tirto.id - Beredar di media sosial Facebook unggahan yang mengklaim PT Pos Indonesia Persero membuka lowongan pekerjaan 2026 dengan cara pendaftaran menghubungi nomor WhatsApp admin yang dicantumkan dalam unggahan.
Unggahan tersebut disebarkan oleh akun Facebook bernama “loker Indonesia” (arsip) pada Rabu (18/02/2026). Unggahan tersebut menampilkan gambar pegawai laki-laki mengenakan seragam POS Indonesia.
let gpt_inline2 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline2.cmd.push(function() {gpt_inline2.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-2', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline2-passback').addService(gpt_inline2.pubads());gpt_inline2.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline2.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline2.enableServices();gpt_inline2.display('gpt-inline2-passback');});
“Dibuka lowongan kerja PT Pos Indonesia Persero (2026). Posisi jabatan, kualifikasi, penempatan, dan cara pendaftaran silakan WhatsApp admin ⬇️⬇️⬇️,” begitu narasi tertulis dalam unggahan.
let gpt_inline3 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline3.cmd.push(function() {gpt_inline3.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-3', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline3-passback').addService(gpt_inline3.pubads());gpt_inline3.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline3.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline3.enableServices();gpt_inline3.display('gpt-inline3-passback');});
#gpt-inline3-passback{text-align:center;}
Pengunggah juga menyebutkan persyaratan untuk mendaftar, yaitu warga negara Indonesia, pria/wanita usia maksimal 40 tahun, pendidikan SMA/SMK/D3/S1, IPK > 2.75 (D3/S1), ijazah rata-rata 6.00, dan bersedia ditempatkan di wilayah kerja PT Pos Indonesia (Persero).
let gpt_inline4 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline4.cmd.push(function() {gpt_inline4.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-4', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline4-passback').addService(gpt_inline4.pubads());gpt_inline4.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline4.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline4.enableServices();gpt_inline4.display('gpt-inline4-passback');});
#gpt-inline4-passback{text-align:center;}
Adapun posisi atau jabatan yang diklaim tersedia di PT Pos Indonesia (Persero) yaitu administrasi, marketing, kasir, analis, akuntan, HRD, satpam, driver, staff administrasi, customer service, kepala provinsi, accounting, manajer, dan keuangan. Ditemukan juga beberapa kesalahan penulisan dan pengulangan pada penulisan posisi yang tersedia.
Sampai artikel ini ditulis pada Kamis (30/04/2026), unggahan tersebut telah mendapatkan 62 likes, 27 komentar, dan 2 kali dibagikan. Kolom komentar diisi dengan pertanyaan pengunjung yang berminat mendaftar lowongan kerja tersebut.
Tirto juga menemukan unggahan serupa pada akun Instagram @zonakarirbumn.id yang mengunggah gambar serupa dan mengarahkan untuk menghubungi nomor WhatsApp tertera, yaitu 081235852087.
Lantas, benarkah PT Pos Indonesia membuka lowongan pekerjaan melalui nomor WhatsApp tersebut?
Baca juga:Hoaks Tautan Lowongan Kerja BUMN 2026
Periksa Fakta Pendaftaran PT Pos Ind. FOTO/Hotline Periksa Fakta Tirto
Hoaks, WhatsApp Pendaftaran PT Pos Indonesia 2026
Sumber:Tanggal publish: 01/05/2026
Berita
Hasil Cek Fakta
Untuk memverifikasi klaim tersebut, pertama-tama Tirto menelusuri akun pengunggah klaim. Akun tersebut memiliki 70 pengikut dan mencantumkan nomor WhatsApp pada bio akun, yaitu 0882-0218-96287.
Ditemukan bahwa akun tersebut beberapa kali mengunggah informasi terkait lowongan kerja yang diklaim berasal dari Pos Indonesia, Badan Gizi Nasional, JNE, dan KAI melalui nomor WhatsApp yang dicantumkan pada bio akun. Dari situ diketahui bahwa akun tersebut merupakan akun tidak resmi milik pemerintah. Adapun akun Facebook resmi milik Pos Indonesia memiliki 204 ribu pengikut dan aktif membagikan informasi terkait program dan kegiatan Pos Indonesia.
Sebagai informasi, Pos Indonesia adalah perusahaan milik negara Indonesia (BUMN) yang bergerak di bidang jasa pos. Pos Indonesia ditunjuk oleh pemerintah sebagai platform logistik nasional karena jaringannya yang luas dan komprehensif yang tersebar di seluruh Indonesia.
Lebih lanjut, Tirto mengetikkan kata kunci “Pendaftaran lowongan kerja Pos Indonesia 2026” pada mesin pencarian Google. Hasil penelusuran tidak ditemukan informasi dari media kredibel yang membenarkan klaim tersebut.
Melansir laman Pos Indonesia, Senior Vice President Human Capital PT Pos Indonesia (Persero) Iwan Gunawan menjelaskan mengenai prosedur resmi rekrutmen pegawai di Pos Indonesia.
“Dalam proses rekrutmen di PT Pos Indonesia (Persero), informasi akan diumumkan melalui media sosial resmi Pos Indonesia yakni IG : posindonesia.ig; FB: Pos Indonesia dan Twitter: @PosIndonesia. Informasi terperinci ada dalam tautan yang dilampirkan dalam informasi di sosial media tersebut. Selain itu, diumumkan lewat majalah dinding di Kantor Pos.” begitu jelas Iwan.
PT Pos Indonesia (Persero) membuka berbagai lowongan kerja pada 2026. Adapun pendaftaran biasanya dilakukan secara online melalui Pos Indonesia Karier, Pusat Pendaftaran PT Pos Indonesia (Rakamin), atau informasi resmi di Instagram Pos Indonesia.
Adapun terkait rekrutmen pegawai Pos Indonesia, harus dikonfirmasi ulang kepada pihak terkait. Masyarakat dapat mengakses informasi rekrutmen di PT Pos Indonesia (Persero) melalui media sosial resmi atau melalui call center Halo Pos 1500161.
PT Pos Indonesia tidak pernah membuka pendaftaran melalui media sosial tidak resmi dan melalui nomor WhatsApp pribadi. Dengan demikian klaim yang menyebutkan pendaftaran lowongan pekerjaan PT Pos Indonesia melalui nomor WhatsApp yang beredar di Facebook adalah tidak benar dan terindikasi pada penipuan.
Sampai artikel ini ditulis, tidak ditemukan informasi yang membenarkan bahwa PT Pos Indonesia membuka lowongan pekerjaan melalui nomor WhatsApp pada akun tidak resmi. Adapun rekrutmen PT Pos Indonesia hanya dilakukan melalui akun resmi dan website https://posindonesia.rakamin.com/. Seluruh informasi mengenai lowongan pekerjaan Pos Indonesia hanya tersedia melalui kanal-kanal resmi, bumn.go.id, posindonesia.co.id, dan kemitraan.posindonesia.co.id.
Baca juga:Hoaks Lowongan Pekerjaan BPJS Kesehatan 2026
Ditemukan bahwa akun tersebut beberapa kali mengunggah informasi terkait lowongan kerja yang diklaim berasal dari Pos Indonesia, Badan Gizi Nasional, JNE, dan KAI melalui nomor WhatsApp yang dicantumkan pada bio akun. Dari situ diketahui bahwa akun tersebut merupakan akun tidak resmi milik pemerintah. Adapun akun Facebook resmi milik Pos Indonesia memiliki 204 ribu pengikut dan aktif membagikan informasi terkait program dan kegiatan Pos Indonesia.
Sebagai informasi, Pos Indonesia adalah perusahaan milik negara Indonesia (BUMN) yang bergerak di bidang jasa pos. Pos Indonesia ditunjuk oleh pemerintah sebagai platform logistik nasional karena jaringannya yang luas dan komprehensif yang tersebar di seluruh Indonesia.
Lebih lanjut, Tirto mengetikkan kata kunci “Pendaftaran lowongan kerja Pos Indonesia 2026” pada mesin pencarian Google. Hasil penelusuran tidak ditemukan informasi dari media kredibel yang membenarkan klaim tersebut.
Melansir laman Pos Indonesia, Senior Vice President Human Capital PT Pos Indonesia (Persero) Iwan Gunawan menjelaskan mengenai prosedur resmi rekrutmen pegawai di Pos Indonesia.
“Dalam proses rekrutmen di PT Pos Indonesia (Persero), informasi akan diumumkan melalui media sosial resmi Pos Indonesia yakni IG : posindonesia.ig; FB: Pos Indonesia dan Twitter: @PosIndonesia. Informasi terperinci ada dalam tautan yang dilampirkan dalam informasi di sosial media tersebut. Selain itu, diumumkan lewat majalah dinding di Kantor Pos.” begitu jelas Iwan.
PT Pos Indonesia (Persero) membuka berbagai lowongan kerja pada 2026. Adapun pendaftaran biasanya dilakukan secara online melalui Pos Indonesia Karier, Pusat Pendaftaran PT Pos Indonesia (Rakamin), atau informasi resmi di Instagram Pos Indonesia.
Adapun terkait rekrutmen pegawai Pos Indonesia, harus dikonfirmasi ulang kepada pihak terkait. Masyarakat dapat mengakses informasi rekrutmen di PT Pos Indonesia (Persero) melalui media sosial resmi atau melalui call center Halo Pos 1500161.
PT Pos Indonesia tidak pernah membuka pendaftaran melalui media sosial tidak resmi dan melalui nomor WhatsApp pribadi. Dengan demikian klaim yang menyebutkan pendaftaran lowongan pekerjaan PT Pos Indonesia melalui nomor WhatsApp yang beredar di Facebook adalah tidak benar dan terindikasi pada penipuan.
Sampai artikel ini ditulis, tidak ditemukan informasi yang membenarkan bahwa PT Pos Indonesia membuka lowongan pekerjaan melalui nomor WhatsApp pada akun tidak resmi. Adapun rekrutmen PT Pos Indonesia hanya dilakukan melalui akun resmi dan website https://posindonesia.rakamin.com/. Seluruh informasi mengenai lowongan pekerjaan Pos Indonesia hanya tersedia melalui kanal-kanal resmi, bumn.go.id, posindonesia.co.id, dan kemitraan.posindonesia.co.id.
Baca juga:Hoaks Lowongan Pekerjaan BPJS Kesehatan 2026
Kesimpulan
Hasil penelusuran menunjukkan bahwa klaim adanya nomor WhatsApp untuk mendaftar lowongan pekerjaan PT Pos Indonesia (Persero) bersifat salah dan menyesatkan (false and misleading).
Adapun nomor tersebut tidak berasal dari pemerintah secara resmi dan berujung pada permintaan data pribadi. Modus ini biasanya digunakan sebagai modus penipuan dan phishing (pencurian data melalui tautan berbahaya). Rekrutmen PT Pos Indonesia hanya dilakukan melalui akun resmi dan website https://posindonesia.rakamin.com/.
==
Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.
Adapun nomor tersebut tidak berasal dari pemerintah secara resmi dan berujung pada permintaan data pribadi. Modus ini biasanya digunakan sebagai modus penipuan dan phishing (pencurian data melalui tautan berbahaya). Rekrutmen PT Pos Indonesia hanya dilakukan melalui akun resmi dan website https://posindonesia.rakamin.com/.
==
Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.
Rujukan
- https://web.facebook.com/permalink.php?story_fbid=pfbid0zYtgfieQUkLcUStyUicLVsUNoXi21QrRZX14zMKx9JYKL3oGaNg1HeZPB9AsVcUTl&id=61579652488559&rdid=GrYmZgrXMd2C3jN8&_rdc=1&_rdr#
- https://web.archive.org/web/20260430065307/
- https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=pfbid0zYtgfieQUkLcUStyUicLVsUNoXi21QrRZX14zMKx9JYKL3oGaNg1HeZPB9AsVcUTl&id=61579652488559&rdid=GrYmZgrXMd2C3jN8&_rdc=2&_rdr
- https://www.instagram.com/p/DVBPPvsEuqR/
- https://tirto.id/hoaks-tautan-lowongan-kerja-bumn-2026-hqQe
- https://web.facebook.com/posindonesia/?locale=id_ID&_rdc=1&_rdr#
- https://www.posindonesia.co.id/id/articles/detail/klarifikasi-pos-indonesia-atas-berita-bohong-tentang-rekrutmen-pegawai
- https://www.posindonesia.co.id/id/karir
- https://posindonesia.rakamin.com/register
- https://www.instagram.com/posindonesia.ig/
- https://tirto.id/hoaks-lowongan-pekerjaan-bpjs-kesehatan-2026-hpSq
Hoaks, Vaksin MMR Sebabkan Autisme pada Anak
Sumber:Tanggal publish: 01/05/2026
Berita
tirto.id - Narasi negatif tentang imunisasi terus beredar di media sosial. Salah satu yang ramai diperbincangkan adalah vaksin Measles, Mumps, dan Rubella (MMR) dapat menyebabkan autisme bagi anak.
Klaim tersebut diunggah oleh akun Facebook bernama “Senja Kelana” (arsip) pada 24 Desember 2025. Pengunggah menarasikan bahwa vaksin campak berujung pada autisme, sekaligus mendorong masyarakat melakukan “detox vaksin” untuk mengeluarkan zat yang disebut berbahaya dari tubuh.
let gpt_inline2 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline2.cmd.push(function() {gpt_inline2.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-2', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline2-passback').addService(gpt_inline2.pubads());gpt_inline2.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline2.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline2.enableServices();gpt_inline2.display('gpt-inline2-passback');});
Unggahan itu berbunyi:
let gpt_inline3 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline3.cmd.push(function() {gpt_inline3.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-3', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline3-passback').addService(gpt_inline3.pubads());gpt_inline3.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline3.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline3.enableServices();gpt_inline3.display('gpt-inline3-passback');});
#gpt-inline3-passback{text-align:center;}
“VAKSIN CAMPAK BERAKIBAT AUTIS..!
let gpt_inline4 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline4.cmd.push(function() {gpt_inline4.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-4', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline4-passback').addService(gpt_inline4.pubads());gpt_inline4.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline4.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline4.enableServices();gpt_inline4.display('gpt-inline4-passback');});
#gpt-inline4-passback{text-align:center;}
...
JANGAN SALAHKAN ALLOH SWT DENGAN MENGATAKAN.. "SUDAH TAKDIR..!", SEBAB KALIAN DIBERI OTAK/ AKAL OLEH ALLOH TA'ALA UNTUK BERTANYA, "APA SAJA JEROAN VAKSIN YG AKAN DISUNTIKKAN KE DALAM ANAKKU..??!!"
Terlanjur divaksin? TAUBATLAH..!!!! CEPAT Keluarkan Zat-zat Laknat Vaksin / imunisasinya dengan cara 3in1 Langsung Bersamaan Dengan izin Alloh SWT. SEBELUM TERLAMBAT..!
DETOX VAKSIN
Jakarta, 28 Des 25
Surabaya, 28 Des 25
LOMBOK, 4 Jan 26.”
Hingga artikel ini ditulis pada Kamis (30/04/2026), unggahan tersebut telah mendapatkan 19 tanda suka, satu komentar, dan dibagikan sebanyak 10 kali.
Lantas, bagaimana kebenaran klaim tersebut?
Baca juga:Keliru, Laki-laki Tak Perlu Mendapatkan Vaksin HPV
Periksa Fakta Vaksin Rubella Bikin Autis. FOTO/Hotline Periksa Fakta Tirto
Klaim tersebut diunggah oleh akun Facebook bernama “Senja Kelana” (arsip) pada 24 Desember 2025. Pengunggah menarasikan bahwa vaksin campak berujung pada autisme, sekaligus mendorong masyarakat melakukan “detox vaksin” untuk mengeluarkan zat yang disebut berbahaya dari tubuh.
let gpt_inline2 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline2.cmd.push(function() {gpt_inline2.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-2', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline2-passback').addService(gpt_inline2.pubads());gpt_inline2.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline2.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline2.enableServices();gpt_inline2.display('gpt-inline2-passback');});
Unggahan itu berbunyi:
let gpt_inline3 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline3.cmd.push(function() {gpt_inline3.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-3', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline3-passback').addService(gpt_inline3.pubads());gpt_inline3.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline3.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline3.enableServices();gpt_inline3.display('gpt-inline3-passback');});
#gpt-inline3-passback{text-align:center;}
“VAKSIN CAMPAK BERAKIBAT AUTIS..!
let gpt_inline4 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline4.cmd.push(function() {gpt_inline4.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-4', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline4-passback').addService(gpt_inline4.pubads());gpt_inline4.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline4.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline4.enableServices();gpt_inline4.display('gpt-inline4-passback');});
#gpt-inline4-passback{text-align:center;}
...
JANGAN SALAHKAN ALLOH SWT DENGAN MENGATAKAN.. "SUDAH TAKDIR..!", SEBAB KALIAN DIBERI OTAK/ AKAL OLEH ALLOH TA'ALA UNTUK BERTANYA, "APA SAJA JEROAN VAKSIN YG AKAN DISUNTIKKAN KE DALAM ANAKKU..??!!"
Terlanjur divaksin? TAUBATLAH..!!!! CEPAT Keluarkan Zat-zat Laknat Vaksin / imunisasinya dengan cara 3in1 Langsung Bersamaan Dengan izin Alloh SWT. SEBELUM TERLAMBAT..!
DETOX VAKSIN
Jakarta, 28 Des 25
Surabaya, 28 Des 25
LOMBOK, 4 Jan 26.”
Hingga artikel ini ditulis pada Kamis (30/04/2026), unggahan tersebut telah mendapatkan 19 tanda suka, satu komentar, dan dibagikan sebanyak 10 kali.
Lantas, bagaimana kebenaran klaim tersebut?
Baca juga:Keliru, Laki-laki Tak Perlu Mendapatkan Vaksin HPV
Periksa Fakta Vaksin Rubella Bikin Autis. FOTO/Hotline Periksa Fakta Tirto
Hasil Cek Fakta
Perlu diketahui, melansir National Library of Medicine campak adalah infeksi virus yang sangat menular yang disebabkan oleh virus campak, terutama menyerang sistem pernapasan dan ditandai dengan demam, batuk, konjungtivitis, dan ruam yang khas.
Penularan terjadi melalui tetesan pernapasan, sehingga mudah menyebar di populasi yang tidak divaksinasi. Komplikasi dapat meliputi pneumonia, ensefalitis, dan dalam kasus yang jarang terjadi, kematian, terutama pada anak kecil dan individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.
Vaksin MMR secara efektif mencegah campak dengan merangsang sistem kekebalan tubuh untuk menghasilkan antibodi terhadap virus hidup yang dilemahkan.
Kembali pada klaim unggahan, pengunggah menyoroti bahwa vaksinasi MMR pada anak dapat menyebabkan autisme. Untuk membuktikan klaim tersebut, Tirto menelusuri penelitian ilmiah yang secara khusus membahas kaitan antara imunisasi dan Autism Spectrum Disorder (ASD).
Sejumlah penelitian justru tidak menemukan bukti yang menunjukkan keterkaitan antara vaksin campak dan autisme. Salah satunya studi oleh Hornig M, dkk (2008) yang menganalisis sampel jaringan usus besar guna mendeteksi RNA virus campak.
Penelitian tersebut melibatkan 25 anak dengan autisme dan 13 anak non-autisme sebagai kelompok kontrol. Hasilnya, hanya ditemukan satu kasus RNA virus campak pada masing-masing kelompok, sehingga tidak menunjukkan adanya hubungan antara vaksin campak dan autisme.
Temuan serupa juga terlihat dalam penelitian yang dilakukan oleh Kreesten Meldgaard Madsen, dkk (2002). Studi tersebut melibatkan lebih dari 537 ribu anak yang diamati selama periode 1991-1998. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan antara gangguan spektrum autisme (ASD) dengan usia saat menerima vaksin, rentang waktu setelah vaksinasi, maupun tanggal pemberian vaksin.
Hal yang sama disampaikan oleh Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Kedokteran Universitas Dian Nuswantoro, dr. Andreas Wilson Setiawan, M.Kes. Ia menegaskan tidak ada kaitan antara autisme dan vaksinasi.
“Autisme adalah gangguan perkembangan saraf yang dipengaruhi oleh banyak faktor, terutama faktor genetik dan perkembangan otak sejak dini, bukan disebabkan oleh vaksinasi,” paparnya.
Wilson menerangkan, klaim bahwa MMR menyebabkan autisme berasal dari sebuah studi kecil tahun 1998 oleh Andrew Wakefield yang kemudian terbukti bermasalah secara serius. Studi tersebut akhirnya ditarik (retracted) oleh jurnal The Lancet karena data yang tidak valid, pelanggaran etik, serta dugaan manipulasi data. Bahkan, British Medical Journal menyebutnya sebagai “elaborate fraud.”
“Jadi, sampai saat ini, konsensus ilmiah global menyatakan bahwa vaksin MMR tidak menyebabkan autisme,” tuturnya.
Wilson menyebut, Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang umum setelah vaksin MMR biasanya ringan, seperti: demam ringan, nyeri atau kemerahan di tempat suntikan, ruam ringan sementara, anak menjadi rewel, dan pembengkakan ringan pada kelenjar.
“Gejala ini biasanya muncul beberapa hari setelah imunisasi dan akan membaik sendiri,” tuturnya.
Ia menambahkan, KIPI berat seperti reaksi alergi berat (anafilaksis) sangat jarang terjadi. Risiko ini jauh lebih kecil dibanding risiko terkena penyakit campak, gondongan, atau rubella itu sendiri.
Baca juga:IDAI Nilai Tingginya Kasus Campak akibat Vaksinasi Tak Optimal
Penularan terjadi melalui tetesan pernapasan, sehingga mudah menyebar di populasi yang tidak divaksinasi. Komplikasi dapat meliputi pneumonia, ensefalitis, dan dalam kasus yang jarang terjadi, kematian, terutama pada anak kecil dan individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.
Vaksin MMR secara efektif mencegah campak dengan merangsang sistem kekebalan tubuh untuk menghasilkan antibodi terhadap virus hidup yang dilemahkan.
Kembali pada klaim unggahan, pengunggah menyoroti bahwa vaksinasi MMR pada anak dapat menyebabkan autisme. Untuk membuktikan klaim tersebut, Tirto menelusuri penelitian ilmiah yang secara khusus membahas kaitan antara imunisasi dan Autism Spectrum Disorder (ASD).
Sejumlah penelitian justru tidak menemukan bukti yang menunjukkan keterkaitan antara vaksin campak dan autisme. Salah satunya studi oleh Hornig M, dkk (2008) yang menganalisis sampel jaringan usus besar guna mendeteksi RNA virus campak.
Penelitian tersebut melibatkan 25 anak dengan autisme dan 13 anak non-autisme sebagai kelompok kontrol. Hasilnya, hanya ditemukan satu kasus RNA virus campak pada masing-masing kelompok, sehingga tidak menunjukkan adanya hubungan antara vaksin campak dan autisme.
Temuan serupa juga terlihat dalam penelitian yang dilakukan oleh Kreesten Meldgaard Madsen, dkk (2002). Studi tersebut melibatkan lebih dari 537 ribu anak yang diamati selama periode 1991-1998. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan antara gangguan spektrum autisme (ASD) dengan usia saat menerima vaksin, rentang waktu setelah vaksinasi, maupun tanggal pemberian vaksin.
Hal yang sama disampaikan oleh Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Kedokteran Universitas Dian Nuswantoro, dr. Andreas Wilson Setiawan, M.Kes. Ia menegaskan tidak ada kaitan antara autisme dan vaksinasi.
“Autisme adalah gangguan perkembangan saraf yang dipengaruhi oleh banyak faktor, terutama faktor genetik dan perkembangan otak sejak dini, bukan disebabkan oleh vaksinasi,” paparnya.
Wilson menerangkan, klaim bahwa MMR menyebabkan autisme berasal dari sebuah studi kecil tahun 1998 oleh Andrew Wakefield yang kemudian terbukti bermasalah secara serius. Studi tersebut akhirnya ditarik (retracted) oleh jurnal The Lancet karena data yang tidak valid, pelanggaran etik, serta dugaan manipulasi data. Bahkan, British Medical Journal menyebutnya sebagai “elaborate fraud.”
“Jadi, sampai saat ini, konsensus ilmiah global menyatakan bahwa vaksin MMR tidak menyebabkan autisme,” tuturnya.
Wilson menyebut, Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang umum setelah vaksin MMR biasanya ringan, seperti: demam ringan, nyeri atau kemerahan di tempat suntikan, ruam ringan sementara, anak menjadi rewel, dan pembengkakan ringan pada kelenjar.
“Gejala ini biasanya muncul beberapa hari setelah imunisasi dan akan membaik sendiri,” tuturnya.
Ia menambahkan, KIPI berat seperti reaksi alergi berat (anafilaksis) sangat jarang terjadi. Risiko ini jauh lebih kecil dibanding risiko terkena penyakit campak, gondongan, atau rubella itu sendiri.
Baca juga:IDAI Nilai Tingginya Kasus Campak akibat Vaksinasi Tak Optimal
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelusuran fakta, klaim yang menyatakan bahwa vaksin MMR dapat menyebabkan autisme pada anak adalah salah dan menyesatkan (false and misleading).
Klaim bahwa vaksin MMR menyebabkan autisme tidak didukung bukti ilmiah. Berbagai penelitian tidak menemukan hubungan antara vaksin MMR dan gangguan spektrum autisme (ASD). Klaim tersebut berasal dari studi Andrew Wakefield tahun 1998 yang telah ditarik karena masalah etik dan data yang tidak valid.
Ahli medis menegaskan autisme dipengaruhi faktor genetik dan perkembangan saraf, bukan vaksinasi. Efek samping vaksin MMR umumnya ringan dan sementara.
==
Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.
Klaim bahwa vaksin MMR menyebabkan autisme tidak didukung bukti ilmiah. Berbagai penelitian tidak menemukan hubungan antara vaksin MMR dan gangguan spektrum autisme (ASD). Klaim tersebut berasal dari studi Andrew Wakefield tahun 1998 yang telah ditarik karena masalah etik dan data yang tidak valid.
Ahli medis menegaskan autisme dipengaruhi faktor genetik dan perkembangan saraf, bukan vaksinasi. Efek samping vaksin MMR umumnya ringan dan sementara.
==
Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.
Rujukan
- https://www.facebook.com/reel/710918592072612
- https://archive.ph/WIG6v
- https://tirto.id/keliru-laki-laki-tak-perlu-mendapatkan-vaksin-hpv-hvi8
- https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK554450/
- https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/18769550/
- https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/12421889/
- https://tirto.id/idai-nilai-tingginya-kasus-campak-akibat-vaksinasi-tak-optimal-huc4
Hoaks, Vaksin MMR Sebabkan Autisme pada Anak
Sumber:Tanggal publish: 01/05/2026
Berita
tirto.id - Narasi negatif tentang imunisasi terus beredar di media sosial. Salah satu yang ramai diperbincangkan adalah vaksin Measles, Mumps, dan Rubella (MMR) dapat menyebabkan autisme bagi anak.
Klaim tersebut diunggah oleh akun Facebook bernama “Senja Kelana” (arsip) pada 24 Desember 2025. Pengunggah menarasikan bahwa vaksin campak berujung pada autisme, sekaligus mendorong masyarakat melakukan “detox vaksin” untuk mengeluarkan zat yang disebut berbahaya dari tubuh.
let gpt_inline2 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline2.cmd.push(function() {gpt_inline2.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-2', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline2-passback').addService(gpt_inline2.pubads());gpt_inline2.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline2.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline2.enableServices();gpt_inline2.display('gpt-inline2-passback');});
Unggahan itu berbunyi:
let gpt_inline3 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline3.cmd.push(function() {gpt_inline3.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-3', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline3-passback').addService(gpt_inline3.pubads());gpt_inline3.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline3.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline3.enableServices();gpt_inline3.display('gpt-inline3-passback');});
#gpt-inline3-passback{text-align:center;}
“VAKSIN CAMPAK BERAKIBAT AUTIS..!
let gpt_inline4 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline4.cmd.push(function() {gpt_inline4.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-4', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline4-passback').addService(gpt_inline4.pubads());gpt_inline4.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline4.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline4.enableServices();gpt_inline4.display('gpt-inline4-passback');});
#gpt-inline4-passback{text-align:center;}
...
JANGAN SALAHKAN ALLOH SWT DENGAN MENGATAKAN.. "SUDAH TAKDIR..!", SEBAB KALIAN DIBERI OTAK/ AKAL OLEH ALLOH TA'ALA UNTUK BERTANYA, "APA SAJA JEROAN VAKSIN YG AKAN DISUNTIKKAN KE DALAM ANAKKU..??!!"
Terlanjur divaksin? TAUBATLAH..!!!! CEPAT Keluarkan Zat-zat Laknat Vaksin / imunisasinya dengan cara 3in1 Langsung Bersamaan Dengan izin Alloh SWT. SEBELUM TERLAMBAT..!
DETOX VAKSIN
Jakarta, 28 Des 25
Surabaya, 28 Des 25
LOMBOK, 4 Jan 26.”
Hingga artikel ini ditulis pada Kamis (30/04/2026), unggahan tersebut telah mendapatkan 19 tanda suka, satu komentar, dan dibagikan sebanyak 10 kali.
Lantas, bagaimana kebenaran klaim tersebut?
Baca juga:Keliru, Laki-laki Tak Perlu Mendapatkan Vaksin HPV
Periksa Fakta Vaksin Rubella Bikin Autis. FOTO/Hotline Periksa Fakta Tirto
Klaim tersebut diunggah oleh akun Facebook bernama “Senja Kelana” (arsip) pada 24 Desember 2025. Pengunggah menarasikan bahwa vaksin campak berujung pada autisme, sekaligus mendorong masyarakat melakukan “detox vaksin” untuk mengeluarkan zat yang disebut berbahaya dari tubuh.
let gpt_inline2 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline2.cmd.push(function() {gpt_inline2.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-2', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline2-passback').addService(gpt_inline2.pubads());gpt_inline2.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline2.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline2.enableServices();gpt_inline2.display('gpt-inline2-passback');});
Unggahan itu berbunyi:
let gpt_inline3 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline3.cmd.push(function() {gpt_inline3.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-3', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline3-passback').addService(gpt_inline3.pubads());gpt_inline3.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline3.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline3.enableServices();gpt_inline3.display('gpt-inline3-passback');});
#gpt-inline3-passback{text-align:center;}
“VAKSIN CAMPAK BERAKIBAT AUTIS..!
let gpt_inline4 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline4.cmd.push(function() {gpt_inline4.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-4', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline4-passback').addService(gpt_inline4.pubads());gpt_inline4.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline4.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline4.enableServices();gpt_inline4.display('gpt-inline4-passback');});
#gpt-inline4-passback{text-align:center;}
...
JANGAN SALAHKAN ALLOH SWT DENGAN MENGATAKAN.. "SUDAH TAKDIR..!", SEBAB KALIAN DIBERI OTAK/ AKAL OLEH ALLOH TA'ALA UNTUK BERTANYA, "APA SAJA JEROAN VAKSIN YG AKAN DISUNTIKKAN KE DALAM ANAKKU..??!!"
Terlanjur divaksin? TAUBATLAH..!!!! CEPAT Keluarkan Zat-zat Laknat Vaksin / imunisasinya dengan cara 3in1 Langsung Bersamaan Dengan izin Alloh SWT. SEBELUM TERLAMBAT..!
DETOX VAKSIN
Jakarta, 28 Des 25
Surabaya, 28 Des 25
LOMBOK, 4 Jan 26.”
Hingga artikel ini ditulis pada Kamis (30/04/2026), unggahan tersebut telah mendapatkan 19 tanda suka, satu komentar, dan dibagikan sebanyak 10 kali.
Lantas, bagaimana kebenaran klaim tersebut?
Baca juga:Keliru, Laki-laki Tak Perlu Mendapatkan Vaksin HPV
Periksa Fakta Vaksin Rubella Bikin Autis. FOTO/Hotline Periksa Fakta Tirto
Hasil Cek Fakta
Perlu diketahui, melansir National Library of Medicine campak adalah infeksi virus yang sangat menular yang disebabkan oleh virus campak, terutama menyerang sistem pernapasan dan ditandai dengan demam, batuk, konjungtivitis, dan ruam yang khas.
Penularan terjadi melalui tetesan pernapasan, sehingga mudah menyebar di populasi yang tidak divaksinasi. Komplikasi dapat meliputi pneumonia, ensefalitis, dan dalam kasus yang jarang terjadi, kematian, terutama pada anak kecil dan individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.
Vaksin MMR secara efektif mencegah campak dengan merangsang sistem kekebalan tubuh untuk menghasilkan antibodi terhadap virus hidup yang dilemahkan.
Kembali pada klaim unggahan, pengunggah menyoroti bahwa vaksinasi MMR pada anak dapat menyebabkan autisme. Untuk membuktikan klaim tersebut, Tirto menelusuri penelitian ilmiah yang secara khusus membahas kaitan antara imunisasi dan Autism Spectrum Disorder (ASD).
Sejumlah penelitian justru tidak menemukan bukti yang menunjukkan keterkaitan antara vaksin campak dan autisme. Salah satunya studi oleh Hornig M, dkk (2008) yang menganalisis sampel jaringan usus besar guna mendeteksi RNA virus campak.
Penelitian tersebut melibatkan 25 anak dengan autisme dan 13 anak non-autisme sebagai kelompok kontrol. Hasilnya, hanya ditemukan satu kasus RNA virus campak pada masing-masing kelompok, sehingga tidak menunjukkan adanya hubungan antara vaksin campak dan autisme.
Temuan serupa juga terlihat dalam penelitian yang dilakukan oleh Kreesten Meldgaard Madsen, dkk (2002). Studi tersebut melibatkan lebih dari 537 ribu anak yang diamati selama periode 1991-1998. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan antara gangguan spektrum autisme (ASD) dengan usia saat menerima vaksin, rentang waktu setelah vaksinasi, maupun tanggal pemberian vaksin.
Hal yang sama disampaikan oleh Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Kedokteran Universitas Dian Nuswantoro, dr. Andreas Wilson Setiawan, M.Kes. Ia menegaskan tidak ada kaitan antara autisme dan vaksinasi.
“Autisme adalah gangguan perkembangan saraf yang dipengaruhi oleh banyak faktor, terutama faktor genetik dan perkembangan otak sejak dini, bukan disebabkan oleh vaksinasi,” paparnya.
Wilson menerangkan, klaim bahwa MMR menyebabkan autisme berasal dari sebuah studi kecil tahun 1998 oleh Andrew Wakefield yang kemudian terbukti bermasalah secara serius. Studi tersebut akhirnya ditarik (retracted) oleh jurnal The Lancet karena data yang tidak valid, pelanggaran etik, serta dugaan manipulasi data. Bahkan, British Medical Journal menyebutnya sebagai “elaborate fraud.”
“Jadi, sampai saat ini, konsensus ilmiah global menyatakan bahwa vaksin MMR tidak menyebabkan autisme,” tuturnya.
Wilson menyebut, Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang umum setelah vaksin MMR biasanya ringan, seperti: demam ringan, nyeri atau kemerahan di tempat suntikan, ruam ringan sementara, anak menjadi rewel, dan pembengkakan ringan pada kelenjar.
“Gejala ini biasanya muncul beberapa hari setelah imunisasi dan akan membaik sendiri,” tuturnya.
Ia menambahkan, KIPI berat seperti reaksi alergi berat (anafilaksis) sangat jarang terjadi. Risiko ini jauh lebih kecil dibanding risiko terkena penyakit campak, gondongan, atau rubella itu sendiri.
Baca juga:IDAI Nilai Tingginya Kasus Campak akibat Vaksinasi Tak Optimal
Penularan terjadi melalui tetesan pernapasan, sehingga mudah menyebar di populasi yang tidak divaksinasi. Komplikasi dapat meliputi pneumonia, ensefalitis, dan dalam kasus yang jarang terjadi, kematian, terutama pada anak kecil dan individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.
Vaksin MMR secara efektif mencegah campak dengan merangsang sistem kekebalan tubuh untuk menghasilkan antibodi terhadap virus hidup yang dilemahkan.
Kembali pada klaim unggahan, pengunggah menyoroti bahwa vaksinasi MMR pada anak dapat menyebabkan autisme. Untuk membuktikan klaim tersebut, Tirto menelusuri penelitian ilmiah yang secara khusus membahas kaitan antara imunisasi dan Autism Spectrum Disorder (ASD).
Sejumlah penelitian justru tidak menemukan bukti yang menunjukkan keterkaitan antara vaksin campak dan autisme. Salah satunya studi oleh Hornig M, dkk (2008) yang menganalisis sampel jaringan usus besar guna mendeteksi RNA virus campak.
Penelitian tersebut melibatkan 25 anak dengan autisme dan 13 anak non-autisme sebagai kelompok kontrol. Hasilnya, hanya ditemukan satu kasus RNA virus campak pada masing-masing kelompok, sehingga tidak menunjukkan adanya hubungan antara vaksin campak dan autisme.
Temuan serupa juga terlihat dalam penelitian yang dilakukan oleh Kreesten Meldgaard Madsen, dkk (2002). Studi tersebut melibatkan lebih dari 537 ribu anak yang diamati selama periode 1991-1998. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan antara gangguan spektrum autisme (ASD) dengan usia saat menerima vaksin, rentang waktu setelah vaksinasi, maupun tanggal pemberian vaksin.
Hal yang sama disampaikan oleh Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Kedokteran Universitas Dian Nuswantoro, dr. Andreas Wilson Setiawan, M.Kes. Ia menegaskan tidak ada kaitan antara autisme dan vaksinasi.
“Autisme adalah gangguan perkembangan saraf yang dipengaruhi oleh banyak faktor, terutama faktor genetik dan perkembangan otak sejak dini, bukan disebabkan oleh vaksinasi,” paparnya.
Wilson menerangkan, klaim bahwa MMR menyebabkan autisme berasal dari sebuah studi kecil tahun 1998 oleh Andrew Wakefield yang kemudian terbukti bermasalah secara serius. Studi tersebut akhirnya ditarik (retracted) oleh jurnal The Lancet karena data yang tidak valid, pelanggaran etik, serta dugaan manipulasi data. Bahkan, British Medical Journal menyebutnya sebagai “elaborate fraud.”
“Jadi, sampai saat ini, konsensus ilmiah global menyatakan bahwa vaksin MMR tidak menyebabkan autisme,” tuturnya.
Wilson menyebut, Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang umum setelah vaksin MMR biasanya ringan, seperti: demam ringan, nyeri atau kemerahan di tempat suntikan, ruam ringan sementara, anak menjadi rewel, dan pembengkakan ringan pada kelenjar.
“Gejala ini biasanya muncul beberapa hari setelah imunisasi dan akan membaik sendiri,” tuturnya.
Ia menambahkan, KIPI berat seperti reaksi alergi berat (anafilaksis) sangat jarang terjadi. Risiko ini jauh lebih kecil dibanding risiko terkena penyakit campak, gondongan, atau rubella itu sendiri.
Baca juga:IDAI Nilai Tingginya Kasus Campak akibat Vaksinasi Tak Optimal
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelusuran fakta, klaim yang menyatakan bahwa vaksin MMR dapat menyebabkan autisme pada anak adalah salah dan menyesatkan (false and misleading).
Klaim bahwa vaksin MMR menyebabkan autisme tidak didukung bukti ilmiah. Berbagai penelitian tidak menemukan hubungan antara vaksin MMR dan gangguan spektrum autisme (ASD). Klaim tersebut berasal dari studi Andrew Wakefield tahun 1998 yang telah ditarik karena masalah etik dan data yang tidak valid.
Ahli medis menegaskan autisme dipengaruhi faktor genetik dan perkembangan saraf, bukan vaksinasi. Efek samping vaksin MMR umumnya ringan dan sementara.
==
Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.
Klaim bahwa vaksin MMR menyebabkan autisme tidak didukung bukti ilmiah. Berbagai penelitian tidak menemukan hubungan antara vaksin MMR dan gangguan spektrum autisme (ASD). Klaim tersebut berasal dari studi Andrew Wakefield tahun 1998 yang telah ditarik karena masalah etik dan data yang tidak valid.
Ahli medis menegaskan autisme dipengaruhi faktor genetik dan perkembangan saraf, bukan vaksinasi. Efek samping vaksin MMR umumnya ringan dan sementara.
==
Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.
Rujukan
- https://www.facebook.com/reel/710918592072612
- https://archive.ph/WIG6v
- https://tirto.id/keliru-laki-laki-tak-perlu-mendapatkan-vaksin-hpv-hvi8
- https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK554450/
- https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/18769550/
- https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/12421889/
- https://tirto.id/idai-nilai-tingginya-kasus-campak-akibat-vaksinasi-tak-optimal-huc4
Hoaks, Vaksin MMR Sebabkan Autisme pada Anak
Sumber:Tanggal publish: 01/05/2026
Berita
tirto.id - Narasi negatif tentang imunisasi terus beredar di media sosial. Salah satu yang ramai diperbincangkan adalah vaksin Measles, Mumps, dan Rubella (MMR) dapat menyebabkan autisme bagi anak.
Klaim tersebut diunggah oleh akun Facebook bernama “Senja Kelana” (arsip) pada 24 Desember 2025. Pengunggah menarasikan bahwa vaksin campak berujung pada autisme, sekaligus mendorong masyarakat melakukan “detox vaksin” untuk mengeluarkan zat yang disebut berbahaya dari tubuh.
let gpt_inline2 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline2.cmd.push(function() {gpt_inline2.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-2', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline2-passback').addService(gpt_inline2.pubads());gpt_inline2.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline2.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline2.enableServices();gpt_inline2.display('gpt-inline2-passback');});
Unggahan itu berbunyi:
let gpt_inline3 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline3.cmd.push(function() {gpt_inline3.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-3', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline3-passback').addService(gpt_inline3.pubads());gpt_inline3.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline3.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline3.enableServices();gpt_inline3.display('gpt-inline3-passback');});
#gpt-inline3-passback{text-align:center;}
“VAKSIN CAMPAK BERAKIBAT AUTIS..!
let gpt_inline4 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline4.cmd.push(function() {gpt_inline4.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-4', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline4-passback').addService(gpt_inline4.pubads());gpt_inline4.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline4.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline4.enableServices();gpt_inline4.display('gpt-inline4-passback');});
#gpt-inline4-passback{text-align:center;}
...
JANGAN SALAHKAN ALLOH SWT DENGAN MENGATAKAN.. "SUDAH TAKDIR..!", SEBAB KALIAN DIBERI OTAK/ AKAL OLEH ALLOH TA'ALA UNTUK BERTANYA, "APA SAJA JEROAN VAKSIN YG AKAN DISUNTIKKAN KE DALAM ANAKKU..??!!"
Terlanjur divaksin? TAUBATLAH..!!!! CEPAT Keluarkan Zat-zat Laknat Vaksin / imunisasinya dengan cara 3in1 Langsung Bersamaan Dengan izin Alloh SWT. SEBELUM TERLAMBAT..!
DETOX VAKSIN
Jakarta, 28 Des 25
Surabaya, 28 Des 25
LOMBOK, 4 Jan 26.”
Hingga artikel ini ditulis pada Kamis (30/04/2026), unggahan tersebut telah mendapatkan 19 tanda suka, satu komentar, dan dibagikan sebanyak 10 kali.
Lantas, bagaimana kebenaran klaim tersebut?
Baca juga:Keliru, Laki-laki Tak Perlu Mendapatkan Vaksin HPV
Periksa Fakta Vaksin Rubella Bikin Autis. FOTO/Hotline Periksa Fakta Tirto
Klaim tersebut diunggah oleh akun Facebook bernama “Senja Kelana” (arsip) pada 24 Desember 2025. Pengunggah menarasikan bahwa vaksin campak berujung pada autisme, sekaligus mendorong masyarakat melakukan “detox vaksin” untuk mengeluarkan zat yang disebut berbahaya dari tubuh.
let gpt_inline2 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline2.cmd.push(function() {gpt_inline2.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-2', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline2-passback').addService(gpt_inline2.pubads());gpt_inline2.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline2.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline2.enableServices();gpt_inline2.display('gpt-inline2-passback');});
Unggahan itu berbunyi:
let gpt_inline3 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline3.cmd.push(function() {gpt_inline3.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-3', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline3-passback').addService(gpt_inline3.pubads());gpt_inline3.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline3.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline3.enableServices();gpt_inline3.display('gpt-inline3-passback');});
#gpt-inline3-passback{text-align:center;}
“VAKSIN CAMPAK BERAKIBAT AUTIS..!
let gpt_inline4 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline4.cmd.push(function() {gpt_inline4.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-4', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline4-passback').addService(gpt_inline4.pubads());gpt_inline4.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline4.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline4.enableServices();gpt_inline4.display('gpt-inline4-passback');});
#gpt-inline4-passback{text-align:center;}
...
JANGAN SALAHKAN ALLOH SWT DENGAN MENGATAKAN.. "SUDAH TAKDIR..!", SEBAB KALIAN DIBERI OTAK/ AKAL OLEH ALLOH TA'ALA UNTUK BERTANYA, "APA SAJA JEROAN VAKSIN YG AKAN DISUNTIKKAN KE DALAM ANAKKU..??!!"
Terlanjur divaksin? TAUBATLAH..!!!! CEPAT Keluarkan Zat-zat Laknat Vaksin / imunisasinya dengan cara 3in1 Langsung Bersamaan Dengan izin Alloh SWT. SEBELUM TERLAMBAT..!
DETOX VAKSIN
Jakarta, 28 Des 25
Surabaya, 28 Des 25
LOMBOK, 4 Jan 26.”
Hingga artikel ini ditulis pada Kamis (30/04/2026), unggahan tersebut telah mendapatkan 19 tanda suka, satu komentar, dan dibagikan sebanyak 10 kali.
Lantas, bagaimana kebenaran klaim tersebut?
Baca juga:Keliru, Laki-laki Tak Perlu Mendapatkan Vaksin HPV
Periksa Fakta Vaksin Rubella Bikin Autis. FOTO/Hotline Periksa Fakta Tirto
Hasil Cek Fakta
Perlu diketahui, melansir National Library of Medicine campak adalah infeksi virus yang sangat menular yang disebabkan oleh virus campak, terutama menyerang sistem pernapasan dan ditandai dengan demam, batuk, konjungtivitis, dan ruam yang khas.
Penularan terjadi melalui tetesan pernapasan, sehingga mudah menyebar di populasi yang tidak divaksinasi. Komplikasi dapat meliputi pneumonia, ensefalitis, dan dalam kasus yang jarang terjadi, kematian, terutama pada anak kecil dan individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.
Vaksin MMR secara efektif mencegah campak dengan merangsang sistem kekebalan tubuh untuk menghasilkan antibodi terhadap virus hidup yang dilemahkan.
Kembali pada klaim unggahan, pengunggah menyoroti bahwa vaksinasi MMR pada anak dapat menyebabkan autisme. Untuk membuktikan klaim tersebut, Tirto menelusuri penelitian ilmiah yang secara khusus membahas kaitan antara imunisasi dan Autism Spectrum Disorder (ASD).
Sejumlah penelitian justru tidak menemukan bukti yang menunjukkan keterkaitan antara vaksin campak dan autisme. Salah satunya studi oleh Hornig M, dkk (2008) yang menganalisis sampel jaringan usus besar guna mendeteksi RNA virus campak.
Penelitian tersebut melibatkan 25 anak dengan autisme dan 13 anak non-autisme sebagai kelompok kontrol. Hasilnya, hanya ditemukan satu kasus RNA virus campak pada masing-masing kelompok, sehingga tidak menunjukkan adanya hubungan antara vaksin campak dan autisme.
Temuan serupa juga terlihat dalam penelitian yang dilakukan oleh Kreesten Meldgaard Madsen, dkk (2002). Studi tersebut melibatkan lebih dari 537 ribu anak yang diamati selama periode 1991-1998. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan antara gangguan spektrum autisme (ASD) dengan usia saat menerima vaksin, rentang waktu setelah vaksinasi, maupun tanggal pemberian vaksin.
Hal yang sama disampaikan oleh Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Kedokteran Universitas Dian Nuswantoro, dr. Andreas Wilson Setiawan, M.Kes. Ia menegaskan tidak ada kaitan antara autisme dan vaksinasi.
“Autisme adalah gangguan perkembangan saraf yang dipengaruhi oleh banyak faktor, terutama faktor genetik dan perkembangan otak sejak dini, bukan disebabkan oleh vaksinasi,” paparnya.
Wilson menerangkan, klaim bahwa MMR menyebabkan autisme berasal dari sebuah studi kecil tahun 1998 oleh Andrew Wakefield yang kemudian terbukti bermasalah secara serius. Studi tersebut akhirnya ditarik (retracted) oleh jurnal The Lancet karena data yang tidak valid, pelanggaran etik, serta dugaan manipulasi data. Bahkan, British Medical Journal menyebutnya sebagai “elaborate fraud.”
“Jadi, sampai saat ini, konsensus ilmiah global menyatakan bahwa vaksin MMR tidak menyebabkan autisme,” tuturnya.
Wilson menyebut, Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang umum setelah vaksin MMR biasanya ringan, seperti: demam ringan, nyeri atau kemerahan di tempat suntikan, ruam ringan sementara, anak menjadi rewel, dan pembengkakan ringan pada kelenjar.
“Gejala ini biasanya muncul beberapa hari setelah imunisasi dan akan membaik sendiri,” tuturnya.
Ia menambahkan, KIPI berat seperti reaksi alergi berat (anafilaksis) sangat jarang terjadi. Risiko ini jauh lebih kecil dibanding risiko terkena penyakit campak, gondongan, atau rubella itu sendiri.
Baca juga:IDAI Nilai Tingginya Kasus Campak akibat Vaksinasi Tak Optimal
Penularan terjadi melalui tetesan pernapasan, sehingga mudah menyebar di populasi yang tidak divaksinasi. Komplikasi dapat meliputi pneumonia, ensefalitis, dan dalam kasus yang jarang terjadi, kematian, terutama pada anak kecil dan individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.
Vaksin MMR secara efektif mencegah campak dengan merangsang sistem kekebalan tubuh untuk menghasilkan antibodi terhadap virus hidup yang dilemahkan.
Kembali pada klaim unggahan, pengunggah menyoroti bahwa vaksinasi MMR pada anak dapat menyebabkan autisme. Untuk membuktikan klaim tersebut, Tirto menelusuri penelitian ilmiah yang secara khusus membahas kaitan antara imunisasi dan Autism Spectrum Disorder (ASD).
Sejumlah penelitian justru tidak menemukan bukti yang menunjukkan keterkaitan antara vaksin campak dan autisme. Salah satunya studi oleh Hornig M, dkk (2008) yang menganalisis sampel jaringan usus besar guna mendeteksi RNA virus campak.
Penelitian tersebut melibatkan 25 anak dengan autisme dan 13 anak non-autisme sebagai kelompok kontrol. Hasilnya, hanya ditemukan satu kasus RNA virus campak pada masing-masing kelompok, sehingga tidak menunjukkan adanya hubungan antara vaksin campak dan autisme.
Temuan serupa juga terlihat dalam penelitian yang dilakukan oleh Kreesten Meldgaard Madsen, dkk (2002). Studi tersebut melibatkan lebih dari 537 ribu anak yang diamati selama periode 1991-1998. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan antara gangguan spektrum autisme (ASD) dengan usia saat menerima vaksin, rentang waktu setelah vaksinasi, maupun tanggal pemberian vaksin.
Hal yang sama disampaikan oleh Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Kedokteran Universitas Dian Nuswantoro, dr. Andreas Wilson Setiawan, M.Kes. Ia menegaskan tidak ada kaitan antara autisme dan vaksinasi.
“Autisme adalah gangguan perkembangan saraf yang dipengaruhi oleh banyak faktor, terutama faktor genetik dan perkembangan otak sejak dini, bukan disebabkan oleh vaksinasi,” paparnya.
Wilson menerangkan, klaim bahwa MMR menyebabkan autisme berasal dari sebuah studi kecil tahun 1998 oleh Andrew Wakefield yang kemudian terbukti bermasalah secara serius. Studi tersebut akhirnya ditarik (retracted) oleh jurnal The Lancet karena data yang tidak valid, pelanggaran etik, serta dugaan manipulasi data. Bahkan, British Medical Journal menyebutnya sebagai “elaborate fraud.”
“Jadi, sampai saat ini, konsensus ilmiah global menyatakan bahwa vaksin MMR tidak menyebabkan autisme,” tuturnya.
Wilson menyebut, Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang umum setelah vaksin MMR biasanya ringan, seperti: demam ringan, nyeri atau kemerahan di tempat suntikan, ruam ringan sementara, anak menjadi rewel, dan pembengkakan ringan pada kelenjar.
“Gejala ini biasanya muncul beberapa hari setelah imunisasi dan akan membaik sendiri,” tuturnya.
Ia menambahkan, KIPI berat seperti reaksi alergi berat (anafilaksis) sangat jarang terjadi. Risiko ini jauh lebih kecil dibanding risiko terkena penyakit campak, gondongan, atau rubella itu sendiri.
Baca juga:IDAI Nilai Tingginya Kasus Campak akibat Vaksinasi Tak Optimal
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelusuran fakta, klaim yang menyatakan bahwa vaksin MMR dapat menyebabkan autisme pada anak adalah salah dan menyesatkan (false and misleading).
Klaim bahwa vaksin MMR menyebabkan autisme tidak didukung bukti ilmiah. Berbagai penelitian tidak menemukan hubungan antara vaksin MMR dan gangguan spektrum autisme (ASD). Klaim tersebut berasal dari studi Andrew Wakefield tahun 1998 yang telah ditarik karena masalah etik dan data yang tidak valid.
Ahli medis menegaskan autisme dipengaruhi faktor genetik dan perkembangan saraf, bukan vaksinasi. Efek samping vaksin MMR umumnya ringan dan sementara.
==
Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.
Klaim bahwa vaksin MMR menyebabkan autisme tidak didukung bukti ilmiah. Berbagai penelitian tidak menemukan hubungan antara vaksin MMR dan gangguan spektrum autisme (ASD). Klaim tersebut berasal dari studi Andrew Wakefield tahun 1998 yang telah ditarik karena masalah etik dan data yang tidak valid.
Ahli medis menegaskan autisme dipengaruhi faktor genetik dan perkembangan saraf, bukan vaksinasi. Efek samping vaksin MMR umumnya ringan dan sementara.
==
Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.
Rujukan
- https://www.facebook.com/reel/710918592072612
- https://archive.ph/WIG6v
- https://tirto.id/keliru-laki-laki-tak-perlu-mendapatkan-vaksin-hpv-hvi8
- https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK554450/
- https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/18769550/
- https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/12421889/
- https://tirto.id/idai-nilai-tingginya-kasus-campak-akibat-vaksinasi-tak-optimal-huc4
Halaman: 230/8640



