“Donor Sperma untuk workshop IUI
Tanggal: 8 Desember 2017
Tempat: Gedung IMERI FKUI
Dapat fee 100ribu dan makan siang ok
Dibutuhkan 10-15 orang donor
Buat temen cowonya, sekolah, kerja, or main daerah salemba FKUI, mohon bantuan dan sumbangannya ya
Cp: eli (+6287886860050) whatsapp and call
Penyelenggara: INA-REPROMED (Indonesian Reproductive Medicine Research and Training Center), FKUI
Shared would be really much appreciated!
Thanks in advance guys
Better than waste it in ur bathroom”.
[HOAX] “Donor Sperma di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia”
Sumber: www.whatsapp.comTanggal publish: 17/11/2017
Berita
Hasil Cek Fakta
Ketua Panitia Jakarta Infertility Update, dr Gita Pratama, SpOG dari Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Indonesia (UI) membantah adanya acara donor sperma di UI yang akan diadakan pada 8 Desember mendatang.
“Informasi itu tidak benar atau hoaks, tidak ada donor sperma di FKUI, perlu diluruskan itu,” kata Gita, Rabu (15/11).
Menurut Gita, seminar yang diadakannya memang ada pembahasan tentang inseminasi untuk membantu suami istri mendapatkan keturunan. Tetapi pesertanya adalah para pakar atau yang ahli dibidangnya, bukan masyarakat awam.
“Pesertanya, dokter umum, dokter spesialis, ahli laboratorium yang memiliki kemampuan untuk melakukan pencucian sperma sebelum disemprotkan ke dalam rahim ibu. Sperma suami, karena itu tindakan yang dilakukan oleh sepasang suami istri,” ujar Gita.
Senada dengan Gita, Manager Riset dan Pengabdian Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Budi Wiweko melihat informasi hoax donor sperma tersebut dari sisi upah yang dijanjikan akan diterima pendonor. Menurutnya biaya inseminasi dan jumlah upahnya yakni Rp. 100 ribu adalah tak sepadan.
“Biaya satu kali pencucian sperma sebelum masuk proses inseminasi itu biasanya rata-rata Rp 5 juta, belum termasuk obat, bisa total Rp 10 juta itu semua di klinik kesuburan. Kalau cuma dikasih Rp 100.000 itu sudah pasti hoaks,” jelasnya.
Diketahui, hoax terkait donor sperma juga pernah dihubungkan dengan Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM) pada tahun 2015. Informasi yang tersebar melalui pesan whatssap ini menjanjikan pendonornya mendapatkan honor sebesar Rp. 50.000.
Namun, Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Kedokteran UGM Ova Emilia membantah informasi tersebut. “Kabar itu tidak benar. Tidak ada tawaran pembelian sperma dari Bagian Patologi Klinis Fakultas Kedokteran UGM,” tegasnya, Senin (7/9/2015).
“Informasi itu tidak benar atau hoaks, tidak ada donor sperma di FKUI, perlu diluruskan itu,” kata Gita, Rabu (15/11).
Menurut Gita, seminar yang diadakannya memang ada pembahasan tentang inseminasi untuk membantu suami istri mendapatkan keturunan. Tetapi pesertanya adalah para pakar atau yang ahli dibidangnya, bukan masyarakat awam.
“Pesertanya, dokter umum, dokter spesialis, ahli laboratorium yang memiliki kemampuan untuk melakukan pencucian sperma sebelum disemprotkan ke dalam rahim ibu. Sperma suami, karena itu tindakan yang dilakukan oleh sepasang suami istri,” ujar Gita.
Senada dengan Gita, Manager Riset dan Pengabdian Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Budi Wiweko melihat informasi hoax donor sperma tersebut dari sisi upah yang dijanjikan akan diterima pendonor. Menurutnya biaya inseminasi dan jumlah upahnya yakni Rp. 100 ribu adalah tak sepadan.
“Biaya satu kali pencucian sperma sebelum masuk proses inseminasi itu biasanya rata-rata Rp 5 juta, belum termasuk obat, bisa total Rp 10 juta itu semua di klinik kesuburan. Kalau cuma dikasih Rp 100.000 itu sudah pasti hoaks,” jelasnya.
Diketahui, hoax terkait donor sperma juga pernah dihubungkan dengan Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM) pada tahun 2015. Informasi yang tersebar melalui pesan whatssap ini menjanjikan pendonornya mendapatkan honor sebesar Rp. 50.000.
Namun, Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Kedokteran UGM Ova Emilia membantah informasi tersebut. “Kabar itu tidak benar. Tidak ada tawaran pembelian sperma dari Bagian Patologi Klinis Fakultas Kedokteran UGM,” tegasnya, Senin (7/9/2015).
Rujukan
[HOAX] “PARTIKEL PANCI ALUMUNIUM, BISA TERSERAP PADA MAKANAN”
Sumber: www.facebook.comTanggal publish: 17/11/2017
Berita
“Suka sedih saja kalau lihat teman-teman memasak pakai piranti yang tidak sehat. Murah bukan satu-satunya alasan kita membeli alat-alat ini. Mari simak dan pelajari agar kita lebih paham memilih-milih bagi keluarga kita.” Begitu kalimat pembuka pesan hoax tersebut.
Hasil Cek Fakta
Melansir dari jawapos.com, “Setelah dilakukan penelusuran lebih lanjut, akun yang memposting memang sudah sering membuat postingan terkait bahaya penggunaan alat-alat memasak. Namun tak jarang juga ia beberapa kali melakukan promosi produk suplemen kesehatan brand Amerika Serikat.
Jika menelaah pesan singkat tersebut, si pembuat hoax ingin menggiring opini publik terkait bahaya menggunakan panci berbahan alumunium. Didalam tersebut, pembuat hoax juga ingin menyampaikan jika partikel yang ada didalam panci alumunium bisa dengan mudah larut dan terserap ke dalam makanan saat proses memasak dilakukan. Dan nantinya, orang-orang yang mengkonsumsi makanan dari panci tersebut akan dengan mudah terkena dampak buruk bagi kesehatan mereka.
Namun bagi anda dirumah yang memang sudah biasa menggunakan alat-alat masak berbahan alumunium tidak perlu takut. Menurut Ketua Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Agus Haryono, pesan tersebut sangat jauh dari kata benar melainkan HOAX.
Dibenarkan memang jika mengkonsumsi alumunium secara berlebihan dapat menimbulkan bahaya bagi kesehatan. Menurut WHO, manusia dewasa bisa menerima paparan oral maksimal 50 miligram per hari. Sedangkan partikel alumunium yang terkikis dan kemudian dikonsumsi manusia hanya sebanyak satu hingga dua miligram untuk satu kali masak. FAKTANYA paparan oral tersebut masih dalam rentang yang aman jika dikonsumsi oleh tubuh manusia. Dan untuk reaksi kimianya sendiri, jika alumunium bertemu dengan asam serta garam, hal itu justru menyebabkan terbentuknya lapisan alumunium yang bisa membantu mengurangi kikisan alumunium terhadap makanan.”
Jika menelaah pesan singkat tersebut, si pembuat hoax ingin menggiring opini publik terkait bahaya menggunakan panci berbahan alumunium. Didalam tersebut, pembuat hoax juga ingin menyampaikan jika partikel yang ada didalam panci alumunium bisa dengan mudah larut dan terserap ke dalam makanan saat proses memasak dilakukan. Dan nantinya, orang-orang yang mengkonsumsi makanan dari panci tersebut akan dengan mudah terkena dampak buruk bagi kesehatan mereka.
Namun bagi anda dirumah yang memang sudah biasa menggunakan alat-alat masak berbahan alumunium tidak perlu takut. Menurut Ketua Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Agus Haryono, pesan tersebut sangat jauh dari kata benar melainkan HOAX.
Dibenarkan memang jika mengkonsumsi alumunium secara berlebihan dapat menimbulkan bahaya bagi kesehatan. Menurut WHO, manusia dewasa bisa menerima paparan oral maksimal 50 miligram per hari. Sedangkan partikel alumunium yang terkikis dan kemudian dikonsumsi manusia hanya sebanyak satu hingga dua miligram untuk satu kali masak. FAKTANYA paparan oral tersebut masih dalam rentang yang aman jika dikonsumsi oleh tubuh manusia. Dan untuk reaksi kimianya sendiri, jika alumunium bertemu dengan asam serta garam, hal itu justru menyebabkan terbentuknya lapisan alumunium yang bisa membantu mengurangi kikisan alumunium terhadap makanan.”
Rujukan
[HOAX] Pesan Berantai Aksi Tawuran Pelajar Selama 2 Bulan di Kota Bogor
Sumber:Tanggal publish: 17/11/2017
Berita
“Info kan buat yg suka melintas teplan jambu dua utk bln ini dan bln dpn akan ada tauran anak tridarma bls dendam akan serang anak mekanik Karna hari ini anak tridarma ada yg meninggal kls 3
Yg punya anak saudara famili dan teman2 tlg info kan ke smua tetap waspada lewat jambu dua dan teplan jambu.info dari kelurahan”.
Yg punya anak saudara famili dan teman2 tlg info kan ke smua tetap waspada lewat jambu dua dan teplan jambu.info dari kelurahan”.
Hasil Cek Fakta
Sebuah pesan berantai beredar di media sosial WhatsApp. Isi pesan berantai tersebut berisi tentang adanya aksi tawuran yang akan dilaksanakan selama dua bulan ini di kawasan Jambu Dua, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor. Selain itu pesan tersebut juga menuliskan bahwa informasi didapat dari pihak kelurahan.
Ketua Harian Satgas Pelajar Kota Bogor, Iqbal menuturkan bahwa pesan tersebut tidak benar.
Pihak satgas juga sudah melakukan komunikasi dengan pihak sekolah.
“Itu enggak benar, karena saya sudah menghubungi kepala sekolahnya dan pembina setelah di cek informasi di pesan berantai itu hoax,” ujarnya.
Ia pun mengatakan bahwa akan terus menelusuri pesan tersebut untuk mencari kebenarannya.
“Saya masih terus mencari informasi kebenarannya seperti apa,” ujarnya.
Sementara itu, Camat Bogor Utara Atep Budiman menjelaskan pihaknya juga masih terus mencari informasi.Namun untuk memastikan agar kondisi tetap kondusif pihaknya terus melakukan koordinasi dengan pihak kepolisian.
“Biasanya info itu viral tapi hoax, tapi kita akan koordinasi dengan pihak kepolisian,” katanya.
Ketua Harian Satgas Pelajar Kota Bogor, Iqbal menuturkan bahwa pesan tersebut tidak benar.
Pihak satgas juga sudah melakukan komunikasi dengan pihak sekolah.
“Itu enggak benar, karena saya sudah menghubungi kepala sekolahnya dan pembina setelah di cek informasi di pesan berantai itu hoax,” ujarnya.
Ia pun mengatakan bahwa akan terus menelusuri pesan tersebut untuk mencari kebenarannya.
“Saya masih terus mencari informasi kebenarannya seperti apa,” ujarnya.
Sementara itu, Camat Bogor Utara Atep Budiman menjelaskan pihaknya juga masih terus mencari informasi.Namun untuk memastikan agar kondisi tetap kondusif pihaknya terus melakukan koordinasi dengan pihak kepolisian.
“Biasanya info itu viral tapi hoax, tapi kita akan koordinasi dengan pihak kepolisian,” katanya.
Rujukan
[EDUKASI] Micin Bikin Bodoh
Sumber: Sosial MediaTanggal publish: 17/11/2017
Berita
“Micin bikin bodoh? Mitos kali”.
Hasil Cek Fakta
Di era ‘kids jaman now’ sebutan untuk kehidupan sosial masa kini, diidentikan oleh generasi micin. Generasi micin sering dimaknai orang-orang untuk masyarakat yang ‘bodoh’. Sebab, masyarakat awam menilai kalau makanan yang mengandung micin bisa membuat bodoh, bagi orang yang memakannya.
Micin sendiri bagi masyarakat Indonesia sebutan untuk monosodium glutamat (MSG). Micin alias MSG adalah garam natrium asam glutamat yang ditemukan oleh Kikunae Ikeda, seorang profesor kimia Universitas Tokyo, pada 1908. Ia dianggap sebagai garam paling stabil yang mampu memberi rasa umami atau gurih pada makanan.
Glutamat yang merupakan bahan ajaib dari MSG sebetulnya adalah asam amino umum yang terjadi secara alami di berbagai macam makanan, seperti tomat, keju, permesan, jamur kering, kecap, buah dan sayur, bahkan ASI.
Ikeda memisahkannya dari rumput laut kering yang digunakan untuk membuat kaldu dashi dalam masakan Jepang, dan menambahkan natrium, salah satu dari dua unsur dalam garam, untuk mengubahnya menjadi bubuk yang bisa ditambahkan ke makanan. Sejak saat itu, MSG menjadi salah satu bahan yang paling umum digunakan dalam memasak.
Penelitian Tentang MSG
MSG tiba-tiba mendapat cap buruk pada tahun 1968 setelah Dr Ho Man Kwok menulis sebuah surat ke New England Journal of Medicine mengenai sindrom restoran China.
Dalam surat itu, Kwok menceritakan bagaimana dia mengalami mati rasa di bagian belakang leher yang menyebar hingga ke lengan dan punggung, lemas, dan berdebar-debar setiap kali makan di restoran China. Kwok sempat menduga bahwa penyebabnya adalah kecap dan anggur, tetapi kemudian pilihannya jatuh ada MSG yang digunakan sebagai bumbu pelengkap di restoran China.
Sebenarnya, MSG juga tidak memiliki nilai ADI. Nilai Acceptable Daily Intakes (ADI) adalah nilai yang menyatakan kadar maksimal suatu bahan tambahan pangan dapat dikonsumsi manusia tanpa menimbulkan gangguan kesehatan.
Lembaga kesehatan nasional maupun internasional, termasuk BPOM, United States Food and Drugs Administration (US-FDA), Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA), dan lembaga lainnya menyatakan bahwa MSG tidak memiliki nilai ADI.
Dalam sebuah pertemuan konsensus yang dilaksanakan di Universitas Hohenheim, Stuttgart, Jerman pada tahun 2007. Para ahli dari berbagai disiplin ilmu terkait dari seluruh dunia berkumpul untuk merangkum dan mengevaluasi pengetahuan tentang aspek fisiologis dan keamanan dari MSG.
Hasil dari konsensus tersebut dipublikasikan pada European Journal of Clinical Nutrition. Dampak negatif dari MSG sempat dipublikasikan tahun 1981, terdapat penelitian yang menunjukkan bahwa mengonsumsi 2,5 g MSG dapat memicu penyakit asma dan gangguan pernapasan pada manusia. Namun pada tahun 2000, seorang peneliti bernama Stevenson melakukan penelitian dengan subjek 45 orang yang menderita penyakit asma.
Hasilnya menunjukkan, tidak seorang pun yang memberikan respon negatif setelah mereka mengonsumsi makanan yang mengandung MSG. Hasil konsesus pada tahun 2007 juga menyebutkan bahwa mengonsumsi MSG tidak memberikan efek samping kepada sistem pernapasan, atau pun sistem imun tubuh.
Penjelasan Dari Ahli
Dikutip dari liputan6.com, Ahli Gizi dari Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Ir Ahmad Sulaeman MS PhD, memberikan penjelasan terhadap isu MSG.
“Micin itu mono-sodium glutamat. Kalau pun kita tidak pakai micin, bahan-bahan yang kita gunakan pun mengandung asam glutamat,” ungkap Prof Ir Ahmad Sulaeman.
Asam glutamat yang ada di micin juga terdapat di sumber makanan lain yang kita santap sehari-hari, dan air susu ibu (ASI) yang terbanyak mengandung asam glutamat.
“Kalau enggak boleh makan micin atau glutamat, berarti seorang bayi tidak boleh minum ASI, dong? Itu sama saja melanggar hak asasi manusia,” kata Ahmad.
Seorang koki atau pemilik rumah makan boleh saja mengklaim tidak menggunakan micin di dalam masakan yang dia racik. Akan tetapi saat diuji coba, positif mengandung asam glutamat yang juga ada di micin. Ya, itu karena, di tomat, jamur, daging merah, bahkan sayur yang belum dimasak pun ada kandungan itu.
“Glutamat itu asam amino non-esensial yang ada pada protein. Jadi, kenapa harus dibenci? Wong kita enggak pakai pun akan dapat glutamat itu,” kata Ahmad menekankan.
“Glutamat itu asam amino non-esensial yang ada pada protein. Jadi, kenapa harus dibenci? Wong kita enggak pakai pun akan dapat glutamat itu,” kata Ahmad menekankan.
MSG terdiri dari glutamat, sodium, dan air yang semuanya adalah zat gizi. Dan glutamat merupakan salah satu asam amino non-esensial yang secara alami ada di dalam makanan yang berperan meningkatkan metabolisme, fungsi otak, dan otot.
Dikutip juga dari vice.com, Sikap konsumen anti-MSG itu, bagi pakar makanan sekaligus ahli gizi Steve Witherly, tidak dianggap gaya hidup sehat. Witherly pun mendorong anak-anaknya untuk mengkonsumsi lebih banyak MSG.
“Saya ingin anak-anak saya makan secara sehat, jadi saya selalu taburkan sedikit garam super di makanan mereka. MSG itu sangat hebat sekali lho efeknya. Contohnya, ketika saya membawa pulang pizza terbuat dari gandum, tetapi anak-anak saya benci gandum, lalu saya taburkan sedikit ‘garam super’ di saus tomat, langsung ludes itu pizza. Brokoli juga langsung lezat razanya apabila ditambah mentega, bawang dan MSG,” kata Witherly.
Witherly mengatakan bahwa MSG sangat aman dikonsumsi manusia. “Kami pernah mengadakan penelitian di University of California Davis. Para peneliti, termasuk saya, menenggak bergelas-gelas MSG. Per orang mencapai 25 gram dan tidak ada efeknya.”
Witherly mengatakan bahwa penelitian-penelitian terkini tidak menemukan efek negatif dari MSG. Kesimpulan American Chemical Society sejalan dengan pendapat Witherly. “MSG memang bisa memberi dampak buruk pada beberapa orang yang mengkonsumsinya terlalu banyak ketika perut kosong. Tapi untuk kebanyakan orang, konsumsi MSG sebenarnya sangat aman.
Witherly mengatakan bahwa MSG sehat untuk anak-anak karena dapat mendorong mereka untuk memakan sayur-sayuran.
Mitos micin juga dapat menyebabkan kanker, ternyata tidak terbukti. Seperti dikutip dari okezone.com, saat menanyakan hal ini kepada Ketua Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Prof Dr dr Aru Wicaksono Sudoyo SpPD-KHOM.
“MSG tidak terbukti menyebabkan kanker, tapi bisa merusak jaringan pankreas yang nanti mengganggu insulin. Ini terjadi kalau dikonsumsi berlebihan,” ujar dr Aru dalam Seminar Betadine Retro Run 2017 Ajak Masyarakat Berantas Mitos dan Rumor Kanker di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (23/8/2017).
Ditegaskan Prof Aru, MSG tak memicu pertumbuhan sel kanker di otak. Hanya, mengonsumsi MSG berlebihan dalam jangka panjang dapat menyebabkan penuaan otak lebih cepat.
“Untuk mencegah risiko penuaan ini setiap orang harus batasi makan MSG. Tapi kalau untuk bukti pemicu kanker tidak berkaitan,” simpulnya.
Micin sendiri bagi masyarakat Indonesia sebutan untuk monosodium glutamat (MSG). Micin alias MSG adalah garam natrium asam glutamat yang ditemukan oleh Kikunae Ikeda, seorang profesor kimia Universitas Tokyo, pada 1908. Ia dianggap sebagai garam paling stabil yang mampu memberi rasa umami atau gurih pada makanan.
Glutamat yang merupakan bahan ajaib dari MSG sebetulnya adalah asam amino umum yang terjadi secara alami di berbagai macam makanan, seperti tomat, keju, permesan, jamur kering, kecap, buah dan sayur, bahkan ASI.
Ikeda memisahkannya dari rumput laut kering yang digunakan untuk membuat kaldu dashi dalam masakan Jepang, dan menambahkan natrium, salah satu dari dua unsur dalam garam, untuk mengubahnya menjadi bubuk yang bisa ditambahkan ke makanan. Sejak saat itu, MSG menjadi salah satu bahan yang paling umum digunakan dalam memasak.
Penelitian Tentang MSG
MSG tiba-tiba mendapat cap buruk pada tahun 1968 setelah Dr Ho Man Kwok menulis sebuah surat ke New England Journal of Medicine mengenai sindrom restoran China.
Dalam surat itu, Kwok menceritakan bagaimana dia mengalami mati rasa di bagian belakang leher yang menyebar hingga ke lengan dan punggung, lemas, dan berdebar-debar setiap kali makan di restoran China. Kwok sempat menduga bahwa penyebabnya adalah kecap dan anggur, tetapi kemudian pilihannya jatuh ada MSG yang digunakan sebagai bumbu pelengkap di restoran China.
Sebenarnya, MSG juga tidak memiliki nilai ADI. Nilai Acceptable Daily Intakes (ADI) adalah nilai yang menyatakan kadar maksimal suatu bahan tambahan pangan dapat dikonsumsi manusia tanpa menimbulkan gangguan kesehatan.
Lembaga kesehatan nasional maupun internasional, termasuk BPOM, United States Food and Drugs Administration (US-FDA), Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA), dan lembaga lainnya menyatakan bahwa MSG tidak memiliki nilai ADI.
Dalam sebuah pertemuan konsensus yang dilaksanakan di Universitas Hohenheim, Stuttgart, Jerman pada tahun 2007. Para ahli dari berbagai disiplin ilmu terkait dari seluruh dunia berkumpul untuk merangkum dan mengevaluasi pengetahuan tentang aspek fisiologis dan keamanan dari MSG.
Hasil dari konsensus tersebut dipublikasikan pada European Journal of Clinical Nutrition. Dampak negatif dari MSG sempat dipublikasikan tahun 1981, terdapat penelitian yang menunjukkan bahwa mengonsumsi 2,5 g MSG dapat memicu penyakit asma dan gangguan pernapasan pada manusia. Namun pada tahun 2000, seorang peneliti bernama Stevenson melakukan penelitian dengan subjek 45 orang yang menderita penyakit asma.
Hasilnya menunjukkan, tidak seorang pun yang memberikan respon negatif setelah mereka mengonsumsi makanan yang mengandung MSG. Hasil konsesus pada tahun 2007 juga menyebutkan bahwa mengonsumsi MSG tidak memberikan efek samping kepada sistem pernapasan, atau pun sistem imun tubuh.
Penjelasan Dari Ahli
Dikutip dari liputan6.com, Ahli Gizi dari Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Ir Ahmad Sulaeman MS PhD, memberikan penjelasan terhadap isu MSG.
“Micin itu mono-sodium glutamat. Kalau pun kita tidak pakai micin, bahan-bahan yang kita gunakan pun mengandung asam glutamat,” ungkap Prof Ir Ahmad Sulaeman.
Asam glutamat yang ada di micin juga terdapat di sumber makanan lain yang kita santap sehari-hari, dan air susu ibu (ASI) yang terbanyak mengandung asam glutamat.
“Kalau enggak boleh makan micin atau glutamat, berarti seorang bayi tidak boleh minum ASI, dong? Itu sama saja melanggar hak asasi manusia,” kata Ahmad.
Seorang koki atau pemilik rumah makan boleh saja mengklaim tidak menggunakan micin di dalam masakan yang dia racik. Akan tetapi saat diuji coba, positif mengandung asam glutamat yang juga ada di micin. Ya, itu karena, di tomat, jamur, daging merah, bahkan sayur yang belum dimasak pun ada kandungan itu.
“Glutamat itu asam amino non-esensial yang ada pada protein. Jadi, kenapa harus dibenci? Wong kita enggak pakai pun akan dapat glutamat itu,” kata Ahmad menekankan.
“Glutamat itu asam amino non-esensial yang ada pada protein. Jadi, kenapa harus dibenci? Wong kita enggak pakai pun akan dapat glutamat itu,” kata Ahmad menekankan.
MSG terdiri dari glutamat, sodium, dan air yang semuanya adalah zat gizi. Dan glutamat merupakan salah satu asam amino non-esensial yang secara alami ada di dalam makanan yang berperan meningkatkan metabolisme, fungsi otak, dan otot.
Dikutip juga dari vice.com, Sikap konsumen anti-MSG itu, bagi pakar makanan sekaligus ahli gizi Steve Witherly, tidak dianggap gaya hidup sehat. Witherly pun mendorong anak-anaknya untuk mengkonsumsi lebih banyak MSG.
“Saya ingin anak-anak saya makan secara sehat, jadi saya selalu taburkan sedikit garam super di makanan mereka. MSG itu sangat hebat sekali lho efeknya. Contohnya, ketika saya membawa pulang pizza terbuat dari gandum, tetapi anak-anak saya benci gandum, lalu saya taburkan sedikit ‘garam super’ di saus tomat, langsung ludes itu pizza. Brokoli juga langsung lezat razanya apabila ditambah mentega, bawang dan MSG,” kata Witherly.
Witherly mengatakan bahwa MSG sangat aman dikonsumsi manusia. “Kami pernah mengadakan penelitian di University of California Davis. Para peneliti, termasuk saya, menenggak bergelas-gelas MSG. Per orang mencapai 25 gram dan tidak ada efeknya.”
Witherly mengatakan bahwa penelitian-penelitian terkini tidak menemukan efek negatif dari MSG. Kesimpulan American Chemical Society sejalan dengan pendapat Witherly. “MSG memang bisa memberi dampak buruk pada beberapa orang yang mengkonsumsinya terlalu banyak ketika perut kosong. Tapi untuk kebanyakan orang, konsumsi MSG sebenarnya sangat aman.
Witherly mengatakan bahwa MSG sehat untuk anak-anak karena dapat mendorong mereka untuk memakan sayur-sayuran.
Mitos micin juga dapat menyebabkan kanker, ternyata tidak terbukti. Seperti dikutip dari okezone.com, saat menanyakan hal ini kepada Ketua Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Prof Dr dr Aru Wicaksono Sudoyo SpPD-KHOM.
“MSG tidak terbukti menyebabkan kanker, tapi bisa merusak jaringan pankreas yang nanti mengganggu insulin. Ini terjadi kalau dikonsumsi berlebihan,” ujar dr Aru dalam Seminar Betadine Retro Run 2017 Ajak Masyarakat Berantas Mitos dan Rumor Kanker di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (23/8/2017).
Ditegaskan Prof Aru, MSG tak memicu pertumbuhan sel kanker di otak. Hanya, mengonsumsi MSG berlebihan dalam jangka panjang dapat menyebabkan penuaan otak lebih cepat.
“Untuk mencegah risiko penuaan ini setiap orang harus batasi makan MSG. Tapi kalau untuk bukti pemicu kanker tidak berkaitan,” simpulnya.
Kesimpulan
“Witherly mengatakan bahwa penelitian-penelitian terkini tidak menemukan efek negatif dari MSG. Kesimpulan American Chemical Society sejalan dengan pendapat Witherly. “MSG memang bisa memberi dampak buruk pada beberapa orang yang mengkonsumsinya terlalu banyak ketika perut kosong. Tapi untuk kebanyakan orang, konsumsi MSG sebenarnya sangat aman.”
Rujukan
Halaman: 8173/8365





