pernah mengeluarkan pengumuman seperti yang telah beredar di Whatsapp itu. Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Kota Sukabumi, Wahyu Handriana mengatakan bahwa informasi terebut tidak benar alias hoaks.
Wahyu yang juga menjadi Juru Bicara Media Center Pusat Informasi dan Koordinasi COVID-19 Kota Sukabumi menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah mengeluarkan imbauan seperti itu.
“Dinas Kesehatan tidak pernah mengeluarkan imbauan tersebut, sehingga itu hoaks ya,” kata Wahyu.
Himbauan yang sempat beredar ini pun dinilai meresahkan karena menimbulkan kekhawatiran di tengah pandemi Corona. Wahyu menuturkan, sejauh ini belum ada aturan yang mengatur kunjungan orang luar Sukabumi ke Kota Sukabumi.
"Belum ada. Untuk pengamanan itu dari Polres atau Polri. Ya, mengenai larangan segala macamnya sesuai edaran Kapolri," kata Wahyu.
Wahyu yang juga menjadi Juru Bicara Media Center Pusat Informasi dan Koordinasi COVID-19 Kota Sukabumi menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah mengeluarkan imbauan seperti itu.
“Dinas Kesehatan tidak pernah mengeluarkan imbauan tersebut, sehingga itu hoaks ya,” kata Wahyu.
Himbauan yang sempat beredar ini pun dinilai meresahkan karena menimbulkan kekhawatiran di tengah pandemi Corona. Wahyu menuturkan, sejauh ini belum ada aturan yang mengatur kunjungan orang luar Sukabumi ke Kota Sukabumi.
"Belum ada. Untuk pengamanan itu dari Polres atau Polri. Ya, mengenai larangan segala macamnya sesuai edaran Kapolri," kata Wahyu.
Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan tersebut maka konten yang beredar di aplikasi pesan Whatsapp tersebut dapat masuk ke dalam kategori False Context atau Konten yang salah.
Rujukan
Halaman: 7728/8694



