• Bisnis Penjualan Fanpage

    Sumber:
    Tanggal publish: 30/10/2015

    Hasil Cek Fakta

    Seringkah anda lihat akun tidak jelas berisi cerita-cerita Religi, yang juga tidak jelas sanadnya, dan memaksa kita untuk LIKE / SHARE ? “Kalau ingin ke Mekah, klik like” (“kalau tidak, berarti Anda tidak mau ke mekah”). Ternyata ini untuk komersil dan seringkali ilegal, seperti layaknya Judi online.

    Para Pengemis LIKE ini (pengemis ada yang online juga ya) berusaha agar rating mereka naik, yaitu dengan menggiring kita untuk like / share. Seringkali dengan membuat kita merasa berdosa, “Ketik AMIN jika Anda ingin ke Kabah” kalau tidak melakukannya berarti kita tidak mau ke Kabah dong? Sehingga akhirnya kita terpaksa melakukan instruksi mereka karena faktor psikologis.

    Sehingga menjadi banyak yang follow mereka. Lalu setelah banyak yang follow, kemudian digarap dijual friends nya ke berbagai group, yaitu didaftarkan ke group-group Facebook tersebut atau mendadak halaman Facebook tersebut berubah total, dijual ke pihak lainnya. Misalnya menjadi halaman Judi bola online dan sebagainya

    maka dari itu apabila menemukan hal semacam itu laporkan mereka ke Facebook sebagai Spammer : https://www.facebook.com/help/205730929485170

    Daftar para Pengemis Like bisa dilihat disini : https://www.facebook.com/notes/indonesian-hoaxes/daftar-hitam-akun-panen-follower/1012412958811234

    Apakah ada yang sudah pernah menipu Anda sebelumnya ? Mari jangan mau ditipu oleh para Pengemis Like ini. #hoax

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [HOAX] Husain Khudri, Pemuda Sunni Yang Tersenyum Ketika Akan Digantung Syiah Iran

    Sumber: Sosial Media
    Tanggal publish: 30/10/2015

    Berita

    APA yang ada dalam pikiran Anda ketika melihat foto di atas—seorang pemuda yang berada di tiang gantungan, ia melambaikan tangan dan tersenyum?

    Foto ini menceritakan kondisi seorang pemuda Sunni bernama Husain Khudri yang akan menghadapi eksekusi mati di Iran. Ia digantung oleh para Syiah di negeri itu.

    Akan tetapi tidak tampak rasa takut sedikitpun di wajahnya. Ia tersenyum penuh suka cita seakan-akan akan melakukan resepsi pernikahan, padahal yang dihadapi adalah eksekusi hukum gantung.

    Sebelum dieksekusi, ia menyapa keluarganya dengan cara melambaikan tangannya sambil tersenyum riang.

    Husain merupakan aktivis pro-sunni dan aktif menyebarkan dakwah sunni. Ia berasal dari suku Kurdi di Iran dan anggota Partai Kebebasan Kurdistan.

    Oleh tentara Iran ia dituduh sebagai pembunuh dan dieksekusi oleh pemerintah Iran atas tuduhan tersebut. Eksekusi ini dilaksanakan pada tanggal 12 Januari 2012—atau kira-kira satu tahun yang silam.

    Hasil Cek Fakta

    Foto yang menggambarkan seorang pria yang tersenyum sambil melambaikan tangan ketika akan digantung diri dengan sebuah tali menjadi bahan pembicaraan dunia. Masyarakat Indonesia pun tidak ikut ketinggalan mengomentari foto tersebut. Bahkan, foto tersebut diberi deskripsi dengan mengaitkan foto tersebut dengan isu berbau Syiah.

    Dalam pesan bergambar yang dibagikan pada tanggal 26 November 2015, menyebutkan bahwa pria yang difoto itu bernama Husain Khudri. Pemuda itu merupakan aktivis pro-sunni dan aktif menyebarkan dakwah sunni. Ia berasal dari suku Kurdi di Iran dan anggota Partai Kebebasan Kurdistan. Oleh tentara Iran ia dituduh sebagai pembunuh dan dieksekusi oleh pemerintah Iran atas tuduhan tersebut.

    Melalui penelusuran google, ternyata foto itu diambil dari lapangan Teheran, Iran, karena pembunuhan seorang hakim tinggi, yang dianggap sebagai eksekusi publik pertama di ibukota Iran sejak tahun 2002. Dikutip dari bbc.co.uk, pria yang ada di foto tersebut diketahui bernama Majid Kavousifar. Tidak hanya Majid, keponakannya yang bernama Hossein Kavousifar ikut diadili dalam eksekusi itu.

    Kematian Majid dan Hossein Kavousifar terjadi sehari setelah sembilan hiasan umum di bagian lain negara tersebut. Pemerintah mengatakan ini adalah bagian dari upaya besar untuk mengatasi kejahatan kekerasan dan perdagangan narkoba ilegal di Iran. Kelompok hak asasi manusia telah mengkritik Iran karena tingginya jumlah eksekusi yang dilakukan, kedua setelah China.

    Paman dan keponakan tersebut dihukum karena pembunuhan Hakim Hassan Moghaddas di Teheran tengah dua tahun lalu. Eksekusi mereka diadakan di lokasi yang sama dengan pembunuhan tersebut, dan pada tanggal yang sama, di depan sebuah gambaran besar hakim yang terbunuh. Ketika Hossein Kavousifar tampak tertekan saat dia menunggu eksekusi, pamannya memberi isyarat kepadanya dan tersenyum untuk meyakinkannya. Ketika waktunya tiba, hangmen dengan kepala tertutup, meletakkan titik-titik di sekitar leher mereka menendang tinja tempat kedua pria itu berdiri.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • (HOAX) Rokok Marlboro Berisi Ganja

    Sumber: Sosial Media
    Tanggal publish: 30/10/2015

    Berita

    Produsen rokok Phillip Morris mulai menjual jenis rokok yang menggandung ganja atau marijuana. Produk ini dipasarkan dengan jenis “MARLBORO M” dan tersedia di outlet khusus yang berlisensi di negara bagian Colorado dan Wshington DC.

    Hasil Cek Fakta

    dapat dipastikan jika kabar tersebut hanyalah HOAX semata. bantahan juga diberikan oleh salah satu situs yang bergerak dipemberantasan hoax yakni snopes.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • Pinjaman yang Diberikan China Development Bank Dikhawatirkan Menjadi Pintu Masuk Penguasaan China

    Sumber: Detikcom
    Tanggal publish: 29/10/2015

    Berita

    Jakarta – Komisi VI DPR menyoroti pinjaman yang diberikan Bank Pembangunan China (China Development Bank/CBD) kepada tiga bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Pinjaman ini dikhawatirkan menjadi pintu masuk bagi China menguasai perusahaan pelat merah.

    Anggota DPR komisi VI dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Iskandar D. Syaichu, mengatakan menyampaikan hal tersebut saat rapat dengan pendapat (RDP) Komisi VI bersama Kementerian BUMN dan BUMN terkait, di gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta Selatan, Selasa (29/9/2015).

    Tiga bank yang dimaksud adalah PT Bank Mandiri Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI). Para direktur utama (dirut) bank-bank tersebut ikut hadir dalam rapat.

    “Tiga bank ini bukan instrumen tukar guling saham China? Karena publik di luar pun menilai ini jadi salah satu skenario privatisasi tiga bank yang sangat sehat dan saya yakin kondisi dunia hari ini kita tidak akan bisa mendapatkan pinjaman dari negara mana pun. Saya ingin jaminan bahwa ini bukan pintu China menguasai saham-saham tiga bank ini,” katanya.

    Menjawab tuduhan tersebut, Deputi Bidang Jasa Keuangan Kementerian BUMN Gatot Trihargo, menyatakan utang tersebut tidak ada hubungannya dengan saham perusahaan pelat merah.

    “Kita komitmen tidak akan gadaikan negeri ini. Bapak-bapak dirut yang ada di sini hatinya ke merah putih Pak. Jadi tidak ada yang digadaikan. Tidak ada tekanan sama sekali dalam negosiasi. Justru harus kita pandang sebagai kepercayaan negara dunia kepada Indonesia di saat kondisi ekonomi dunia tidak membaik. Tidak ada yang kita jaminkan,” kata Gatot.

    Anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Partai Golkar, Dwie Aroem Hadiatie, ikut bertanya soal kebutuhan modal BUMN dan rencana tambahan modal melalui Penyertaan Modal Negara (PMN).

    “Saat ini berlangsung BUMN-BUMN mengajukan PMN. Di mana PMN itu menyedot uang negara triliunan. Apa jumlah tersebut itu tidak memenuhi pembangunan infrastruktur yang dibutuhkan sehingga harus meminjam (dari China)?” Tanya Dwie.

    “Kita terima kasih sekali kepada pimpinan dan bapak ibu sekalian karena telah memberikan PMN. Dana itu akan masuk sebagai ekuitas BUMN, dan nantinya akan meminjam kepada perbankan. Jadi komposisinya itu 30-70, 70 dari perbankan dan 30 dari BUMN,” jawab Gatot.

    “Yang pasti memang 5 tahun ke depan di RJPP kalau kita lihat pendanaan infrastruktur sangat luar biasa, berarti ada gap yang harus diisi sebesar Rp 335 triliun. Oleh karena itu, Ibu Menteri (BUMN) sudah menyetujui muatan pinjaman untuk meningkatkan infrastruktur dan pinjaman jangka panjang selama 10 tahun. Jadi sangat match dengan proyek infratruktur yang ada, jadi tidak missmatch,” tambah Gatot.

    (ang/ang)

    Hasil Cek Fakta

    KATADATA ? Direksi tiga bank pelat merah memberikan klarifikasi terkait pinjaman senilai US$ 3 miliar atau sekitar Rp 43 triliun kepada Komisi VI DPR. Mereka menjelaskan, pinjaman dari China Development Bank (CDB) tersebut akan dipakai untuk membiayai proyek infrastruktur.

    Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Budi Gunadi Sadikin mengatakan, kebutuhan pendanaan infrastruktur hingga lima tahun ke depan mencapai Rp 5.500 triliun. Dari kebutuhan tersebut, pemerintah paling besar hanya dapat memenuhi setengahnya, sedangkan sisanya akan dibiayai oleh swasta dan badan usaha milik negara (BUMN).

    Budi mengasumsikan 50 persen yang ditanggung swasta dan BUMN mencapai Rp 2.750 triliun atau US$ 187 miliar. Dari porsi tersebut, perbankan biasanya menanggung 70 persen, atau sekitar US$ 130 miliar. Namun, likuiditas perbankan Indonesia saat ini hanya mencapai US$ 27 miliar, sehingga tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Ini yang membuat bank mengambil pinjaman CDB tersebut.

    ?Jadi sebenarnya ada shortfall dalam pembiayaan infrastruktur. Dana pihak ketiga kita Rp 4.300 triliun, penyaluran kredit kita sudah Rp 3.800 triliun. Sisa hanya US$ 27 miliar, padahal kebutuhan tadi US$ 130 miliar,? kata Budi dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR, Selasa (29/9).

    Kendati begitu, dia mengatakan, pinjaman dari CDB tersebut tidak sekonyong-konyong terjadi. Melainkan sudah masuk dalam Rencana Bisnis Bank (RBB) 2015 yang telah disetujui Otoritas Jasa Keuangan (OJK). ?Kami juga telah revisi RBB kami pada Juli kemarin ke OJK,? kata Budi.

    Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) Ahmad Baiquni menjelaskan pinjaman tersebut akan digunakan untuk membantu pembiayaan infrastruktur, terutama pembangunan pembangkit listrik sebesar US$ 860 juta. ?Sisanya ada tol dan pelabuhan laut dengan total US$ 281 juta,? kata Baiquni.

    Deputi Bidang Usaha Jasa Keuangan, Jasa Survei, dan Jasa Konsultasi Kementerian BUMN Gatot Trihargo mengatakan, tidak ada penjualan aset dalam kesepakatan pinjaman tersebut. Sebaliknya, pinjaman tersebut merupakan kepercayaan asing terhadap kondisi ekonomi Indonesia.

    Bahkan, masuknya pinjaman ini akan meningkatkan cadangan devisa untuk memperkuat pasar valuta asing (valas). Pinjaman tersebut seluruhnya menggunakan valas, yakni 70 persen berbentuk dolar Amerika Serikat (AS) dan 30 persen renminbi. ?Ini sebenarnya harus dilihat sebagai sinyal positif,? kata Gatot.

    Ketua Komisi VI Achmad Hafisz Thohir mengatakan, Komisi VI perlu menanyakan motivasi ketiga bank tersebut mendapat pinjamana dari CDB. Klarifikasi ini agar tidak terjadi kesimpang siuran informasi yang disebabkan pinjaman tersebut.

    ?Kami perlu tahu karena ingin memastikan apakah tidak ada yang terjadi dengan APBN apabila hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Lalu bagaimana skemanya,? kata Hafisz.

    Ameidyo Daud

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini