Sejak #sedekahoksigen bergulir, tim menemukan kesulitan dalam mengirimkan barang untuk area Kalimantan. Pengiriman barang yang lama sangat tidak cocok dengan esensi donasi emergensi. Untuk itu, khusus untuk area Palangkaraya, tim #sedekahoksigen mencari alternatif cara untuk menyalurkan donasi.
9 Oktober 2015 : Ide Rumah Oksigen muncul pertama kali di grup WA #sedekahoksigen Kalimantan. Pembawa ide Bunda ZIlah.
10 Oktober 2015 : Bunda Zilah menghubungi keluarganya di Palangkaraya, Bapak Ir. Sriwanto, yang bekerja sebagai PNS Dinas Kehutanan di Palangkaraya, untuk membicarakan alternatif lokasi yang bisa digunakan untuk Rumah Oksigen.
11-20 Oktober 2015 : Tim kontinyuu melakukan diskusi dengan beberapa pihak sehubungan dengan ide pendirian Rumah Oksigen. Syaratnya, pra sarana yang dibutuhkan, kemungkinan kesulitannya, dll. Termasuk mencari relawan dengan background yang tepat untuk membantu mengeksekusi program ini.
21 Oktober 2015 : Dokter Ryan, seorang dokter PNS di Palangkraya, yang menawarkan diri untuk menjadi relawan, bertemu dengan Bapak Ir. Sriwanto dari Dinas Kehutanan kemudian melakukan survey lokasi. Untuk tenaga jaga, pak Sri menghubungkan dokter ryan dg kwarda pramuka untuk membantu tenaga jaga.
22 Oktober 2015 : Jam 7-9 pagi Mbak Ninit, Koordinator Tim #sedekahoksigen Palangkaraya rapat sehubungan dengan pendirian Rumah Oksigen pertama di Palangkaraya. Dokter Ryan, sebagai anggota tim #sedekahoksigen bertugas melakukan survey ulang dan mempersiapkan lokasi yang mungkin menjadi Rumah Oksigen.
22 Oktober 2015 : Siang. Rumah Oksigen 1 mulai beroperasi. Ruangan adalah milik Dinas Kehutanan, dengan ijin dari bapak Ir. Sriwanto . Sewa tabung oksigen sebesar 1.5 juta/tabung, pembelian regulator oksigen serta konsumsi untuk Pramuka yang berjaga di lokasi diambil dari donasi #sedekahksigen. Pihak yang membidani adalah Dokter Ryan. Beliau yang menerima transfer dana dari #sedekahoksigen, menyewa tabung, menghubungi Pramuka sebagai relawan yang menjaga, membuat spanduk biru yang dipasang di bagian pagar depan Mess Rimbawan serta tetap berkoordinasi dengan koordinator tim #sedekahoksigen Palangkaraya dalam menyediakan makanan bagi pramuka.
22 Oktober 2015 : Malam. Rumah Oksigen 2 dan 3, beralamat di Jalan Tingang dan wisma BKKBN mulai beroperasi. Mba Ninit, pada malam hari mengantar makanan untuk Pramuka yang bertugas berjaga.
23 Oktober 2015 : Pagi. Muncul berita di koran sehubungan dengan langkah-langkah yang dilakukn pemerintah setempat untuk menghadapi bencana asap. Salah satu poin dalam berita itu adalah pemerintah membangun Rumah Oksigen di 3 titik salah satunya di mess rimbawan yg diakui sebagai kerjasama antara Dishut, BKKBN dan Pramuka. Tim #sedekahoksigen tidak disebut di dalam berita itu.
23 Oktober 2015 : Jam 15.00 Mbak Ninit mendatangi Rumah Oksigen 1 di Mess Rimbawan, menemui berapa orang yang memakai oksigen dan menunjukkan terima kasih atas gerakan #sedekahoksigen.
23 Oktober 2015 : Jam 17.00 Mbak Rinny Ermiyanti mendapatkan kiriman gambar via WA, tentang adanya spanduk di pagar depan Mess Rimbawan. Spanduk bertuliskan RUMAH SINGGAH KESEHATAN dengan berbagai logo yang belum pernah bekerja sama dengan tim #sedekahoksigen, terpampang di depan Rumah Oksigen 1. Mb Rinny melakukan klarifkasi via grup WA dengan tim #sedekahoksigen, yang kemudian dalam proses klarifikasi itu beberapa anggota tim mengungkapkan kekecewaannya di media sosial serta membuat kolase foto yang berhubungan dengan keberadaan 2 spanduk berbeda. Foto dan ungkapan kekecewaan ini yang kemudian tersebar di medsos.
23 Oktober 2015 : Kurang lebih di waktu yang sama, saya mendapatkan share di TL tentang berita kedatangan menteri ke Palangkaraya. Diberitakan bahwa kementrian menyatakan mendirikan 3 shelter untuk para warga singgah dan mendapatkan oksigen gratis. Malamnya, salah seorang relawan kami yang sudah beberapa minggu mengumpulkan donasi untuk #sedekahoksigen, mbak Yuni Arshafa melakukan klarifikasi di page tersebut. Mempertanyakan konten berita 3 shelter dengan menyebutkan alamat 3 Rumah Oksigen kami dan memberitahukan soal keberadaan Rumah Oksigen tersebut sebagai hasil gerakan #sedekahoksigen, bukan hasil kerja kemenkes. Klarifikasi tidak mendapatkan jawaban.
23 Oktober 2015 : 20.00. Tim inti #sedekahoksigen memutuskan akan mencabut semua spanduk yang memiliki tulisan #sedekahoksigen dari Rumah Oksigen dan akan mulai membangun Rumah Oksigen lain di tempat2 baru dengan pemilik rumah independen yang bersedia bermitra dengan #sedekahoksigen. Bunda zilah juga menghubungi Pak Sriwanto untuk menanyakan soal spanduk. Pak Sriwanto menyatakan tidak tahu menahu soal spanduk, tidak ada instruksi dari beliau soal spanduk, bahkan beliau berada di Banjarmaain saat itu. Pada saat yang sama tim mengirim orang ke lokasi untuk memastikan apakah spanduk masih terpasang. Hasilnya spanduk masih terpasang pada sekitar pukul 20.30.
23 Oktober 2015 : 22.00. Dokter Ryan setelah selesai praktek mendatangi Mess Rimbawan dan meminta bantuan Pramuka yang berjaga untuk mencabut 2 spanduk yang ada di pagar. Kemudian memasan 1 spanduk baru di bagian atas. Desain spanduk 1 dan 2 dengan #sedekahoksigen, semua dilakukan oleh Dokter Ryan. Tim inti #sedekahoksigen mendapatkan gambaran spanduknya setelah jadi, dipasang dan difoto, dikirimkan via WA.
23 Oktober 2015 : 00.00. Septiyawacana, seorang teman yang tinggal di Palangkaraya, menyediakan diri untuk melihat di lokasi. Menurut laporan, 2 spanduk sudah tidak ada, hanya ada 1 spanduk di bagian atas Mess.
Tim #sedekahoksigen tidak mempermasalahkan soal spanduk atau pilihan untuk bersinergi. Justru sebagai gerakan masyarakat, saya menyambut dengan sangat senang semua uluran tangan sinergi dari berbagai pihak. Namun sebagai pihak yang dipercayai oleh ratusan donatur, tim #sedekahoksigen merasa wajib melakukan klarifikasi lewat laporan kronologis ini, demi memastikan hak para donatur atas transparansi penggunaan dana yang telah mereka berikan kepada kami. Tim #sedekahoksigen juga berusaha semaksimal mungkin untuk tidak membuka celah bagi aktivitas yang tidak etis dalam bersinergi dengan pihak-pihak di luar kami.
Demikian kronologis insiden ini disusun dengan harapan bisa menjadi acuan bagi semua pihak dalam menyajikan data atau opini. Harapan akhirnya adalah segala aktivitas yang ada lebih banyak menjadi manfaat dan bukan menjadi sumber fitnah bagi pihak-pihak yang terlibat.
Terakhir, kami menginisiasi gerakan ini atas dasar sukarela bukan mencari untung atau pun panggung, ini murni masalah kemanusiaan. Sebagian besar anggota relawan #sedekahoksigen adalah para ibu yang berempati terhadap apa yang dihadapi saudara-saudaranya di daerah terpapar asap. Kami, mendapat amanah dari para donatur yang harus kami pertanggungjawabkan. Bentuk tanggung jawab itu salah satunya adalah memberitakan semua yang kami sudah lakukan.
Klarifikasi ini hanya pemaparan kronologis, bukan mencari siapa salah siapa benar. Dalam kondisi semacam ini, saling tuding, saling klaim tidak lah memberi jalan keluar bagi mereka, yang berharap mendapatkan udara bersih. Mari bersatu dalam membantu saudara-saudara kita ini, bukan kemudian berebut panggung yang tak perlu.
Kronologis Insiden RSO 1 Palangkaraya
Sumber: www.facebook.comTanggal publish: 25/10/2015
Hasil Cek Fakta
Rujukan
[HOAX] Tokoh ISIS Syaikh Al Arifi Datang ke Masjid Istiqlal
Sumber: Sosial MediaTanggal publish: 24/10/2015
Berita
rencana tablig akbar 17 januari 2016 di masjid istiqlal, dengan mengundang tokoh ISIS, harus ditolak . NKRI jangan dijadikan sarang pengungsi ISIS, yang lari dari suriah dan irak.
Hasil Cek Fakta
Rencana kedatangan dai Syekh Muhammad Al ‘Arifi asal Saudi tersebut ke Indonesia ramai diperbincangkan di media sosial. Bahkan, ada imbauan melalui jejaring sosial agar Masjid Istiqlal menolak kedatangan Al ‘Arifi. Alasannya, dia diduga merupakan dai pendukung kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Menurut kabar yang berembus di media sosial, Al ‘Arifi akan menyampaikan tausiah di Masjid Istiqlal pada 17 Januari 2016.
Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta, KH Ali Mustafa Ya’kub, mengatakan, Masjid Istiqlal belum menerima surat resmi permohonan izin ceramah dai asal Arab Saudi, Syekh Muhammad Al ‘Arifi. Untuk memberikan izin kepada penceramah atau dai dari luar negeri, Masjid Istiqlal berpatokan pada surat rekomendasi dari Kementerian Agama (Kemenag).
Dikutip dari republika.co.id, “Sampai saat ini, karena belum ada rekomendasi dari Kemenag, Istiqlal belum bisa mengatakan akan melaksanakan. Belum terkonfirmasi ke sini. Artinya, kita belum berani melaksanakan,” ujar Ali Mustafa, di Jakarta, Selasa (24/11).
Menurut Ali Mustafa, Masjid Istiqlal tidak pernah mengundang dai dari luar negeri untuk berceramah di masjid kebanggaan bangsa Indonesia ini. Biasanya, ada yayasan di Indonesia yang ingin menampilkan seseorang lalu meminjam tempat di Masjid Istiqlal. Artinya, Masjid Istiqlal tidak mengundang melainkan hanya memberi izin atau tidak.
Ia sendiri mengaku bingung terkait tersebarnya kabar di media sosial bahwa dai tersebut akan berceramah di Istiqlal. “Padahal, belum terkonfirmasi ke pengurus masjid.”
Saat dikonfirmasi mengenai hal ini, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas Islam) Kemenag Machasin menyatakan belum menerima surat resmi dari pihak yang mengundang dai asal Arab Saudi itu.
“Setahu saya belum ada permintaan dari panitia. Biasanya kalau ada yang menyurati kami, lalu akan saya periksa. Kalau memang ada catatan atau apa, tidak kita berikan izin,” ujar dia.
Ia menjelaskan, untuk mendatangkan dai atau penceramah dari luar negeri biasanya panitia akan melapor terlebih dahulu ke kepolisian dengan menyertakan surat rekomendasi dari Ditjen Bimas Islam Kemenag. Meski sudah ada surat rekomendasi dari Kemenag, kata Machasin, belum tentu pihak kepolisian memberikan izin, terutama jika ditemukan catatan dari pihak imigrasi ataupun Badan Intelijen Negara.
“Rekomendasi dari Kemenag hanya salah satu persyaratan untuk memperoleh izin,” kata Machasin.
Jika telah memperoleh surat dari pihak pengundang, jelas dia, Kemenag akan mengkaji apakah kehadiran dai asal Arab Saudi itu menimbulkan masalah atau tidak. Jika dinilai tidak menimbulkan masalah, Kemenag akan memberikan izin. Namun sebaliknya, jika dinilai berpotensi menimbulkan masalah maka tidak akan diberikan izin.
Menurut dia, pemberian izin ini akan menyangkut banyak hal, termasuk kredibilitas Kemenag. “Kalau yang diberi izin menimbulkan masalah, kita kena juga,” katanya.
Disangka Dukung ISIS
Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Ustaz Bachtiar Nasir menilai ada kesalahan informasi yang beredar di masyarakat terkait ideologi Al Arifi. Menurutnya, ulama asal Arab Saudi tersebut adalah orang yang sangat memerangi ISIS dengan sangat tegas.
“Salah besar, saya pikir ini ada kesalahpahaman. Dai Al-Arifi adalah dai yang sangat santun, datang kesini untuk sebuah misi persatuan dan kedamaian,” ujar Ustaz Bachtiar Nasir saat dihubungi Republika.co.id, Senin (23/11).
Ustaz Bachtiar Nasir bahkan mendukung kedatangan Al-Arifi untuk memberikan ceramah di masjid Istiqlal. Sebelum Indonesia, menurutnya, Al-Arifi bahkan diterima dengan baik oleh masyarakat Muslim di negara-negara lain seperti Timur Tengah, Amerika dan Eropa.
“Justru kalau ini terekspos akan merusak citra Indonesia. Ini hanya masalah perbedaan cara pandang yang bukan termasuk masalah-masalah fundamental,” kata Ustaz Bachtiar Nasir.
Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta, KH Ali Mustafa Ya’kub, mengatakan, Masjid Istiqlal belum menerima surat resmi permohonan izin ceramah dai asal Arab Saudi, Syekh Muhammad Al ‘Arifi. Untuk memberikan izin kepada penceramah atau dai dari luar negeri, Masjid Istiqlal berpatokan pada surat rekomendasi dari Kementerian Agama (Kemenag).
Dikutip dari republika.co.id, “Sampai saat ini, karena belum ada rekomendasi dari Kemenag, Istiqlal belum bisa mengatakan akan melaksanakan. Belum terkonfirmasi ke sini. Artinya, kita belum berani melaksanakan,” ujar Ali Mustafa, di Jakarta, Selasa (24/11).
Menurut Ali Mustafa, Masjid Istiqlal tidak pernah mengundang dai dari luar negeri untuk berceramah di masjid kebanggaan bangsa Indonesia ini. Biasanya, ada yayasan di Indonesia yang ingin menampilkan seseorang lalu meminjam tempat di Masjid Istiqlal. Artinya, Masjid Istiqlal tidak mengundang melainkan hanya memberi izin atau tidak.
Ia sendiri mengaku bingung terkait tersebarnya kabar di media sosial bahwa dai tersebut akan berceramah di Istiqlal. “Padahal, belum terkonfirmasi ke pengurus masjid.”
Saat dikonfirmasi mengenai hal ini, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas Islam) Kemenag Machasin menyatakan belum menerima surat resmi dari pihak yang mengundang dai asal Arab Saudi itu.
“Setahu saya belum ada permintaan dari panitia. Biasanya kalau ada yang menyurati kami, lalu akan saya periksa. Kalau memang ada catatan atau apa, tidak kita berikan izin,” ujar dia.
Ia menjelaskan, untuk mendatangkan dai atau penceramah dari luar negeri biasanya panitia akan melapor terlebih dahulu ke kepolisian dengan menyertakan surat rekomendasi dari Ditjen Bimas Islam Kemenag. Meski sudah ada surat rekomendasi dari Kemenag, kata Machasin, belum tentu pihak kepolisian memberikan izin, terutama jika ditemukan catatan dari pihak imigrasi ataupun Badan Intelijen Negara.
“Rekomendasi dari Kemenag hanya salah satu persyaratan untuk memperoleh izin,” kata Machasin.
Jika telah memperoleh surat dari pihak pengundang, jelas dia, Kemenag akan mengkaji apakah kehadiran dai asal Arab Saudi itu menimbulkan masalah atau tidak. Jika dinilai tidak menimbulkan masalah, Kemenag akan memberikan izin. Namun sebaliknya, jika dinilai berpotensi menimbulkan masalah maka tidak akan diberikan izin.
Menurut dia, pemberian izin ini akan menyangkut banyak hal, termasuk kredibilitas Kemenag. “Kalau yang diberi izin menimbulkan masalah, kita kena juga,” katanya.
Disangka Dukung ISIS
Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Ustaz Bachtiar Nasir menilai ada kesalahan informasi yang beredar di masyarakat terkait ideologi Al Arifi. Menurutnya, ulama asal Arab Saudi tersebut adalah orang yang sangat memerangi ISIS dengan sangat tegas.
“Salah besar, saya pikir ini ada kesalahpahaman. Dai Al-Arifi adalah dai yang sangat santun, datang kesini untuk sebuah misi persatuan dan kedamaian,” ujar Ustaz Bachtiar Nasir saat dihubungi Republika.co.id, Senin (23/11).
Ustaz Bachtiar Nasir bahkan mendukung kedatangan Al-Arifi untuk memberikan ceramah di masjid Istiqlal. Sebelum Indonesia, menurutnya, Al-Arifi bahkan diterima dengan baik oleh masyarakat Muslim di negara-negara lain seperti Timur Tengah, Amerika dan Eropa.
“Justru kalau ini terekspos akan merusak citra Indonesia. Ini hanya masalah perbedaan cara pandang yang bukan termasuk masalah-masalah fundamental,” kata Ustaz Bachtiar Nasir.
Rujukan
Pria Bojonegoro meninggal karena mendengar musik dari HP nya sambil tidur & korslet.
Sumber: www.whatsapp.comTanggal publish: 24/10/2015
Berita
Bantu share sebanyak banyak nya agar jadi pelajaran bagi kita semua.
Seorang pria di Bojonegoro meninggal akibat menggunakan Hp.
Dia mendengar musik pakai Handset, saat Hpnya di Charge dan ketiduran.
Arus Listrik masuk melalui telinga sampai ke sekujur tubuhnya. Kulitnya meletup letup sampai membentuk lubang2 di seluruh tubuh nya…
Sekali lagii, jangan pernah gunakan Hp saat sedang di charge sepenting apapun keadaannya karena ini bisa mengancam keselamatan.
Seorang pria di Bojonegoro meninggal akibat menggunakan Hp.
Dia mendengar musik pakai Handset, saat Hpnya di Charge dan ketiduran.
Arus Listrik masuk melalui telinga sampai ke sekujur tubuhnya. Kulitnya meletup letup sampai membentuk lubang2 di seluruh tubuh nya…
Sekali lagii, jangan pernah gunakan Hp saat sedang di charge sepenting apapun keadaannya karena ini bisa mengancam keselamatan.
Hasil Cek Fakta
Penjelasan: Foto yang disematkan tidak ada kaitannya dengan isi narasi pesan tersebut. Foto yang digunakan ialah foto kejadian kekerasan terhadap demostran Sikh di Punjab, India.
Rujukan
Kebakaran Hutan di Kalimantan Tengah
Sumber: www.facebook.comTanggal publish: 23/10/2015
Berita
Narasinya berupa pertanyaan dari akun Ilva Nora Paytren disertai video dari Fanpage BBC Indonesia.
Hasil Cek Fakta
Kebakaran hutan memang terjadi di Palangkaraya, Kalimantan Tengah pada bulan Oktober 2015. Link pada postingan video tersebut mengarah kepada pemberitaan yang dimuat di laman BBC Indonesia,
Rujukan
Halaman: 8318/8347



