• Keliru, Trump, Jensen Huang, dan Elon Musk Gabung Partai Komunis

    Sumber:
    Tanggal publish: 21/05/2026

    Berita

    tirto.id - Beredar di media sosial Facebook unggahan yang mengklaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump, CEO Nvidia Jensen Huang, dan CEO Tesla, pendiri SpaceX, Elon Musk bersumpah untuk bergabung dengan Partai Komunis.

    Unggahan tersebut disebarkan oleh akun Facebook bernama “Sunlie Thomas Alexander” (arsip) pada Jumat (15/05/2026). Unggahan tersebut memperlihatkan foto Trump, Jensen Huang, dan Elon Musk dengan latar belakang bendera komunis.

    let gpt_inline2 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline2.cmd.push(function() {gpt_inline2.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-2', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline2-passback').addService(gpt_inline2.pubads());gpt_inline2.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline2.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline2.enableServices();gpt_inline2.display('gpt-inline2-passback');});

    “HIDUP PARTAI KOMUNIS! 共产党万岁万万岁✊✊🇨🇳 "特朗普 黄仁勋 马斯克宣誓加入中国共产党" artinya "Trump, Jensen Huang, dan Musk bersumpah untuk bergabung dengan Partai Komunis Tiongkok".” Begitu narasi tertulis dalam unggahan.

    let gpt_inline3 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline3.cmd.push(function() {gpt_inline3.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-3', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline3-passback').addService(gpt_inline3.pubads());gpt_inline3.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline3.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline3.enableServices();gpt_inline3.display('gpt-inline3-passback');});

    #gpt-inline3-passback{text-align:center;}

    Sampai artikel ini ditulis pada Kamis (21/05/2026), unggahan tersebut telah mendapatkan 14 tanda suka dan banyak akun media sosial lainnya yang menyebarkan klaim serupa.

    let gpt_inline4 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline4.cmd.push(function() {gpt_inline4.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-4', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline4-passback').addService(gpt_inline4.pubads());gpt_inline4.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline4.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline4.enableServices();gpt_inline4.display('gpt-inline4-passback');});

    #gpt-inline4-passback{text-align:center;}

    Tirto juga menemukan unggahan serupa pada akun Instagram @politicaljokesid dan akun X @PolJokesID yang mengunggah gambar serupa dengan ditambahkan narasi: “Sosialisme dengan Karakteristik Amerika Serikat.”

    Lantas, bagaimana kebenaran klaim tersebut?

    Baca juga:Trump dan Keluarga Dibebaskan dari Audit Pajak, Oposisi Mengecam

    periksa fakta Partai Komunis Cina

    Hasil Cek Fakta

    Untuk memverifikasi klaim tersebut, pertama-tama Tirto melakukan pencarian gambar terbalik (reverse image) untuk menemukan gambar asli. Hasil penelusuran mengarah pada laman Kompas yang menyatakan unggahan tersebut adalah tangkapan layar konten manipulatif di sebuah akun Facebook yang mengklaim Trump, Huang, dan Musk bergabung dengan Partai Komunis China.

    Dalam laman Kompas, Trump mengajak belasan pebisnis dan eksekutif industri teknologi AS untuk berkunjung ke China pada pertengahan Mei 2026, termasuk Elon Musk. Namun, foto Trump, Huang, dan Musk yang bergabung dengan Partai Komunis China merupakan konten manipulatif yang dibuat menggunakan AI. Selama kunjungan ke China, mereka tidak pernah memakai setelan seragam seperti dalam foto.

    Lebih lanjut, kami menemukan kejanggalan pada foto yang beredar di mana fokus ketiga orang tersebut menuju ke arah yang berbeda dengan ekspresi datar dan tidak natural, yang memperkuat kesimpulan bahwa gambar tersebut dihasilkan oleh AI.

    Untuk memastikannya, kami menggunakan situs Truth Scan untuk mengetahui persentase penggunaan AI dalam gambar. Hasil analisis menunjukkan bahwa foto tersebut memiliki probabilitas 94 persen sebagai hasil manipulasi AI.

    Senada dengan hal tersebut, Snopes, dan Lead Stories menyatakan bahwa gambar yang beredar mengklaim sumpah Trump, Jensen Huang dan Elon Musk bergabung dengan partai komunis tersebut palsu. Tidak ada foto otentik yang menunjukkan ketiga pria tersebut berpose di depan bendera ini.

    Lebih lanjut, Tirto mengetikkan kata kunci “Trump, Jensen Huang dan Elon Musk di China” pada mesin pencarian Google. Hasilnya mengarah pada laman CNN Indonesia, CEO Nvidia, Jensen Huang, dan pemimpin Tesla, Elon Musk, berada dalam pesawat Air Force One yang menerbangkan Trump dan rombongan dari Washington ke Beijing, Selasa (12/5).

    Trump mengatakan para petinggi perusahaan tersebut datang untuk membangun hubungan bisnis sekaligus menunjukkan penghormatan kepada China.

    “Kami punya orang-orang luar biasa dan mereka semua bersama saya,” begitu keterangan Trump saat memberikan sambutan pembuka dalam pertemuannya dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing, Kamis (14/5/2026), melansir CNN.

    Presiden AS Donald Trump, CEO Nvidia Jensen Huang, dan CEO Tesla/SpaceX Elon Musk mengunjungi China untuk menghadiri pertemuan tingkat tinggi dengan Presiden Xi Jinping dan Perdana Menteri Li Qiang guna memperbaiki hubungan ekonomi, menegosiasikan kesepakatan dagang baru, dan membahas persaingan teknologi serta kecerdasan buatan (AI).

    Menurut Trump, para pengusaha tersebut berharap hubungan dagang dan bisnis antara AS dan China bisa semakin berkembang.

    “Mereka ada di sini untuk menghormati Anda dan China. Mereka menantikan perdagangan dan bisnis, dan semuanya akan berjalan timbal balik untuk kepentingan kami,” kata Trump.

    Melansir laman The White House, kunjungan Trump menghasilkan sejumlah kesepakatan di bidang pertanian, industri, pekerja, hingga investasi. Namun, tidak ada pembahasan mengenai bergabungnya Trump dan pebisnis AS menjadi anggota Partai Komunis China.

    Pertemuan di Beijing tersebut berfokus pada tiga agenda utama: Donald Trump menegosiasikan pembukaan akses pasar China bagi perusahaan Amerika Serikat sekaligus mengamankan komitmen pembelian massal minyak mentah AS dan pesawat Boeing; Jensen Huang (Nvidia) berfokus melonggarkan kontrol ekspor teknologi agar dapat menjual chip canggih dan perangkat AI ke pasar domestik China; sementara Elon Musk (Tesla) mengupayakan izin regulasi untuk penggunaan sistem mengemudi otonom penuh (Full Self-Driving/FSD) serta membahas keberlanjutan investasi pabrik Gigafactory di Shanghai.

    Dalam pertemuan tersebut, Trump, Jensen Huang, dan Elon Musk tidak pernah menggunakan dasi merah dan berfoto bersama dengan latar belakang bendera Partai Komunis. Sampai artikel ini ditulis, tidak ditemukan informasi dari media kredibel yang membenarkan klaim bahwa mereka bersumpah untuk bergabung dengan Partai Komunis.

    Baca juga:Harga Minyak Melandai usai Trump Janji Perang Iran Segera Usai

    Kesimpulan

    Berdasarkan hasil penelusuran fakta, klaim yang menyatakan bahwa Trump, Jensen Huang, dan Elon Musk bersumpah untuk bergabung dengan Partai Komunis adalah salah dan menyesatkan (false and misleading).

    Hasil analisis menunjukkan bahwa gambar yang beredar terindikasi kuat merupakan hasil rekayasa teknologi kecerdasan buatan (AI).

    Pertemuan antara Presiden AS Donald Trump, CEO Tesla Elon Musk, dan CEO Nvidia Jensen Huang di China pada 12 hingga 15 Mei 2026 menghasilkan sejumlah kesepakatan dan tidak ada pembahasan mengenai bergabungnya Trump dan pebisnis AS menjadi anggota Partai Komunis China.

    ==

    Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.

    Rujukan

    • Tirto.id
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • Hoaks, Video Penyanyi Alami Kematian Mendadak Setelah Vaksin

    Sumber:
    Tanggal publish: 21/05/2026

    Berita

    tirto.id - Beredar sebuah video di media sosial Facebook yang mengklaim seorang penyanyi yang sedang manggung tiba-tiba meninggal atau mengalami sudden death yang disebut terjadi semakin marak setelah mandatori vaksin.

    Unggahan tersebut disebarkan oleh akun Facebook bernama “Jefri Papahnya Aqiela” (arsip) pada Rabu (11/03/2026). Video tersebut menampilkan seorang penyanyi perempuan yang tiba-tiba terjatuh ke lantai di tengah penampilannya.

    let gpt_inline2 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline2.cmd.push(function() {gpt_inline2.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-2', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline2-passback').addService(gpt_inline2.pubads());gpt_inline2.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline2.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline2.enableServices();gpt_inline2.display('gpt-inline2-passback');});

    “Seharusnya yang disebut "Kejadian Luar Biasa" atau KLB itu adalah peristiwa kasusnya seperti dalam video ini, yakni Sudden Death atau mati mendadak tanpa tanda dan gejala sakit. Mengapa? Karena kejadiannya nyata dan fakta, terjadi di mana-mana, dan setiap hari terjadi peristiwanya. Di bawah tahun 2020, kematian mendadak itu dalam setahun bisa dihitung jari kasusnya dalam 1 tahun, tapi semenjak mandatori vaksin imunisasi diberlakukan, kematian mendadak malah lebih sering terjadi dalam 1 tahun.” Begitu klaim dituliskan dalam keterangan unggahan.

    let gpt_inline3 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline3.cmd.push(function() {gpt_inline3.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-3', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline3-passback').addService(gpt_inline3.pubads());gpt_inline3.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline3.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline3.enableServices();gpt_inline3.display('gpt-inline3-passback');});

    #gpt-inline3-passback{text-align:center;}

    “Wake up, that’s normal for f*cksinated,” begitu narasi dalam video.

    let gpt_inline4 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline4.cmd.push(function() {gpt_inline4.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-4', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline4-passback').addService(gpt_inline4.pubads());gpt_inline4.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline4.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline4.enableServices();gpt_inline4.display('gpt-inline4-passback');});

    #gpt-inline4-passback{text-align:center;}

    Sampai artikel ini ditulis pada Selasa (19/05/2026), unggahan tersebut telah mendapatkan 74 likes, 5 komentar, 15 kali dibagikan, dan 2,8 ribu kali ditayangkan.

    Lantas, bagaimana kebenaran klaim tersebut?

    Baca juga:Hoaks, Hantavirus Efek Samping dari Vaksin Pfizer

    Periksa Fakta kematian setelah vaksin. foto/Hotline periksa fakt tirto

    Hasil Cek Fakta

    Untuk memverifikasi klaim tersebut, pertama-tama Tirto melakukan pencarian gambar terbalik (reverse image) untuk menemukan gambar asli. Hasil penelusuran mengarah pada YouTube GMA News, yang menampilkan video identik dengan penyanyi yang sama.

    “Tanghalan ng Kampeon’ defending champ collapses mid-performance on Tiktoclock | GMA Integrated News.” Begitu dikutip pada judul video asli tersebut.

    Dari video tersebut diketahui bahwa acara tersebut yaitu TiktoClock, sebuah acara varietas yang ditayangkan di GMA Network, yang menampilkan berbagai segmen termasuk kompetisi bakat seperti Tanghalan ng Kampeon.

    Penyanyi dalam gambar tersebut adalah Eula Bautista, seorang finalis dan juara bertahan tujuh kali di ajang kompetisi menyanyi Filipina bernama "Tanghalan ng Kampeon" (segmen dari acara TiktoClock di stasiun TV GMA Network). Insiden pingsannya terjadi secara langsung di panggung saat ia sedang membawakan lagu pada bulan Maret 2026.

    Melansir GMA News Online, Eula Bautista kini dalam kondisi baik setelah pingsan saat segmen “TiktoClock”, “Tanghalan ng Kampeon,” pada hari Selasa (10/3/2026).

    Dalam laporan Nelson Canlas di “24 Oras,” hari Rabu, penyanyi tersebut memberikan kabar terbaru tentang kesehatannya dan apa yang dirasakannya beberapa saat sebelum pingsan.

    Menurut Eula, petugas medis mengatakan bahwa ia pingsan karena kekurangan oksigen.

    “Petugas medis mengatakan itu karena kekurangan oksigen, mungkin karena korset yang saya kenakan,” kata Eula, menambahkan bahwa ia mengenakannya selama lebih dari lima jam, dimulai dari latihan panggung.

    “Saya ingin melihat seperti apa penampilan saya di TV. Saya sudah berlatih sebelumnya. Itu hanya latihan panggung. Saya mengenakan sepatu hak enam inci. Saya mengenakan korset. Saya mengenakan gaun. Bahkan selama latihan satu lawan satu dengan pelatih, saya masih mengenakan korset dan selama itulah saya mengenakannya.”

    Eula sejak itu telah menjalani beberapa tes untuk memastikan kesehatannya baik, termasuk elektrokardiogram (EKG) dan rontgen.

    “Besok, saya juga akan berkonsultasi dengan psikiater hanya untuk memastikan semuanya baik-baik saja,” katanya.

    Senada dengan hal tersebut, dalam laman Inquirer.net, Eula Bautista mengatakan bahwa ia pingsan di tengah penampilannya setelah mengalami kekurangan oksigen karena gaun korset yang dikenakannya.

    “TiktoClock contestant Eula Bautista said she blacked out in the middle of her performance after she suffered from “lack of oxygen” due to her corset dress.” Begitu dikutip pada Induirer.net pada Selasa (19/05/2026).

    Dengan demikian, klaim yang menyebutkan Eula meninggal mendadak karena vaksin adalah tidak benar dan tidak didukung fakta ilmiah. Faktanya, Eula hanya pingsan karena kekurangan oksigen akibat pakaian yang dikenakannya ketika di atas panggung.

    Artikel Tirto berjudul “Tidak Benar, Vaksin COVID Sebabkan Kematian Mendadak,” menyatakan bahwa vaksin COVID tidak terkait dengan risiko kematian mendadak. Data menunjukkan bahwa orang muda dan sehat tidak memiliki risiko tambahan kematian mendadak jika divaksinasi COVID-19.

    Sebagian besar otoritas kesehatan seperti CDC tetap menyatakan bahwa manfaat vaksin COVID-19 jauh lebih besar daripada risikonya. Vaksin ini dianggap aman secara medis dan dapat mengurangi risiko tertular virus COVID-19, sehingga mampu menjadi proteksi dari potensi komplikasi yang mungkin timbul akibat virus tersebut.

    Senada dengan itu, kepada Tirto dr. Andreas Wilson Setiawan, M. Kes., Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Kedokteran Universitas Dian Nuswantoro, menegaskan bahwa memang benar terdapat efek samping langka berupa miokarditis (radang otot jantung) yang lebih sering terjadi pada laki-laki muda setelah vaksin mRNA.

    Namun, penting dipahami bahwa kasusnya sangat jarang menyebabkan komplikasi berat dan umumnya ringan serta akan sembuh sendiri. Sebaliknya, infeksi COVID-19 justru lebih berisiko menyebabkan miokarditis yang lebih berat dibandingkan dengan vaksin.

    Dokter Andreas Wilson Setiawan, M. Kes., menegaskan bahwa hingga saat ini, berbagai studi besar menunjukkan tidak ada peningkatan risiko kematian mendadak setelah vaksinasi dan tidak ditemukan hubungan sebab-akibat antara vaksin dan kematian jantung pada orang sehat.

    “Pada beberapa penelitian, orang yang divaksin malah memiliki risiko kematian lebih rendah. Klaim bahwa vaksin menyebabkan kematian mendadak bertahun-tahun kemudian tidak terbukti secara ilmiah,” begitu jelas dr. Andreas.

    Baca juga:Tidak Benar, Vaksin TBC Mengandung Nanobots

    Kesimpulan

    Berdasarkan hasil penelusuran fakta, klaim yang menyatakan bahwa video yang beredar mengklaim Eula meninggal secara mendadak di atas panggung karena vaksin adalah salah dan menyesatkan (false and misleading).

    Eula menegaskan, dirinya kekurangan oksigen hingga pingsan karena pakaian yang dikenakannya. Eula juga mengonfirmasi keadaannya baik-baik saja setelah diperiksa dokter. Jadi, Eula tidak meninggal seperti klaim yang beredar.

    Klaim yang menyatakan bahwa vaksin COVID-19 dapat menyebabkan kematian mendadak pada orang dewasa atau Sudden Adult Death Syndrome - juga sering disebut Sudden Arrhythmic Death Syndrome - (SADS) di kalangan dewasa muda dan atlet setelah bertahun-tahun penyuntikan adalah tidak benar.

    Vaksin COVID tidak terkait dengan risiko kematian mendadak. Data menunjukkan bahwa orang muda dan sehat tidak memiliki risiko tambahan kematian mendadak jika divaksinasi COVID-19.

    ==

    Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat men

    Rujukan

    • Tirto.id
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • Salah, Larangan Guru Non ASN Mengajar di Sekolah Negeri

    Sumber:
    Tanggal publish: 21/05/2026

    Berita

    tirto.id - Sebuah unggahan beredar di media sosial Facebook mengklaim adanya kebijakan terkait guru non ASN (Aparatur Sipil Negara) atau honorer tidak lagi diperbolehkan mengajar di sekolah negeri mulai tahun 2027.

    Unggahan tersebut dibagikan oleh akun Facebook bernama “Nurrmah Sitt” (arsip) pada Rabu (13/05/2026). Dalam unggahan tersebut memperlihatkan gambar seorang guru memakai seragam tengah duduk di kelas dan mengajar anak-anak dengan wajah menunduk.

    let gpt_inline2 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline2.cmd.push(function() {gpt_inline2.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-2', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline2-passback').addService(gpt_inline2.pubads());gpt_inline2.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline2.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline2.enableServices();gpt_inline2.display('gpt-inline2-passback');});

    “RESMI!! GURU NON-ASN DILARANG MENGAJAR DI SEKOLAH NEGERI MULAI TAHUN 2027. TUAI BANYAK SOROTAN!!” Begitu narasi tertulis dalam gambar.

    let gpt_inline3 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline3.cmd.push(function() {gpt_inline3.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-3', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline3-passback').addService(gpt_inline3.pubads());gpt_inline3.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline3.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline3.enableServices();gpt_inline3.display('gpt-inline3-passback');});

    #gpt-inline3-passback{text-align:center;}

    Pengunggah juga menambahkan keterangan: “Kebijakan terkait guru non-ASN atau honorer kembali menjadi sorotan publik setelah muncul informasi bahwa mulai tahun 2027 guru non-ASN tidak lagi diperbolehkan mengajar di sekolah negeri. Informasi tersebut ramai dibahas di media sosial dan memicu kekhawatiran di kalangan tenaga honorer di berbagai daerah.

    let gpt_inline4 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline4.cmd.push(function() {gpt_inline4.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-4', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline4-passback').addService(gpt_inline4.pubads());gpt_inline4.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline4.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline4.enableServices();gpt_inline4.display('gpt-inline4-passback');});

    #gpt-inline4-passback{text-align:center;}

    Dalam unggahan yang beredar, disebutkan bahwa pemerintah tengah menyiapkan penataan tenaga pendidik melalui skema ASN, baik PPPK maupun CPNS. Masa transisi disebut berlangsung hingga akhir tahun 2026 sebelum aturan baru diterapkan secara penuh.

    Anggota DPR RI dari Fraksi Gerindra, Azis Subekti, turut menyoroti persoalan tersebut. Ia menegaskan bahwa guru non-ASN selama ini bukan sekadar tenaga sementara, melainkan bagian penting yang menopang sistem pendidikan nasional, terutama di daerah yang masih kekurangan guru ASN.

    Menurutnya, persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan administrasi kepegawaian, tetapi juga menyangkut rasa keadilan bagi para guru honorer yang telah bertahun-tahun mengajar dengan pendapatan terbatas dan status yang belum pasti.

    Saat ini diperkirakan terdapat sekitar 1,6 juta guru honorer di Indonesia. Banyak diantaranya menjadi penopang utama kegiatan belajar mengajar, khususnya di wilayah pelosok yang masih minim tenaga pendidik ASN.

    Pemerintah sendiri sebelumnya memang mendorong penataan tenaga honorer melalui jalur PPPK dan CPNS. Namun sejumlah pihak menilai kuota formasi yang tersedia masih belum mampu menampung seluruh guru non-ASN yang ada saat ini.

    Hingga kini belum ada keputusan final yang benar-benar melarang seluruh guru honorer mengajar secara mendadak pada 2027. Pemerintah masih berada dalam tahap penataan dan transisi tenaga pendidikan nasional.

    Kementerian PANRB dan Kemendikbud sebelumnya juga beberapa kali menegaskan bahwa penyelesaian tenaga non-ASN dilakukan bertahap melalui mekanisme seleksi ASN dan PPPK sesuai kebutuhan daerah serta kemampuan formasi pemerintah.

    Isu ini pun menuai banyak respons dari masyarakat. Banyak netizen menilai keberadaan guru honorer masih sangat dibutuhkan, terutama di sekolah-sekolah negeri yang kekurangan tenaga pengajar tetap.

    “Kalau semua honorer dihentikan tanpa solusi jelas, sekolah di daerah bisa kekurangan guru,” tulis salah satu netizen.

    Ada juga yang berkomentar, “Yang bertahun-tahun bantu pendidikan jangan sampai malah ditinggal pas sistem lagi butuh.” Begitu narasi dituliskan dalam keterangan unggahan.

    Tirto juga menemukan unggahan serupa pada akun Instagram @tanjung.news, @viral.sekalii, akun TikTok @duniapunyacerita, dan akun Facebook “Pendaki Kusam.” Semua unggahan tersebut menampilkan gambar dan video serupa yang mengklaim guru non-ASN dilarang mengajar di sekolah negeri mulai 2027.

    Lantas, benarkah guru non-ASN dilarang mengajar di sekolah negeri mulai 2027?

    Baca juga:P2G Desak Pemerintah Tidak Memecat 200 Ribu Guru Honorer

    HEADER periksa fakta guru non ASN.

    Hasil Cek Fakta

    Untuk memverifikasi klaim tersebut, pertama-tama Tirto melakukan pencarian gambar terbalik (reverse image) untuk menemukan gambar asli. Hasilnya, tidak ditemukan informasi dari media kredibel yang membenarkan klaim tersebut.

    Lebih lanjut, Tirto mengetikkan kata kunci “benarkah guru non-ASN tidak boleh mengajar di sekolah negeri mulai 2027?” Hasil penelusuran mengarah pada laman Kompas, yang menyatakan bahwa narasi beredar di media sosial yang mengklaim bahwa guru honorer tidak diizinkan mengajar di sekolah negeri mulai 1 Januari 2027 adalah hoaks.

    Melansir laman Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, aturan itu disebut karena pemerintah menerbitkan Surat Edaran (SE) Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 7 Tahun 2026 yang memuat aturan masa kerja dan penggajian guru non-ASN hingga 31 Desember 2026. Namun, bukan berarti setelah 31 Desember para guru non-ASN tidak lagi bekerja di sekolah.

    Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK), Nunuk Suryani, menjelaskan bahwa surat edaran ini menjadi rujukan bagi pemerintah daerah untuk dapat memperpanjang penugasan dan penggajian guru non-ASN yang telah terdata di Data Pokok Pendidikan (Dapodik) sebelum Desember 2024.

    Kemudian, Kemendikdasmen melakukan koordinasi dan diskusi lintas kementerian agar guru-guru tersebut tetap dapat mengajar sambil menunggu proses penataan lebih lanjut. Hasilnya, disepakati penerbitan Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 7 Tahun 2026 sebagai rujukan resmi bagi pemerintah daerah.

    “Surat edaran ini dibuat untuk menyelamatkan, memberikan ketenangan, dan kepastian bagi guru non-ASN yang terdata di Dapodik agar tetap bisa mengajar dengan tenang,” begitu keterangan Dirjen Nunuk.

    Perihal batas waktu hingga Desember 2026 yang tertuang dalam surat edaran bukan berarti guru tidak lagi dapat mengajar setelah periode tersebut. Menurutnya, yang diatur dalam amanat undang-undang adalah status non-ASN, bukan penghentian tugas mengajar para guru.

    “Yang tidak diperbolehkan adalah status non-ASN, bukan gurunya berhenti mengajar. Kita berusaha menepati, namun juga melakukan negosiasi agar para guru masih bisa bekerja,” tegasnya.” Begitu tegas Nunuk.

    Kepala Bidang GTK Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Firman Oktora, menyampaikan bahwa sebelum surat edaran diterbitkan, pemerintah daerah berada dalam posisi yang sulit karena telah mengalokasikan anggaran gaji, namun belum memiliki dasar yang kuat untuk menyalurkannya.

    “Terbitnya SE ini memberikan kekuatan dan jaminan bagi Dinas Pendidikan Jawa Barat untuk tetap bisa mempekerjakan 1.049 guru non-ASN,” begitu keterangan Firman.

    Dalam artikel Tirto, “SE 7/2026 Bukan Larangan Guru Non-ASN Mengajar” Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menegaskan bahwa Surat Edaran (SE) Nomor 7 Tahun 2026 tidak dimaksudkan untuk menghentikan pekerjaan guru non-aparatur sipil negara (ASN) mengajar di sekolah negeri.

    SE tersebut dibuat justru menjadi rujukan bagi pemerintah daerah agar tetap mempertimbangkan keberlanjutan kerja guru non-ASN yang selama ini masih aktif mengajar.

    “Tidak ada pernyataan di dalam SE tersebut yang mengatakan bahwa guru non-ASN dilarang mengajar pada tahun 2027,” begitu keterangan Direktur Jenderal (Dirjen) Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen, Nunuk Suryani, dalam rapat bersama Komisi X DPR RI di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (19/5/2026).

    Dalam SE tersebut, Kemendikdasmen juga mengatur dukungan penghasilan bagi guru non-ASN yang terdata di Data Pokok Pendidikan (Dapodik).

    Dengan demikian, klaim yang menyebutkan guru non-ASN dilarang mengajar di sekolah negeri mulai tahun 2027 adalah tidak benar dan tidak didukung dengan informasi dari media kredibel.

    Baca juga:Wali Kota Bandung Farhan: Gaji Guru Honorer Mulai Cair Hari Ini

    Kesimpulan

    Berdasarkan hasil penelusuran fakta, klaim yang menyatakan bahwa guru non-ASN dilarang mengajar di sekolah negeri mulai 2027 adalah salah dan menyesatkan (false and misleading).

    Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah memberikan klarifikasi resmi bahwa tidak ada kebijakan penghentian atau larangan mengajar bagi guru honorer pada tahun 2027.

    Faktanya, Surat Edaran (SE) Mendikdasmen Nomor 7 Tahun 2026 tentang Penugasan Guru Non-ASN diterbitkan untuk menata status kepegawaian guru non-ASN, bukan untuk melarang mereka mengajar.

    ==

    Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.

    Rujukan

    • Tirto.id
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • Hoaks, Hantavirus Efek Samping dari Vaksin Pfizer

    Sumber:
    Tanggal publish: 20/05/2026

    Berita

    tirto.id - Beredar unggahan di media sosial Facebook yang mengklaim vaksin Pfizer memberikan efek samping, yaitu adanya hantavirus. Virus tersebut juga diklaim tidak menular dari manusia ke manusia karena cara masuknya disuntik melalui vaksin.

    Unggahan tersebut disebarkan oleh akun Facebook bernama “Uma A” (arsip) pada Jumat (8/5/2026). Unggahan tersebut memperlihatkan beberapa foto tangkapan layar yang menjelaskan keterikatan berbagai macam vaksin dengan adanya hantavirus, dimulai dari vaksin COVID, Moderna, dan korban hantavirus di kapal Hondius.

    let gpt_inline2 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline2.cmd.push(function() {gpt_inline2.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-2', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline2-passback').addService(gpt_inline2.pubads());gpt_inline2.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline2.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline2.enableServices();gpt_inline2.display('gpt-inline2-passback');});

    “Benar kata WHO. Mereka sudah terinfeksi sebelum naik kapal. Ai grok juga membenarkan yaitu hanta virus tidak menular melalui manusia ke manusia. Adanya hanta virus adalah efek samping dari vaksin pjer dan di tulis langsung oleh pjer 🤣. Wajar tdk menular dari manusia ke manusia. Cara masuknya disuntik melalui vaksin😆. Tenang, vaksin hanta udh dibuat moderna 2024😆 Yang idiot pada sibuk ketakutan 😆. Mainan thrds wajar makin gila karena yg dibaca ketakutan terus. Cara main thrds sama seperti Twitter tapi isi literasi rakyatnya berbeda. Biasanya org gila emang suka ngumpul sesama org gila.” Begitu narasi tertulis dalam unggahan.

    let gpt_inline3 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline3.cmd.push(function() {gpt_inline3.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-3', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline3-passback').addService(gpt_inline3.pubads());gpt_inline3.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline3.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline3.enableServices();gpt_inline3.display('gpt-inline3-passback');});

    #gpt-inline3-passback{text-align:center;}

    Sampai artikel ini ditulis pada Senin (18/5/2026), unggahan tersebut telah mendapatkan 588 likes, 113 komentar, dan 261 kali dibagikan. Kolom komentar terbagi dua, sebagian komentar menunjukkan ketidakpercayaan masyarakat, dan sebagian lainnya mempercayai informasi tersebut dan bersyukur karena menolak vaksin.

    let gpt_inline4 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline4.cmd.push(function() {gpt_inline4.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-4', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline4-passback').addService(gpt_inline4.pubads());gpt_inline4.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline4.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline4.enableServices();gpt_inline4.display('gpt-inline4-passback');});

    #gpt-inline4-passback{text-align:center;}

    Tirto juga menemukan unggahan serupa pada akun Facebook “Fauji Ru” (arsip) pada Kamis (7/5/2026), yang memperlihatkan gambar dengan klaim daftar efek samping vaksin COVID-19 Pfizer termasuk infeksi paru-paru hantavirus.

    Lantas, bagaimana kebenaran klaim tersebut?

    Baca juga:Dinkes Tangsel Imbau Warga Waspada Hantavirus & Jaga Kebersihan

    Periksa Fakta Efek Samping Vaksin Pfizer. foto/hotline periksa fakta tirto

    Hasil Cek Fakta

    Untuk memverifikasi klaim tersebut, pertama-tama Tirto melakukan pencarian gambar terbalik (reverse image) untuk menemukan gambar asli. Hasil penelusuran tidak ditemukan informasi dari media kredibel yang membenarkan klaim tersebut.

    Kemudian, Tirto mengetikkan kata kunci “Hantavirus adalah efek samping dari vaksin Pfizer.” Hasil penelusuran mengarahkan ke laman Kementerian Komunikasi dan Digital, yang menyatakan bahwa narasi yang mengklaim bahwa hantavirus merupakan efek samping vaksin Covid-19 produksi Pfizer adalah tidak benar.

    Senada dengan itu, kepada Tirto dr. Andreas Wilson Setiawan, M. Kes., Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Kedokteran Universitas Dian Nuswantoro, menegaskan bahwa klaim hantavirus merupakan efek samping dari vaksin COVID-19 produksi Pfizer atau vaksin mRNA lainnya seperti Moderna merupakan narasi yang tidak memiliki dasar ilmiah dan termasuk bentuk misinformasi kesehatan yang dapat menyesatkan masyarakat.

    Secara virologi, hantavirus adalah kelompok virus zoonotik dari famili Hantaviridae yang secara alami berreservoir pada hewan pengerat, terutama tikus dan rodensia liar lainnya. Penularan kepada manusia umumnya terjadi melalui inhalasi aerosol dari urin, feses, atau saliva rodensia yang terinfeksi, bukan melalui vaksinasi intramuskular. Dengan demikian, secara patogenesis, mekanisme transmisi hantavirus sama sekali tidak berkaitan dengan platform vaksin mRNA COVID-19.

    Menurut World Health Organization, hantavirus adalah virus zoonosis yang secara alami menginfeksi hewan pengerat dan kadang-kadang ditularkan ke manusia. Infeksi pada manusia dapat menyebabkan penyakit parah dan sering kali kematian, meskipun penyakitnya bervariasi tergantung pada jenis virus dan lokasi geografis.

    Pada manusia, gejala biasanya mulai muncul antara satu hingga delapan minggu setelah terpapar, tergantung pada jenis virusnya, dan biasanya meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, serta gejala gastrointestinal seperti sakit perut, mual, atau muntah.

    Public Health and Medical Professionals for Transparency dalam phmpt.org menuliskan dokumen dengan 38 halaman yang memuat analisis laporan kejadian ikutan pasca-otorisasi vaksin Covid-19 yang diproduksi Pfizer/BioNTech. Meski tercantum dalam dokumen Pfizer, bukan berarti bahwa vaksin tersebut menyebabkan infeksi paru-paru akibat hantavirus.

    Narasi yang mengklaim bahwa vaksin Pfizer menyebabkan infeksi hantavirus muncul setelah beredar tangkapan layar dokumen Pfizer yang mencantumkan “hantavirus pulmonary infection” dalam daftar Adverse Events of Special Interest (AESI).

    Namun, daftar tersebut bukan daftar efek samping yang terbukti disebabkan oleh vaksin. Pfizer menjelaskan bahwa dokumen itu hanya mencatat berbagai kondisi medis yang terjadi selama periode pemantauan vaksin COVID-19, tanpa otomatis menunjukkan hubungan sebab-akibat dengan vaksin.

    Melansir laman Reuters.com, tidak ada bukti ilmiah yang menyatakan bahwa vaksin Pfizer COVID-19 menyebabkan hantavirus atau mengandung hantavirus. Penyebutan hantavirus dalam dokumen Pfizer hanyalah bagian dari pemantauan berbagai kejadian medis selama masa studi vaksin, bukan bukti hubungan langsung dengan vaksin.

    “There are no hantaviruses in the ingredient list of the Pfizer COVID vaccine, now called Comirnaty. According to Pfizer’s website, opens new tab, the Comirnaty shot does not contain live viruses.” Begitu ditulis dalam Reuters.

    Klaim yang menyebutkan bahwa vaksin Pfizer menyebabkan infeksi hantavirus adalah menyesatkan. Hantavirus masuk dalam dokumen Pfizer hanya sebagai catatan riwayat medis selama masa pemantauan studi, bukan sebagai efek samping dari vaksin itu sendiri.

    “Misleading. Hantavirus pulmonary infection appeared in ⁠a list ​that recorded any medical event a person experienced during Pfizer’s study period, regardless ​of whether the medical event was caused by the vaccine. Pfizer’s regulatory document lists events that were later found to be causally related to the shot, and this ​list does not include a hantavirus pulmonary infection.”

    Menurut dr. Andreas Wilson, kesalahpahaman publik ini sebagian besar muncul akibat interpretasi keliru terhadap dokumen farmakovigilans Pfizer yang mencantumkan istilah “hantavirus pulmonary infection” dalam daftar Adverse Events of Special Interest (AESI). Perlu dipahami bahwa AESI bukanlah daftar efek samping yang terbukti disebabkan oleh vaksin, melainkan daftar seluruh kejadian medis yang dilaporkan selama periode observasi pascavaksinasi, terlepas dari hubungan kausalnya.

    "Dalam studi keamanan obat dan vaksin, semua kejadian klinis wajib dicatat untuk tujuan surveillance, termasuk penyakit yang sama sekali tidak berhubungan langsung dengan produk yang diuji. Dengan kata lain, keberadaan istilah hantavirus dalam dokumen tersebut tidak berarti vaksin menyebabkan hantavirus, melainkan hanya bahwa ada laporan kejadian tersebut selama masa pemantauan," tambahnya.

    Menurut hasil penelitian gov.uk, vaksin Pfizer BNT162b2 adalah vaksin mRNA yang berisi materi genetik untuk menginstruksikan sel tubuh untuk membuat protein spike SARS-CoV-2 agar sistem imun membentuk perlindungan terhadap COVID-19. Komponen utamanya adalah mRNA SARS-CoV-2, lipid nanoparticles (pembungkus mRNA), PEG/polyethylene glycol, garam, gula (sukrosa) dan air injeksi. Vaksin ini tidak mengandung virus hidup, mikrochip, nanobot, ataupun hantavirus.

    Dokter Andreas Wilson menambahkan, Vaksin Comirnaty (BNT162b2) milik Pfizer/BioNTech merupakan vaksin berbasis messenger RNA (mRNA), yang hanya mengandung instruksi genetik untuk sintesis protein spike SARS-CoV-2 guna merangsang respons imun adaptif tubuh. Komponen vaksin ini terdiri atas mRNA sintetis, lipid nanoparticle sebagai sistem penghantar, polyethylene glycol (PEG), buffer salts, sukrosa, dan air steril untuk injeksi.

    Vaksin ini tidak mengandung virus hidup, tidak mengandung virus hantavirus, tidak mengandung nanoteknologi biologis seperti “nanobot”, dan tidak mengandung agen infeksi lain di luar komponen yang telah dijelaskan secara resmi. Oleh sebab itu, tuduhan bahwa hantavirus “disuntikkan” melalui vaksin Pfizer merupakan pernyataan yang bertentangan dengan prinsip farmakologi dan imunologi dasar

    Vaksin Pfizer ini memang memiliki risiko miokarditis, terutama diamati pada laki-laki muda setelah dosis kedua, tetapi kasusnya jarang dan sebagian besar pulih. Tidak ada bukti dalam dokumen ini maupun bukti ilmiah bahwa vaksin Pfizer menyebabkan infeksi hantavirus.

    Sebagaimana dalam rangkuman Tirto, hantavirus adalah penyakit yang umumnya ditularkan oleh hewan pengerat, bukan hasil rekayasa atau efek samping vaksin Covid-19. Virus hanta diketahui menular melalui kontak dengan tikus atau celurut yang terinfeksi, termasuk paparan urin, air liur, maupun kotorannya.

    Sebagai informasi, hantavirus diketahui menular melalui kontak dengan tikus atau celurut yang terinfeksi, termasuk paparan urin, air liur, maupun kotorannya. Faktor risiko utama di antaranya aktivitas di lingkungan dengan populasi tikus tinggi, gudang tertutup, area banjir, hingga kegiatan luar ruang seperti berkemah dan mendaki.

    Menurut dr. Wilson, secara epidemiologis, infeksi hantavirus pada manusia dapat bermanifestasi sebagai Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) atau Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), tergantung pada strain virus dan wilayah geografis. Manifestasi klinis biasanya meliputi demam tinggi, mialgia berat, nyeri kepala, gangguan gastrointestinal, trombositopenia, hingga gagal napas akut akibat edema paru nonkardiogenik.

    Penyakit ini memiliki mortalitas yang cukup tinggi, khususnya pada HPS. Faktor risiko utama bukanlah riwayat vaksinasi, melainkan paparan lingkungan dengan infestasi tikus tinggi, seperti gudang tertutup, area pascabanjir, pertanian, hutan, dan lokasi berkemah. Hal ini semakin menegaskan bahwa hantavirus adalah penyakit zoonosis lingkungan, bukan komplikasi imunisasi.

    Baca juga:Tidak Benar, Bill Gates Sebut Vaksin untuk Mengurangi Penduduk

    Kesimpulan

    Berdasarkan hasil penelusuran fakta, klaim yang menyatakan bahwa vaksin Pfizer menyebabkan efek samping hantavirus adalah salah dan menyesatkan (false and misleading).

    Hantavirus adalah penyakit yang umumnya ditularkan oleh hewan pengerat dan diketahui menular melalui kontak dengan tikus atau celurut yang terinfeksi, termasuk paparan urin, air liur, maupun kotorannya.

    Tidak ditemukan bukti ilmiah yang menyatakan bahwa vaksin Pfizer menyebabkan hantavirus. Penyebutan hantavirus dalam dokumen Pfizer hanyalah bagian dari pemantauan berbagai kejadian medis selama masa studi vaksin, bukan bukti hubungan langsung dengan vaksin.

    ==

    Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.

    Rujukan

    • Tirto.id
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini