• Cek Fakta: Hoaks Artikel Jokowi Sebut Gibran-Kaesang akan Jadi Presiden-Wapres pada 2029

    Sumber:
    Tanggal publish: 21/01/2026

    Berita


    Liputan6.com, Jakarta - Beredar di media sosial postingan artikel Jokowi menyebut Gibran dan Kaesang akan menjadi Presiden dan Wakil Presiden pada 2029. Postingan itu beredar sejak pekan lalu.
    Salah satu akun ada yang mengunggahnya di Facebook. Akun itu mempostingnya pada 17 Januari 2025.
    Dalam postingannya terdapat tangkapan layar artikel dari Gelora News berjudul:
    "Joko Widodo: Kemungkinan Gibran-Kaesang Presiden Dan Wakil Presiden Tahun 2029 Insya Allah kalau saya Masih Hidup, Ini wasiat Rakyat Harus Saya Perjuangkan"
    Akun itu menambahkan narasi:
    "Gila luh ndro,luh kira negara punya si notomiharjo gembong pki, pake segala bawa nama rakyat lg si cungkring"
    Lalu benarkah postingan artikel Jokowi menyebut Gibran dan Kaesang akan menjadi Presiden dan Wakil Presiden pada 2029?

    Hasil Cek Fakta


    Cek Fakta Liputan6.com menelusuri dan menemukan artikel yang identik dengan postingan. Artikel itu diunggah situs Gelora.co pada 14 Januari 2026.
    Namun dalam artikel asli berjudul:
    "Rismon Sianipar: Bukti cuma Sarjana Muda, Kok Jokowi Bergelar Sarjana Penuh"
    Artikel itu sama sekali tidak membahas pernyataan Jokowi terkait Gibran dan Kaesang yang akan menjadi Presiden dan Wakil Presiden tahun 2029.
    Artikel asli membahas pernyataan Rismon Sianipar terkait bukti pendidikan Jokowi dalam dugaan kasus ijazah palsu mantan Presiden Jokowi.

    Kesimpulan


    Postingan artikel Jokowi menyebut Gibran dan Kaesang akan menjadi Presiden dan Wakil Presiden pada 2029 adalah hoaks.

    Rujukan

    • Liputan 6
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • Cek Fakta: Hoaks Artikel Yaqut Cholil Qoumas Sebut Uang Kuota Haji Dibagi Dua dengan Jokowi

    Sumber:
    Tanggal publish: 21/01/2026

    Berita


    Liputan6.com, Jakarta - Beredar kembali di media sosial postingan artikel yang menyebut mantan Menag Yaqut Cholil Qoumas membagi dua uang kuota haji dengan mantan Presiden Jokowi. Postingan itu beredar sejak pekan lalu.
    Salah satu akun ada yang mengunggahnya di Facebook. Akun itu mempostingnya pada 16 Januari 2026.
    Dalam postingannya terdapat tangkapan layar artikel dari Republika berjudul:
    "Gus Yaqut Kuota Uang Haji Yang Saya Pakai Bagi Dua Sama Pak Jokowi Gibran Saksinya"
    Akun itu menambahkan narasi:
    "KPK mana KPK?"
    Lalu benarkah postingan artikel yang menyebut mantan Menag Yaqut Cholil Qoumas membagi dua uang kuota haji dengan mantan Presiden Jokowi?

    Hasil Cek Fakta


    Cek Fakta Liputan6.com menelusuri dengan membuka laman Republika.co seperti yang terdapat dalam gambar yang diposting. Namun kami tidak menemukan artikel dengan judul yang sama seperti dalam postingan.
    Penelusuran dilanjutkan dan kami menemukan artikel yang identik dengan postingan. Artikel itu menggunakan foto dan nama penulis seperti dalam postingan.
    Namun dalam artikel asli berjudul "Gus Yaqut: Saya Punya Kewajiban Sebagai Menag Jaga Agama tak Diperalat Urusan Politik". Artikel itu diunggah pada 4 Oktober 2023.
    Artikel itu sendiri berisi terkait pernyataan Gus Yaqut yang menilai bahwa masyarakat harus memilih secara rasional. Artikel itu sama sekali tidak membahas uang kuota haji seperti dalam postingan.

    Kesimpulan


    Postingan artikel yang menyebut mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas membagi dua uang kuota haji yang ia pakai dengan mantan Presiden Jokowi adalah hoaks. Faktanya judul dalam postingan tersebut merupakan hasil suntingan.

    Rujukan

    • Liputan 6
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Nadiem Makarim Menyerahkan Rp450 Triliun kepada Jokowi

    Sumber: Facebook.com
    Tanggal publish: 21/01/2026

    Berita

    Beredar unggahan video [arsip] dari akun Facebook “Info Presiden Jokowi” pada Kamis (2/10/2025). Unggahan tersebut menampilkan Eka Jaya, Ketua Umum Pengacara Jawara Bela Umat (PEJABAT) menyampaikan pernyataan sebagai berikut:

    “Nadim Makarim mengatakan, saya sudah menyetor Rp450 triliun kepada Jokowi, dengan disaksikan oleh Kaesang dan Gibran, anaknya, pada tanggal 2 Oktober 2025 di Gedung KPK, pukul 13.00 sampai selesai."

    Hingga Rabu (21/1/2026) unggahan telah mendapatkan 1 tanda suka dan menuai 1 komentar.

    Hasil Cek Fakta

    Tim Pemeriksa Fakta Mafindo (TurnBackHoax) menelusuri tangkapan layar dari video melalui Google Lens. Diketahui video aslinya berasal dari kanal YouTube ‘REBORN TV’ berjudul “GEMPUR KPK ? TANGKAP & ADILI JOKOWI” yang tayang pada Senin (29/9/2025). Video tersebut berisi ajakan kepada masyarakat untuk melakukan demonstrasi di depan Gedung KPK pada Kamis (2/10/2025).

    Selanjutnya, TurnBackHoax melakukan penelusuran dengan memasukkan kata kunci “Nadiem Makarim menyerahkan Rp450 triliun ke Jokowi” ke mesin pencarian Google. Hasilnya, tidak ditemukan pemberitaan kredibel yang membenarkan klaim tersebut.

    Selain itu, berdasarkan pemberitaan Tempo, mantan Menteri Pendidikan Nadiem Makarim memang menyebut nama Presiden Joko Widodo saat membacakan nota keberatan pribadinya di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat pada Senin (5/1/2026). Penyebutan tersebut berkaitan dengan penugasan dari Jokowi untuk segera menjalankan program digitalisasi pendidikan. Tidak terdapat pernyataan Nadiem mengenai penyerahan dana Rp450 triliun kepada Jokowi, apalagi dengan disaksikan oleh kedua anaknya.

    Kesimpulan

    Faktanya, tidak ditemukan pemberitaan kredibel yang membenarkan klaim. Dengan demikian, unggahan video berisi klaim “Nadiem Makarim menyerahkan Rp450 triliun kepada Jokowi” adalah konten menyesatkan (misleading content).

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Uji Coba Nuklir AS Sebabkan Gempa dan Tsunami Aceh 2004

    Sumber: Facebook.com
    Tanggal publish: 21/01/2026

    Berita

    Beredar unggahan foto [arsip] dari akun Facebook “Kang N'dang” pada Kamis (15/1/2026). Unggahan disertai dengan narasi sebagai berikut:

    “GEMPA TSUNAMI ACEH 2004, ADALAH BISNIS Gempa Tsunami Aceh 2004, bukanlah Alami, Tapi Buatan, Ada Nuklir di Baliknya. Bukti Kuat: 

    1. Dokumen CIA yang bocor (declassified 2013 & 2017) CIA FOIA dokumen No. F-2013-00698 & F-2017-00427 menyebutkan: "underwater nuclear test series Indian Ocean 2004–2005" dengan kode "Operation Tidal Wave. " Dokumen menyebut: Low-yield tactical device 5–15 kt di koordinat 3.3°N 95.8°E (persis episenter Bencana).

    2. Anomali Seismogram Dunia Seismograf global (IRIS & USGS) menunjukkan gelombang P & S normal, tapi gelombang permukaan (Love & Rayleigh) mati tiba-tiba setelah 2 menit 40 detik, Persis pola khas ledakan nuklir bawah laut, bukan rupture lempeng yang biasanya 8–12 menit. Analisis Dr. André Gsponer (ISRI Geneva, 2005): Signature of a 10–15 kt nuclear explosion at 1–2 km depth. 

    3. Bukti Radiasi IAEA & CTBTO 2005 bilang "Tidak ada radiasi". Bohong..! Radiasi malah sangat nyata, mayat-mayat pada Menghitam seperti khas Radiasi, padahal Mayat tenggelam harusnya Memutih Pucat. Justru laporan internal IAEA sendiri yang bocor 2014 (WikiLeaks) menemukan: Caesium-137 & Strontium-90 di sedimen pantai Lhoknga & Lampuuk – level 5–8 kali background normal. 

    4. Kesaksian saksi mata, Nelayan & Militer Para Nelayan Pulau Weh & Simeulue (2005): Dengar dentuman satu kali sangat keras seperti bom besar, baru kemudian air datang. Bukan tanah goyang dulu. Mantan perwira Angkatan Laut AS (testimoni 2015 di Veterans Today): Kami di USS Abraham Lincoln sudah berada 300 mil dari lokasi, 72 jam sebelum bencana. Dengan perintah 'Standby for Humanitarian Disaster'. 

    5. Gelombang terlalu fokus . Tsunami hanya menghantam Aceh & Sumatra Barat sangat maksimal. Tapi hampir nol di Sri Lanka selatan & India timur ( pola khas ledakan terarah, bukan gempa megathrust yang seharusnya menyebar merata)"

    Hingga Rabu (21/1/2026) unggahan telah mendapatkan 17.000 tanda suka, 3.900 komentar dan telah dibagikan ulang 8.100 kali.

    Hasil Cek Fakta

    Disadur dari artikel cek fakta tempo.co.

    Tsunami Aceh 2004 dipicu oleh gempa berkekuatan 9,2 SR di Samudra Hindia, sekitar 250 km dari pantai barat Aceh. Gelombang setinggi 30–35 meter menghantam Aceh, Sumatera Utara, Thailand, Sri Lanka, India, hingga pantai timur Afrika, menewaskan sekitar 227 ribu orang, sebagian besar di Indonesia. Gempa ini terjadi akibat pergeseran dua lempeng tektonik pada patahan naik (thrust fault) sepanjang 500 km dan lebar 150 km, dengan pergeseran lebih dari 20 meter. Bukti seabed rupture sepanjang 1.600 km dan jejak tsunami purba di Pulau Simeulue memperkuat fakta bahwa wilayah ini rawan tsunami.

    Beberapa teori konspirasi mengklaim tsunami 2004 akibat ledakan nuklir dengan dokumen CIA berkode F-2013-00698 dan F-2017-00427. Namun pemeriksaan Tempo, situs CIA, National Archives, dan Library of Congress menunjukkan kode tersebut bukan arsip rahasia, melainkan nomor permohonan informasi, dan tidak terkait uji coba nuklir atau “Operation Tidal Wave” di Samudra Hindia. Istilah “Operation Tidal Wave” sebenarnya merujuk pada operasi udara AS menarget ladang minyak di Rumania tahun 1943.

    Klaim lain bahwa kapal induk USS Abraham Lincoln berada di Aceh juga keliru. Saat tsunami, kapal tersebut berlabuh di Hongkong dan baru menempuh 36 jam perjalanan untuk bantuan kemanusiaan. Begitu pula klaim bahwa ExxonMobil baru masuk Aceh setelah tsunami salah; perusahaan tersebut beroperasi sejak 1999, setelah membeli Mobil Oil Indonesia yang sudah aktif sejak 1970 di Aceh. 

    Kesimpulan

    Faktanya, tsunami Aceh 2004 disebabkan oleh gempa bumi berkekuatan 9,2 SR, bukan ledakan nuklir, dan kapal induk USS Abraham Lincoln tidak berada di dekat Aceh saat kejadian. Dengan demikian, unggahan berisi klaim “uji coba nuklir AS sebabkan gempa dan tsunami Aceh 2004” adalah konten menyesatkan (misleading content).

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini