• Tidak Benar, Pigai Sebut Kabel Sutet Putus Melanggar HAM

    Sumber:
    Tanggal publish: 02/06/2026

    Berita

    tirto.id - Sebuah unggahan beredar di media sosial Facebook mengklaim Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai menyebutkan bahwa kabel sutet yang putus melanggar HAM karena menyebabkan gelap gulita.

    Unggahan tersebut disebarkan oleh akun Facebook bernama “TruthSpeaker M” (arsip) pada Rabu (27/05/2026). Unggahan tersebut menampilkan dua foto dengan gambar Pigai di bagian atas dan beberapa orang membawa kabel sutet di bagian bawah.

    let gpt_inline2 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline2.cmd.push(function() {gpt_inline2.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-2', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline2-passback').addService(gpt_inline2.pubads());gpt_inline2.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline2.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline2.enableServices();gpt_inline2.display('gpt-inline2-passback');});

    "PIGAI: Kabel Sutet yg putus itu melanggar HAM, karena menyebabkan gelap gulita.” Begitu narasi tertulis dalam unggahan. Pengunggah juga menambahkan keterangan bahwa blackout terjadi karena bentuk solidaritas kepada Pigai karena memiliki kulit yang gelap “Solidaritas Pak Pigai, sebagai orang Gelap.”

    let gpt_inline3 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline3.cmd.push(function() {gpt_inline3.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-3', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline3-passback').addService(gpt_inline3.pubads());gpt_inline3.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline3.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline3.enableServices();gpt_inline3.display('gpt-inline3-passback');});

    #gpt-inline3-passback{text-align:center;}

    Sampai artikel ini ditulis pada Selasa (02/06/2026), unggahan tersebut telah mendapatkan 49 likes, 10 komentar, dan 6 kali dibagikan. Kolom komentar diisi dengan reaksi masyarakat yang menganggap informasi tersebut sebagai lelucon.

    let gpt_inline4 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline4.cmd.push(function() {gpt_inline4.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-4', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline4-passback').addService(gpt_inline4.pubads());gpt_inline4.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline4.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline4.enableServices();gpt_inline4.display('gpt-inline4-passback');});

    #gpt-inline4-passback{text-align:center;}

    Tirto juga menemukan unggahan serupa pada akun Facebook “Irwan Rohil” yang menampilkan gambar serupa terkait klaim Pigai yang menyebut kabel sutet putus adalah pelanggaran HAM.

    Lantas, bagaimana kebenaran klaim tersebut?

    Baca juga:Mendorong PLN Lakukan Evaluasi Usai Blackout Sumatra

    Periksa Fakta Pigai Kabel Sutet Putus Melanggar HAM. Foto/Hotline periksa fakta tirto

    Hasil Cek Fakta

    Untuk memverifikasi klaim tersebut, pertama-tama Tirto melakukan pencarian gambar terbalik (reverse image) untuk menemukan gambar asli. Hasil penelusuran mengarah pada laman Kompas yang menyatakan bahwa kabel transmisi Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) putus di sejumlah wilayah Sumatra pada Jumat (22/5/2026) dan menjadi pemicu blackout massal.

    Bareskrim Polri menunjukkan bukti kabel yang putus dari hasil investigasi tim gabungan bersama PT PLN di lokasi tower transmisi di Desa Temino, Kecamatan Mestong, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi, Minggu (24/5/2026), putusnya kabel diduga dipicu cuaca buruk, yang membuat sistem transmisi keluar dari interkoneksi kelistrikan Sumatra.

    Ketidakstabilan frekuensi dan tegangan listrik yang memicu trip pembangkit secara berantai, menyebabkan blackout di sejumlah wilayah Sumatra, seperti Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Jambi, dan sebagian Sumatra Selatan. Wakabareskrim Polri Irjen Pol Nunung Syaifuddin memastikan, sejauh ini tidak ditemukan indikasi sabotase ataupun unsur kesengajaan dalam insiden blackout tersebut.

    “Kerusakan atau putusnya kabel atau jaringan ini tidak rapi. Dia lebih bersifat atau berbentuk serabut. Jadi kalau itu sabotase, pasti potongan-potongannya lebih rapi,” begitu keterangan Nunung, dikutip Kompas.

    Dalam laman Kompas, Wakil Kepala Bareskrim Polri Irjen Nunung Syaifuddin mengungkap dugaan sementara penyebab putusnya kabel transmisi listrik yang memicu pemadaman listrik atau blackout massal di sebagian besar wilayah Sumatra pada Jumat (22/5/2026). Nunung menyebutkan dugaan awal mengarah pada faktor teknis dan cuaca ekstrem, bukan unsur sabotase.

    “Adapun dugaan sementara penyebab terputusnya kabel transmisi masih dalam proses pendalaman dengan beberapa kemungkinan, antara lain faktor mekanik akibat gesekan dan pengaruh angin, faktor panas akibat sambungan longgar yang menimbulkan rongga, maupun faktor tarikan atau goyangan akibat cuaca ekstrem," begitu keterangan Nunung dalam konferensi pers di Bareskrim Polri, Jakarta, Senin (25/5/2026).

    Melansir akun Instagram @merdekatdotcom, gambar yang beredar yang memperlihatkan beberapa orang memegang kabel sutet merupakan hasil suntingan yang menggabungkan foto Natalius Pigai dengan foto konferensi pers hasil investigasi gangguan sistem kelistrikan (blackout) di wilayah Sumatra oleh Bareskrim Polri pada 25 Mei 2026.

    Natalius Pigai tidak pernah mengikuti konferensi pers di Bareskrim Polri pada tanggal 25 Mei dan Natalius Pigai tidak pernah menyatakan bahwa putusnya kabel SUTET merupakan pelanggaran HAM.

    Dalam konferensi pers tersebut Bareskrim menunjukkan kabel SUTET 275 kV yang putus, yang diduga menjadi penyebab listrik mati di lima provinsi Pulau Sumatra pada Jumat (22/5/2026). Bareskrim juga menyebutkan, tidak menemukan unsur kesengajaan atau sabotase dalam peristiwa blackout massal tersebut. Mereka menduga faktor teknis dan cuaca ekstrem sebagai penyebab peristiwa blackout itu.

    Sampai artikel ini ditulis, tidak ditemukan informasi dari media kredibel yang membenarkan klaim Pigai menyebutkan putusnya kabel sutet merupakan pelanggaran HAM.

    Baca juga:Pemerintah Akan Relokasi 8 Tiang Transmisi Imbas Bencana Sumatra

    Kesimpulan

    Hasil penelusuran menunjukkan, bahwa klaim yang mencatut Pigai sebut kabel sutet putus merupakan pelanggaran HAM karena menyebabkan blackout, bersifat salah dan menyesatkan (false and misleading).

    Pigai tidak pernah menyatakan klaim tersebut. Konferensi pers perihal hasil investigasi gangguan sistem kelistrikan di wilayah Sumatra oleh Bareskrim Polri pada 25 Mei 2026 juga menyebutkan, bahwa kabel sutet putus tersebut diakibatkan oleh faktor teknis dan cuaca ekstrem.

    ==

    Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.

    Rujukan

    • Tirto.id
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Foto "Ratusan Tentara Israel Terbunuh di Perbatasan Selat Hormuz"

    Sumber: FACEBOOK.COM
    Tanggal publish: 01/06/2026

    Berita

    Akun Facebook “Aasif Khan” pada Kamis (7/5/2026) mengunggah foto [arsip] dengan narasi:

    “Ratusan tentara Israel terbunuh oleh Iran di perbatasan Selat Hormuz”

    Per Senin (1/6/2026) unggahan tersebut sudah disukai 1.300 kali, dibagikan 113 kali dan menuai 99 komentar.

    Hasil Cek Fakta

    Tim Pemeriksa Fakta Mafindo (TurnBackHoax)  menganalisis video menggunakan alat deteksi AI, Hive Moderation. Diketahui, foto merupakan hasil rekayasa kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), probabilitas atau kemungkinannya mencapai 99,8 persen.

    TurnBackHoax lalu memasukkan kata kunci “ratusan tentara Israel terbunuh di perbatasan Selat Hormuz” ke mesin pencarian Google. Hasil penelusuran mengarah ke artikel kompas.com “Konten AI, Foto Ratusan Tentara Israel Terbunuh di Perbatasan Selat Hormuz” yang tayang Rabu (18/5/2026). Artikel ini melaporkan bahwa foto merupakan hasil rekayasa kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), probabilitas atau kemungkinannya mencapai 99,8 persen.

    Sepanjang penelusuran, tidak ditemukan informasi dari sumber kredibel yang membenarkan klaim “ratusan tentara Israel terbunuh di perbatasan Selat Hormuz”.

    Kesimpulan

    Faktanya, konten yang beredar merupakan hasil rekayasa AI, probabilitas atau kemungkinannya mencapai 99,8 persen. Unggahan berisi narasi “ratusan tentara Israel terbunuh di perbatasan Selat Hormuz” merupakan konten palsu (fabricated content).

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH Purbaya Sebut Program MBG Membebani APBN

    Sumber: FACEBOOK.COM
    Tanggal publish: 01/06/2026

    Berita

    Akun Facebook “Shandra Ashter” pada Selasa (19/5/2026) mengunggah gambar [arsip] dengan narasi:

    “VIRALL.!! GEGER GEDEN. Ungkapan yg seharusnya di tanggapi dengan serius, dimana anggaran yg sangat besar yg di keluarkan hanya untuk satu program yaitu MBG. Anggaran yg seharusnya bisa dimanfaatkan untuk program kesehata / pendidikan yg memang program tersebut sangatlah di butuhkan masyarakat saat ini , malah di hamburkan untuk program MBG”

    Per Senin (1/6/2026) unggahan tersebut sudah disukai 2.100 kali, dibagikan 69 kali dan menuai 440 komentar.

    Hasil Cek Fakta

    Tim Pemeriksa Fakta Mafindo (TurnBackHoax) menelusuri kebenaran klaim dengan memasukkan kata kunci “Purbaya Sebut Program MBG Membebani APBN” ke mesin pencari Google. Tidak ditemukan informasi atau pemberitaan kredibel yang membenarkan klaim.


    TurnBackHoax kemudian masukkan kata kunci “Anggaran untuk MBG”. Penelusuran teratas mengarah ke artikel antaranews.com yang dimuat Senin (18/5/2026) berjudul “Menkeu: Anggaran alutsista hingga MBG tidak ganggu struktur APBN”, Purbaya justru menegaskan bahwa seluruh program pemerintah, termasuk MBG, telah diperhitungkan secara agar tidak mengganggu struktur APBN dan tetap menjaga defisit di bawah tiga persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).


    Selain itu, Purbaya menyatakan masyarakat tidak perlu khawatir mengenai keberlanjutan pembiayaan negara karena formulasi fiskal telah disusun secara matang, termasuk alokasi pertahanan yang sebenarnya telah dianggarkan di era pemerintah Presiden Joko Widodo.


    Sampai saat ini tidak ada pernyataan resmi dari Purbaya Sebut Program MBG Membebani APBN adalah informasi yang tidak benar atau hoaks.

    Kesimpulan

    Faktanya, tidak ditemukan informasi resmi atau pemberitaan kredibel yang membenarkan klaim. Unggahan berisi narasi “Purbaya Sebut Program MBG Membebani APBN” merupakan konten palsu (fabricated content).

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • Cek Fakta: Hoaks Penyebab Mati Listrik Massal di Sumatra karena Serangan Monyet

    Sumber:
    Tanggal publish: 01/06/2026

    Berita


    Liputan6.com, Jakarta - Tim Cek Fakta Liputan6.com menemukan postingan yang mengklaim mati listrik massal di Sumatra karena serangan monyet. Postingan itu beredar sejak pekan lalu.
    Salah satu akun ada yang mengunggahnya di Facebook. Akun itu mempostingnya pada 25 Mei 2026.
    Dalam unggahannya terdapat foto sekawanan monyet sedang berada di atas kabel listrik disertai narasi sebagai berikut:
    "Inilah penyebab Pulau Sumatra Mati total sampai lumpuh.. mulai dari kota aceh, medan, padang pekanbaru sampai palembang"
    Lalu benarkah postingan yang mengklaim mati listrik massal di Sumatra karena serangan monyet?
    Cek Fakta Liputan6.com menelusuri dan menemukan artikel berjudul "PLN Ungkap Awal Mula Pemadaman Listrik Massal di Sumatra" yang tayang di Liputan6.com pada 23 Mei 2026.
    Dalam artikel tersebut terdapat penjelasan dari Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo terkait penyebab awal gangguan listrik di sebagian pulau Sumatra.
    Ia menyebut indikasi awal menunjukkan cuaca buruk memicu gangguan pada sistem transmisi yang berdampak pada sebagian jaringan kelistrikan Sumatra.
    "Gangguan pada ruas transmisi berdampak meluas pada sebagian sistem transmisi Sumatra, sehingga memicu penurunan frekuensi listrik dan efek domino gangguan di sejumlah wilayah," ujarnya.
    Di sisi lain Wakabareskrim Polri Irjen Nunung Syaifudin menegaskan, dugaan sementara penyebab mati listrik total (balckout) di Sumatera adalah faktor teknis, gangguan transmisi dan cuaca ekstrem. Nunung menyebut tidak ditemukan unsur kesengajaan atau sabotase.

    Hasil Cek Fakta

    Kesimpulan


    Postingan yang mengklaim mati listrik massal di Sumatra karena serangan monyet adalah hoaks.

    Rujukan

    • Liputan 6
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini