• Salah, Rencana Rusia Bangun Pangkalan Militer di Papua

    Sumber:
    Tanggal publish: 13/04/2026

    Berita

    tirto.id - Sebuah video beredar di media sosial Facebook mengklaim Rusia akan mendirikan pangkalan militer di Papua. Dalam unggahan disebutkan alasan Rusia ingin mendaratkan pesawat militernya di Papua untuk membantu dan melindungi Indonesia dari pengaruh negara-negara Barat.



    Unggahan tersebut diunggah oleh akun Facebook bernama “Journal Idn” (arsip) Selasa, 7 April 2026. Dalam video berdurasi 7 detik tersebut, pada awal cuplikan ditampilkan peta Biak dan Guam, kemudian disusul dengan gambar pesawat tempur.

    let gpt_inline2 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline2.cmd.push(function() {gpt_inline2.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-2', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline2-passback').addService(gpt_inline2.pubads());gpt_inline2.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline2.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline2.enableServices();gpt_inline2.display('gpt-inline2-passback');});

    “SAAT PER4NG MEM4N4S TIBA-TIBA RUSIA MAU BIKIN PANGKALAN MILITER DI PAPUA! ADA APA SEBENARNYA? Muncul wacana tentang rencana Rusia yang ingin mendaratkan pesawat militernya di Papua, dengan alasan untuk membantu melindungi Indonesia dari negara-negara Barat, sekaligus menyeimbangkan kekuatan terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di Australia. Langkah ini tentu menimbulkan pertanyaan dan perdebatan. Menurut kamu Setuju atau tolak? SUARA MU PENTING.” Begitu keterangan tertulis dalam video.

    let gpt_inline3 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline3.cmd.push(function() {gpt_inline3.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-3', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline3-passback').addService(gpt_inline3.pubads());gpt_inline3.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline3.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline3.enableServices();gpt_inline3.display('gpt-inline3-passback');});

    #gpt-inline3-passback{text-align:center;}

    Sampai artikel ini ditulis pada Senin (13/04/2026), unggahan tersebut telah mendapatkan 957 likes, 238 komentar, 15 kali dibagikan, dan 167 ribu kali ditayangkan. Kolom komentar terbagi dua sebagian masyarakat setuju dengan alasan pangkalan militer dibuat untuk Indonesia dan yang lainnya tidak mempercayai informasi tersebut.

    let gpt_inline4 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline4.cmd.push(function() {gpt_inline4.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-4', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline4-passback').addService(gpt_inline4.pubads());gpt_inline4.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline4.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline4.enableServices();gpt_inline4.display('gpt-inline4-passback');});

    #gpt-inline4-passback{text-align:center;}

    Lantas, bagaimana kebenaran klaim tersebut?

    Baca juga:Prabowo Bertolak ke Rusia, Pastikan Kerja Sama Ketahanan Energi

    Periksa Fakta Pangkalan Militer Rusia di Papua. foto/hotline periksa fakta tirto

    Hasil Cek Fakta

    Untuk memverifikasi klaim tersebut, pertama-tama Tirto menelusuri akun pengunggah. Ditemukan banyak unggahan terkait Iran, Indonesia, Donald Trump, Netanyahu, dan Bahlil yang ditulis dengan narasi yang menggiring opini pengunjung. Akun tersebut memiliki 5,9 ribu pengikut dan YouTube Journal IDN dengan 224 subscriber.

    Dari situ diketahui bahwa akun tersebut tidak terafiliasi dengan media resmi pemerintah, melainkan channel kreator yang membahas semua berita politik, ekonomi, bisnis, kriminal, hukum, internasional, bencana & peristiwa, olahraga, teknologi & sains, kesehatan, hiburan, sosial & budaya, militer & pertahanan, lingkungan, viral & lifestyle, serta umum.

    Kemudian, Tirto melakukan pencarian gambar terbalik (reverse image) untuk menemukan video asli. Hasilnya, tidak ditemukan berita kredibel yang membenarkan klaim bahwa Rusia akan mendaratkan pesawat militernya dan membangun pangkalan militer di Papua.

    Kami justru diarahkan ke laman Kementerian Komunikasi dan Digital yang menyatakan bahwa unggahan di media sosial Facebook yang mengklaim bahwa Rusia akan membuat pangkalan militer di Papua adalah hoaks.

    Melansir laman Kompas, klaim Rusia akan membangun pangkalan militer di Indonesia beredar karena terbitnya sebuah kabar dari media asing tentang kemungkinan kehadiran militer Rusia di Indonesia, tepatnya di Pangkalan TNI Angkatan Udara (Lanud) Manuhua, Biak, Papua.

    Kabar ini mencuat usai pemberitaan yang dikutip oleh kantor berita Antara, menyebut Rusia akan menjadikan Lanud Manuhua sebagai lokasi markas pesawat-pesawat militernya. Laporan tersebut mulanya dilansir oleh media internasional yang fokus di bidang pertahanan, Janes.

    Kementerian Pertahanan RI membantah adanya rencana untuk menjadikan Landasan Udara Manuhua sebagai pangkalan militer Rusia. Kepala Biro Informasi Pertahanan Setjen Kementerian Pertahanan, Brigjen TNI Frega Wenas Inkiriwang, menegaskan bahwa informasi tersebut tidak benar.

    “Terkait pemberitaan tentang usulan penggunaan pangkalan Indonesia oleh Rusia, Kemhan mengklarifikasi bahwa berita tersebut tidak benar,” begitu keterangan Frega pada Kompas.com, Selasa (15/4/2025).

    Adapun pertemuan antara Menhan RI Sjafrie Sjamsoeddin dan Sekretaris Dewan Keamanan Rusia pada Februari lalu, dalam kerangka hubungan bilateral dan tidak mencakup pembicaraan strategis soal pangkalan militer.

    Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI dan Kementerian Luar Negeri menegaskan tidak pernah ada izin atau rencana pembangunan pangkalan militer asing, termasuk Rusia, di wilayah Indonesia. Dengan demikian, narasi yang beredar di media sosial mengenai pembangunan pangkalan di Papua adalah tidak benar.

    Baca juga:Prabowo ke Rusia Besok, Temui Putin demi Amankan Pasokan Energi

    Kesimpulan

    Hasil penelusuran menunjukkan bahwa klaim yang menyebutkan Rusia akan membangun pangkalan militer di Indonesia adalah bersifat salah dan menyesatkan (false and misleading).

    Pertemuan antara Menhan RI Sjafrie Sjamsoeddin dan Sekretaris Dewan Keamanan Rusia pada Februari lalu, dalam kerangka hubungan bilateral dan tidak mencakup pembicaraan strategis soal pangkalan militer.

    Kementerian Pertahanan RI membantah adanya rencana untuk menjadikan Landasan Udara Manuhua sebagai pangkalan militer Rusia. Sampai artikel ini ditulis tidak ditemukan informasi dari media kredibel yang membenarkan klaim tersebut.

    ==

    Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.

    Rujukan

    • Tirto.id
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Terkonfirmasi Iran Menyerang Kapal Tanker Terkait AS di Selat Hormuz

    Sumber: X
    Tanggal publish: 13/04/2026

    Berita

    Pada Jumat (6/03/2026), beredar sebuah video (arsip cadangan) di X oleh akun “Sumatera Adil & Federal” (@indepenSumatera) dengan narasi: 

    “BERITA TERKINI ‼️
    terkonfirmasi Iran menyerang kapal tanker minyak terkait AS di Selat Hormuz.
    Hidup Iran🇮🇷”

    di unggahannya.

    Per tangkapan layar dibuat unggahan tersebut sudah dilihat 59.1 ribu kali, mendapatkan 49 jawaban, di-post ulang 433 kali, disukai 2.6 ribu kali, dan  disimpan sebagai favorit oleh 29 pengguna X lainnya.

    Hasil Cek Fakta

    Tim Pemeriksa Fakta MAFINDO (TurnBackHoax) memeriksa gambar pratinjau (thumbnail) dari video yang disebarkan menggunakan Google Lens, hasilnya ditemukan beberapa sumber yang membagikan video sebelumnya dengan konteks yang benar. 

    Akun-akun pengamat pergerakan kapal “Shipspotter Hayri YAY” (@shipspotter_hayriyay) di Instagram dan “Ed Finley–Richardson” (@ed_fin) di X menyatakan bahwa  video yang disebarkan adalah video tabrakan antara kapal Adalynn dan Front Eagle VLCC pada 17 Juni 2025, bukan karena diserang oleh pihak militer Iran. 

    Sumber-sumber lainnya yang mengkoroborasi mendukung sumber-sumber di atas adalah artikel oleh situs “Asia Shipping Media” (splash247.com) dan hasil pencarian Google News dengan kata kunci “adalynn front eagle collision” yang menampilkan artikel dari situs-situs media yang meliput peristiwa tersebut. 

    Selain itu, MAFINDO sudah pernah memeriksa fakta sebelumnya di artikel “[SALAH] Kapal Tanker Terbakar karena Iran Melarang Selat Hormuz untuk Dilewati” pada tahun 2025 lalu.

    Kesimpulan

    Faktanya, video yang dibagikan adalah video tabrakan antara kapal Adalynn dan Front Eagle VLCC pada 17 Juni 2025 lalu. Unggahan yang berisi video dengan klaim Iran terkonfirmasi menyerang kapal tanker yang terkait Amerika Serikat merupakan kategori konten yang menyesatkan (misleading content).

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • Cek Fakta: Hoaks Menlu Iran Abbas Araghchi Sebut Presiden Prabowo sebagai Pecundang

    Sumber:
    Tanggal publish: 13/04/2026

    Berita


    Liputan6.com, Jakarta - Tim Cek Fakta menemukan postingan Menlu Iran Abbas Araghchi menyebut Presiden Prabowo sebagai pecundang. Postingan itu beredar sejak pekan lalu.
    Salah satu akun ada yang mengunggahnya di Facebook. Akun itu mempostingnya pada 10 April 2026.
    Dalam postingannya terdapat tangkapan layar dari TV One News dengan foto Abbas Araghchi dan berisi narasi sebagai berikut:
    "Menlu Iran! Prabowo Tak Usah Bicara Rakyat Iran Keras Kepala, Kami Bangsa Iran Punya Prinsip Lebih Baik Mati Membela Rakyat Dari Pada Menjadi Pecundang Membela Amerika Dan Israel Seperti Anda."
    Lalu benarkah postingan Menlu Iran Abbas Araghchi menyebut Presiden Prabowo sebagai pecundang?
    Cek Fakta Liputan6.com menelusuri dengan membuka akun resmi TV One News di Instagram, @tvonenews. Hasilnya ada unggahan yang identik dengan postingan.
    Namun dalam unggahan asli bernarasi "Kecam Serangan Israel ke Lebanon, Menlu Iran: Pilih Gencatan Senjata atau Perang!"
    Unggahan itu disertai narasi:
    "Secara tegas Iran memperingatkan Amerika Serikat untuk harus memilih antara gencatan senjata atau perang berkelanjutan melalui Israel dan tidak bisa keduanya.
    "Syarat-syarat gencatan senjata Iran-AS jelas dan eksplisit, Amerika harus memilih antara gencatan senjata atau perang berkelanjutan melalui Israel. AS tidak dapat memiliki keduanya," tulis Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi di platform X pada Rabu (8/4)."
    Selain itu tidak ada informasi valid terkait pernyataan Menlu Iran pada Presiden Prabowo.

    Hasil Cek Fakta

    Kesimpulan


    Postingan Menlu Iran Abbas Araghchi menyebut Presiden Prabowo sebagai pecundang adalah hoaks.

    Rujukan

    • Liputan 6
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • Hoaks! Netanyahu tantang Indonesia untuk perang di Gaza

    Sumber:
    Tanggal publish: 13/04/2026

    Berita

    Jakarta (ANTARA/JACX) – Sebuah unggahan di media sosial Facebook mengeklaim bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menantang Indonesia untuk berperang di Gaza, Palestina.

    Unggahan tersebut menampilkan potongan video dan narasi yang seolah-olah merupakan pernyataan resmi pemerintah Israel terhadap Indonesia.

    Berikut narasi dalam unggahan tersebut:

    “Israel tantang perang kepada Indonesia untuk perang di Gaza

    Justru merupakan kesempatan emas bagi Indonesia untuk masuk ”

    (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

    Namun, benarkah Benjamin Netanyahu menantang Indonesia untuk berperang di Gaza?



    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan penelusuran, tidak ditemukan pernyataan resmi dari pemerintah Israel maupun laporan dari media kredibel yang membenarkan klaim tersebut.

    Video yang beredar diketahui unggahan YouTube berjudul “Full speech: Israeli Prime Minister Netanyahu speaks at United Nations” yang diunggah pada 23 September 2025.

    Video tersebut merupakan pidato Netanyahu dalam Sidang Majelis Umum PBB ke-80, yang tidak membahas atau menyinggung tantangan perang terhadap Indonesia.

    (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

    Dengan demikian, klaim yang menyebut Benjamin Netanyahu menantang Indonesia untuk berperang di Gaza merupakan informasi yang tidak benar atau hoaks.

    Rating: Netanyahu tantang Indonesia untuk perang di Gaza

    Klaim: Hoaks

    Editor: M Arief Iskandar

    Copyright © ANTARA 2026

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

    Rujukan

    • ANTARA News
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini