tirto.id - Beredar di media sosial TikTok sebuah unggahan video mengklaim Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa menawarkan dana bantuan untuk 500 orang tercepat yang belum mendapatkan bantuan.
Unggahan tersebut disebarkan oleh akun TikTok @bantuan.amel0003 (arsip) dengan nama akun "dana bantuan" pada Rabu (06/05/2026). Dalam unggahan menampilkan Purbaya tengah berbicara dikelilingi oleh wartawan, pada bagian atas video menampilkan logo Kemenkeu dan bagian bawah bertuliskan “PROGRAM BANTUAN DANA HIBAH TAHUN 2026.”
let gpt_inline2 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline2.cmd.push(function() {gpt_inline2.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-2', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline2-passback').addService(gpt_inline2.pubads());gpt_inline2.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline2.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline2.enableServices();gpt_inline2.display('gpt-inline2-passback');});
“Assalamualaikum, tanggal 5 Mei 2026, saya Menteri Keuangan Republik Indonesia sedang mencari 500 orang tercepat yang belum mendapatkan bantuan. Silahkan komen di video ini dan jangan lupa untuk mengklik semua tombol yang ada di samping. Terima kasih,” begitu narasi diucapkan Purbaya dalam video.
let gpt_inline3 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline3.cmd.push(function() {gpt_inline3.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-3', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline3-passback').addService(gpt_inline3.pubads());gpt_inline3.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline3.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline3.enableServices();gpt_inline3.display('gpt-inline3-passback');});
#gpt-inline3-passback{text-align:center;}
Pengunggah mengklaim untuk mendapatkan bantuan 500 orang tercepat harus berkomentar dan menekan tombol pada unggahan, juga ditambahkan keterangan dalam video “Segera komentar di video ini, karena kouta terbatas.”
let gpt_inline4 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline4.cmd.push(function() {gpt_inline4.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-4', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline4-passback').addService(gpt_inline4.pubads());gpt_inline4.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline4.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline4.enableServices();gpt_inline4.display('gpt-inline4-passback');});
#gpt-inline4-passback{text-align:center;}
Sampai artikel ini ditulis pada Kamis (07/05/2026) unggahan tersebut telah mendapatkan 37 likes, 42 komentar, dan 518 kali ditayangkan. Kolom komentar dipenuhi dengan reaksi kepercayaan masyarakat terhadap informasi tersebut, pengunggah juga membalas setiap komentar dan mengarahkan pengunjung untuk menghubungi nomor yang diberikan.
“Info lebih lanjut Silahkan Hubungi konsumen +62 877-3472-8062,” begitu narasi balasan dari pengunggah.
Lantas, benarkah Purbaya berikan bantuan dana kepada 500 orang melalui unggahan tersebut?
Baca juga:Purbaya soal Tolak IMF: Ekonom Putar Omongan Saya Jadi Negatif
Periksa Fakta Dana Hibah Purbaya 2026. foto/Hotline priska fakta tirto
Hoaks, Purbaya Cari 500 Orang Untuk Dapat Dana Bantuan
Sumber:Tanggal publish: 07/05/2026
Berita
Hasil Cek Fakta
Untuk memverifikasi kebenaran klaim tersebut, pertama-tama Tirto menelusuri akun pengunggah video. Akun tersebut memiliki 407 pengikut dan menggunakan logo Kementerian Keuangan untuk profil akunnya. Dalam keterangan akun juga dituliskan “Info lebih lanjut Silahkan Hubungi konsumen Kami +62 877-3472-8062.”
Dari situ diketahui bahwa akun tersebut bukanlah akun resmi dan tidak ada kaitannya dengan Purbaya ataupun Kemenkeu. Akun resmi TikTok Purbaya memiliki 473,1 ribu pengikut dengan centang biru, dan akun Instagram Purbaya bernama @menkeuri. Adapun akun TikTok resmi Kemenkeu @kemenkeuri memiliki 298,4 ribu pengikut dan bercentang biru.
Kemudian, Tirto menonton secara menyeluruh dan menemukan sejumlah kejanggalan, terutama pada sinkronisasi gerak bibir, intonasi suara, serta ekspresi wajah Purbaya dan wartawan disekitarnya tampak tidak natural dan berekspresi datar. Karakteristik semacam ini kerap ditemukan pada konten yang diduga merupakan hasil manipulasi menggunakan teknologi akal imitasi (AI).
Untuk memastikannya, kami menggunakan situs Hive Moderation untuk mengetahui persentase penggunaan AI dalam video. Hasil analisis menunjukkan bahwa audio yang digunakan dalam video tersebut memiliki probabilitas 99,2 persen sebagai suara hasil manipulasi AI.
Lebih lanjut, Tirto mengetikkan kata kunci “Purbaya tawarkan dana bantuan untuk 500 orang tercepat”. Hasil penelusuran di Google mengarah pada laman Instagram @kemenkeu.prime, yang menyatakan bahwa video yang beredar terkait Menteri Keuangan Purbaya yang menyatakan mencari 500 orang tercepat untuk mendapatkan dana bantuan merupakan video hoaks deepfake.
Senada dengan hal tersebut, laman Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi Kemenkeu menyatakan bahwa video yang mengklaim Menteri Keuangan mencari 500 orang tercepat untuk mendapatkan bantuan adalah hoaks.
Purbaya tidak pernah memberikan bantuan berbentuk uang langsung kepada masyarakat dengan cara menghubunginya atau berkomentar pada unggahan dalam akun tidak resmi. Akun palsu di media sosial yang mengatasnamakan Purbaya biasanya meminta pengguna menghubungi melalui Messenger atau membayar sejumlah biaya sebagai syarat, yang merupakan indikasi phishing atau penipuan.
Adapun bantuan dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu) umumnya dilakukan melalui program pembiayaan UMKM (Ultra Mikro/UMi), hibah, atau beasiswa LPDP. Cara utamanya adalah mengajukan melalui lembaga penyalur resmi (seperti Pegadaian atau PNM untuk UMi), mendaftar via portal resmi Kemenkeu, atau melalui dinas terkait, dengan syarat utama WNI, memiliki NIK/KTP, dan memiliki usaha/izin yang sah.
Melansir laman resmi Kementerian Keuangan RI, bantuan yang diberikan Kemenkeu adalah Pembiayaan Ultra Mikro (UMi) yang merupakan program tahap lanjutan dari program bantuan sosial menuju kemandirian usaha yang menyasar usaha mikro, yang berada di lapisan terbawah dan belum bisa difasilitasi perbankan melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR). UMi memberikan fasilitas pembiayaan maksimal Rp10 juta per nasabah yang disalurkan oleh Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB).
Kemenkeu mengimbau agar masyarakat waspada terhadap berbagai penipuan yang mengatasnamakan pejabat/pegawai Kementerian Keuangan. Adapun informasi seputar keuangan negara atau Kementerian Keuangan yang terindikasi hoaks atau penipuan, Sobatkeu dapat melaporkannya melalui Pusat Kontak Layanan Kemenkeu PRIME melalui telepon 134, email kemenkeu.prime@kemenkeu.go.id, atau menu "Hubungi Kami" pada situs www.kemenkeu.go.id.
Baca juga:Hoaks, Akun TikTok Mencatut Sekretariat Jenderal Kemenkeu
Dari situ diketahui bahwa akun tersebut bukanlah akun resmi dan tidak ada kaitannya dengan Purbaya ataupun Kemenkeu. Akun resmi TikTok Purbaya memiliki 473,1 ribu pengikut dengan centang biru, dan akun Instagram Purbaya bernama @menkeuri. Adapun akun TikTok resmi Kemenkeu @kemenkeuri memiliki 298,4 ribu pengikut dan bercentang biru.
Kemudian, Tirto menonton secara menyeluruh dan menemukan sejumlah kejanggalan, terutama pada sinkronisasi gerak bibir, intonasi suara, serta ekspresi wajah Purbaya dan wartawan disekitarnya tampak tidak natural dan berekspresi datar. Karakteristik semacam ini kerap ditemukan pada konten yang diduga merupakan hasil manipulasi menggunakan teknologi akal imitasi (AI).
Untuk memastikannya, kami menggunakan situs Hive Moderation untuk mengetahui persentase penggunaan AI dalam video. Hasil analisis menunjukkan bahwa audio yang digunakan dalam video tersebut memiliki probabilitas 99,2 persen sebagai suara hasil manipulasi AI.
Lebih lanjut, Tirto mengetikkan kata kunci “Purbaya tawarkan dana bantuan untuk 500 orang tercepat”. Hasil penelusuran di Google mengarah pada laman Instagram @kemenkeu.prime, yang menyatakan bahwa video yang beredar terkait Menteri Keuangan Purbaya yang menyatakan mencari 500 orang tercepat untuk mendapatkan dana bantuan merupakan video hoaks deepfake.
Senada dengan hal tersebut, laman Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi Kemenkeu menyatakan bahwa video yang mengklaim Menteri Keuangan mencari 500 orang tercepat untuk mendapatkan bantuan adalah hoaks.
Purbaya tidak pernah memberikan bantuan berbentuk uang langsung kepada masyarakat dengan cara menghubunginya atau berkomentar pada unggahan dalam akun tidak resmi. Akun palsu di media sosial yang mengatasnamakan Purbaya biasanya meminta pengguna menghubungi melalui Messenger atau membayar sejumlah biaya sebagai syarat, yang merupakan indikasi phishing atau penipuan.
Adapun bantuan dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu) umumnya dilakukan melalui program pembiayaan UMKM (Ultra Mikro/UMi), hibah, atau beasiswa LPDP. Cara utamanya adalah mengajukan melalui lembaga penyalur resmi (seperti Pegadaian atau PNM untuk UMi), mendaftar via portal resmi Kemenkeu, atau melalui dinas terkait, dengan syarat utama WNI, memiliki NIK/KTP, dan memiliki usaha/izin yang sah.
Melansir laman resmi Kementerian Keuangan RI, bantuan yang diberikan Kemenkeu adalah Pembiayaan Ultra Mikro (UMi) yang merupakan program tahap lanjutan dari program bantuan sosial menuju kemandirian usaha yang menyasar usaha mikro, yang berada di lapisan terbawah dan belum bisa difasilitasi perbankan melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR). UMi memberikan fasilitas pembiayaan maksimal Rp10 juta per nasabah yang disalurkan oleh Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB).
Kemenkeu mengimbau agar masyarakat waspada terhadap berbagai penipuan yang mengatasnamakan pejabat/pegawai Kementerian Keuangan. Adapun informasi seputar keuangan negara atau Kementerian Keuangan yang terindikasi hoaks atau penipuan, Sobatkeu dapat melaporkannya melalui Pusat Kontak Layanan Kemenkeu PRIME melalui telepon 134, email kemenkeu.prime@kemenkeu.go.id, atau menu "Hubungi Kami" pada situs www.kemenkeu.go.id.
Baca juga:Hoaks, Akun TikTok Mencatut Sekretariat Jenderal Kemenkeu
Kesimpulan
Hasil penelusuran menunjukkan bahwa unggahan video yang mengklaim bahwa Purbaya menawarkan dana bantuan untuk 500 orang tercepat bersifat salah dan menyesatkan (false and misleading).
Hasil analisis menunjukkan bahwa audio dalam video yang beredar terindikasi kuat merupakan hasil rekayasa teknologi kecerdasan buatan (AI).
Kemenkeu menyatakan bahwa Video yang beredar mengenai Menteri Keuangan Purbaya menyatakan mencari 500 orang tercepat untuk mendapatkan dana bantuan dengan berkomentar pada unggahan dan menghubunginya melalui nomor telepon tidak resmi adalah video hoaks deepfake.
Masyarakat diharapkan waspada terhadap penyebaran video dan berita bohong yang mengatasnamakan Menteri Purbaya.
==
Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.
Hasil analisis menunjukkan bahwa audio dalam video yang beredar terindikasi kuat merupakan hasil rekayasa teknologi kecerdasan buatan (AI).
Kemenkeu menyatakan bahwa Video yang beredar mengenai Menteri Keuangan Purbaya menyatakan mencari 500 orang tercepat untuk mendapatkan dana bantuan dengan berkomentar pada unggahan dan menghubunginya melalui nomor telepon tidak resmi adalah video hoaks deepfake.
Masyarakat diharapkan waspada terhadap penyebaran video dan berita bohong yang mengatasnamakan Menteri Purbaya.
==
Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.
Rujukan
- https://www.tiktok.com/@bantuan.amel0003
- https://archive.today/vp9wg
- https://tirto.id/purbaya-soal-tolak-imf-ekonom-putar-omongan-saya-jadi-negatif-hvFC
- https://www.tiktok.com/@menkeuri
- https://www.instagram.com/menkeuri/
- https://www.tiktok.com/@kemenkeuri
- https://hivemoderation.com/ai-generated-content-detection
- https://www.instagram.com/p/DX_nig5EhBf/
- https://e-ppid.kemenkeu.go.id/in/post/%5Bhoaks%5D-menteri-keuangan-mencari-500-orang-tercepat-untuk-mendapatkan-bantuan
- https://www.kemenkeu.go.id/informasi-publik/kemenkeu-menjawab/pembiayaan-ultra-mikro
- https://bantuan.lpdp.kemenkeu.go.id/id
- https://tirto.id/hoaks-akun-tiktok-palsu-milik-sekretariat-jenderal-kemenkeu-hveG
Tidak Benar, Vaksin COVID Sebabkan Kematian Mendadak
Sumber:Tanggal publish: 06/05/2026
Berita
tirto.id - Sebuah unggahan beredar di media sosial Facebook mengklaim bahwa vaksin COVID menyebabkan sindrom kematian mendadak pada orang dewasa atau Sudden Adult Death Syndrome (SADS) di kalangan dewasa muda dan atlet setelah bertahun-tahun penyuntikan.
Unggahan tersebut disebarkan oleh akun Facebook bernama “Walman Tobing” (arsip) dalam obrolan grup Cerdik & Tulus pada Senin (30/03/2026). Unggahan tersebut menampilkan cuplikan video Nicolas Hulscher, MPH, tengah menyampaikan pendapatnya terkait vaksin COVID-19, dan di sisi kiri ditampilkan video jatuhnya para atlet di lapangan ketika bertanding.
let gpt_inline2 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline2.cmd.push(function() {gpt_inline2.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-2', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline2-passback').addService(gpt_inline2.pubads());gpt_inline2.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline2.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline2.enableServices();gpt_inline2.display('gpt-inline2-passback');});
“We published about six papers on heart conditions with these shots and it's quite unequivocal. Two studies have found the spike protein and messenger RNA in the heart in myocarditis patients and deceased victims and so we know it does get into the heart and since that happens it unfortunately gives the cardiomyocytes your heart cells in the myocardium the instructions to make these highly pathogenic spike proteins so once they begin to make them your own body is going to attack those cells expressing those proteins resulting in that cardiac inflammation scarring that's very important.
let gpt_inline3 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline3.cmd.push(function() {gpt_inline3.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-3', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline3-passback').addService(gpt_inline3.pubads());gpt_inline3.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline3.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline3.enableServices();gpt_inline3.display('gpt-inline3-passback');});
#gpt-inline3-passback{text-align:center;}
Our public health agencies claim that it's mild and transient myocarditis it's not it results it can result in irreversible heart scarring heart scarring does not go away and in particular it can result in micro scars an autopsy study found that you don't even see those on imaging you can only see it under a microscope and so and and these micro scars were found in sudden adult death syndrome victims from these shots they received like six boosters and there was this literally like tiny little scars resulting in these electrical conduction abnormalities you know ventricular tachycardia eventually cardiac arrest sudden death we published the first paper kind of elucidating COVID-19 vaccine induced cardiac arrest as well we published an autopsy series where we concluded that COVID-19 vaccine induced myocarditis is fatal.” Begitu narasi pada cuplikan video.
let gpt_inline4 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline4.cmd.push(function() {gpt_inline4.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-4', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline4-passback').addService(gpt_inline4.pubads());gpt_inline4.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline4.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline4.enableServices();gpt_inline4.display('gpt-inline4-passback');});
#gpt-inline4-passback{text-align:center;}
Dalam unggahan dituliskan keterangan bahwa terdapat enam studi yang telah ditinjau dan menunjukkan secara tegas bahwa vaksin mRNA sangat kardioksik, merusak jantung secara permanen dengan jaringan parut mikro yang mematikan.
Sampai artikel ini ditulis pada Selasa (05/05/2026), unggahan tersebut telah mendapatkan 1,4 ribu likes, 179 komentar, dan 927 kali dibagikan.
Lantas, benarkah vaksin COVID-19 menyebabkan Sindrom Kematian Mendadak pada Orang Dewasa atau Sudden Adult Death Syndrome (SADS) di kalangan dewasa muda dan atlet bertahun-tahun setelah penyuntikan?
Baca juga:Salah, Klaim 74% Kematian Disebabkan oleh Vaksin COVID-19
periksa fakta Kematian mendadak akibat vaksin. tirto.id/Mojo
Unggahan tersebut disebarkan oleh akun Facebook bernama “Walman Tobing” (arsip) dalam obrolan grup Cerdik & Tulus pada Senin (30/03/2026). Unggahan tersebut menampilkan cuplikan video Nicolas Hulscher, MPH, tengah menyampaikan pendapatnya terkait vaksin COVID-19, dan di sisi kiri ditampilkan video jatuhnya para atlet di lapangan ketika bertanding.
let gpt_inline2 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline2.cmd.push(function() {gpt_inline2.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-2', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline2-passback').addService(gpt_inline2.pubads());gpt_inline2.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline2.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline2.enableServices();gpt_inline2.display('gpt-inline2-passback');});
“We published about six papers on heart conditions with these shots and it's quite unequivocal. Two studies have found the spike protein and messenger RNA in the heart in myocarditis patients and deceased victims and so we know it does get into the heart and since that happens it unfortunately gives the cardiomyocytes your heart cells in the myocardium the instructions to make these highly pathogenic spike proteins so once they begin to make them your own body is going to attack those cells expressing those proteins resulting in that cardiac inflammation scarring that's very important.
let gpt_inline3 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline3.cmd.push(function() {gpt_inline3.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-3', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline3-passback').addService(gpt_inline3.pubads());gpt_inline3.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline3.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline3.enableServices();gpt_inline3.display('gpt-inline3-passback');});
#gpt-inline3-passback{text-align:center;}
Our public health agencies claim that it's mild and transient myocarditis it's not it results it can result in irreversible heart scarring heart scarring does not go away and in particular it can result in micro scars an autopsy study found that you don't even see those on imaging you can only see it under a microscope and so and and these micro scars were found in sudden adult death syndrome victims from these shots they received like six boosters and there was this literally like tiny little scars resulting in these electrical conduction abnormalities you know ventricular tachycardia eventually cardiac arrest sudden death we published the first paper kind of elucidating COVID-19 vaccine induced cardiac arrest as well we published an autopsy series where we concluded that COVID-19 vaccine induced myocarditis is fatal.” Begitu narasi pada cuplikan video.
let gpt_inline4 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline4.cmd.push(function() {gpt_inline4.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-4', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline4-passback').addService(gpt_inline4.pubads());gpt_inline4.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline4.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline4.enableServices();gpt_inline4.display('gpt-inline4-passback');});
#gpt-inline4-passback{text-align:center;}
Dalam unggahan dituliskan keterangan bahwa terdapat enam studi yang telah ditinjau dan menunjukkan secara tegas bahwa vaksin mRNA sangat kardioksik, merusak jantung secara permanen dengan jaringan parut mikro yang mematikan.
Sampai artikel ini ditulis pada Selasa (05/05/2026), unggahan tersebut telah mendapatkan 1,4 ribu likes, 179 komentar, dan 927 kali dibagikan.
Lantas, benarkah vaksin COVID-19 menyebabkan Sindrom Kematian Mendadak pada Orang Dewasa atau Sudden Adult Death Syndrome (SADS) di kalangan dewasa muda dan atlet bertahun-tahun setelah penyuntikan?
Baca juga:Salah, Klaim 74% Kematian Disebabkan oleh Vaksin COVID-19
periksa fakta Kematian mendadak akibat vaksin. tirto.id/Mojo
Hasil Cek Fakta
Sebagai informasi, Nicolas Hulscher adalah seorang epidemiolog dan peneliti di McCullough Foundation, sebuah organisasi nirlaba yang sering mengkaji aspek keamanan vaksin dan merupakan lulusan Master of Public Health (MPH) dari University of Michigan.
Pandangan Hulscher sering kali bertentangan dengan konsensus medis global. Sebagian besar otoritas kesehatan seperti CDC tetap menyatakan bahwa manfaat vaksin COVID-19 jauh lebih besar daripada risikonya, meskipun komplikasi langka seperti miokarditis memang diakui keberadaannya.
Dalam hasil penelitian CDC berjudul “Assessment of Risk for Sudden Cardiac Death Among Adolescents and Young Adults After Receipt of COVID-19 Vaccine - Oregon, June 2021- December 2022,” vaksinasi COVID-19 telah dikaitkan dengan miokarditis pada remaja dan dewasa muda, dan kekhawatiran telah muncul tentang kemungkinan kematian jantung terkait vaksin pada kelompok usia ini.
Pada April 2021, kasus miokarditis setelah vaksinasi COVID-19, khususnya di antara penerima vaksin laki-laki muda, dilaporkan ke Sistem Pelaporan Kejadian Buruk Vaksin (Vaccine Adverse Event Reporting System). Hasil penelitian menunjukkan tidak ditemukan adanya sertifikat kematian yang menyebutkan kematian disebabkan oleh vaksinasi.
Jadi, data ini tidak mendukung adanya hubungan antara penerimaan vaksin mRNA COVID-19 dan kematian jantung mendadak di antara orang muda yang sebelumnya sehat. Vaksinasi COVID-19 direkomendasikan untuk semua orang berusia ≥6 bulan untuk mencegah COVID-19 dan komplikasinya, termasuk kematian.
Senada dengan itu, kepada Tirto dr. Andreas Wilson Setiawan, M. Kes., Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Kedokteran Universitas Dian Nuswantoro, menegaskan bahwa memang benar, terdapat efek samping langka berupa miokarditis (radang otot jantung) yang lebih sering terjadi pada laki-laki muda setelah vaksin mRNA. Namun, penting dipahami bahwa kasusnya sangat jarang menyebabkan komplikasi berat dan umumnya ringan, serta akan sembuh sendiri. Sebaliknya, infeksi COVID-19 justru lebih berisiko menyebabkan miokarditis yang lebih berat dibandingkan dengan vaksin.
Menurut CIDRAP University of Minnesota, hasil studi yang dilakukan menunjukkan bahwa vaksin COVID tidak terkait dengan risiko kematian mendadak. Data menunjukkan bahwa orang muda dan sehat tidak memiliki risiko tambahan kematian mendadak jika mendapatkan vaksin COVID-19. Ini bertentangan dengan mitos yang terus beredar luas di media sosial.
Faktanya, remaja dan dewasa muda yang sehat, dan mendapat vaksinasi COVID-19, memiliki kemungkinan mengalami kematian mendadak, yang 43% lebih kecil dibandingkan dengan orang yang tidak divaksinasi. Ini diperkuat oleh sebuah studi kasus-kontrol Kanada yang diterbitkan minggu lalu di PLOS Medicine.
Para peneliti berfokus pada penduduk Ontario berusia 12 hingga 50 tahun. Tidak satupun dari mereka memiliki kondisi kronis yang meningkatkan risiko kematian akibat COVID-19. Kematian mendadak pada populasi ini sangat jarang terjadi, yaitu pada 4.806 orang atau 0,08% dari hampir 6,4 juta orang, yang catatan medisnya disertakan dalam penelitian ini.
Sebagai contoh, sebuah studi yang diterbitkan di JAMA Network Open pada tahun 2025 tidak menemukan peningkatan risiko henti jantung mendadak atau kematian mendadak pada atlet muda selama atau setelah pandemi.
Penelitian yang diterbitkan pada tahun 2024 juga tidak menemukan hubungan antara vaksinasi mRNA COVID-19 dan kematian jantung mendadak. Studi tersebut, yang muncul dalam publikasi unggulan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS, Morbidity and Mortality Weekly Report, meneliti sertifikat kematian dan catatan imunisasi orang dewasa muda yang sebelumnya sehat di Oregon.
Dokter Andreas Wilson Setiawan, M. Kes., menegaskan bahwa hingga saat ini, berbagai studi besar menunjukkan tidak ada peningkatan risiko kematian mendadak setelah vaksinasi dan tidak ditemukan hubungan sebab-akibat antara vaksin dan kematian jantung pada orang sehat.
“Pada beberapa penelitian, orang yang divaksin malah memiliki risiko kematian lebih rendah. Klaim bahwa vaksin menyebabkan kematian mendadak bertahun-tahun kemudian tidak terbukti secara ilmiah,” begitu jelas dr. Andreas.
Demikian juga laman Cardiac Risk in the Youngmenegaskan, tidak ada bukti bahwa vaksin COVID-19 terkait dengan pingsan atau kematian atlet. Para ahli juga mengatakan kepada Reuters Fact Check bahwa masih belum ada bukti peningkatan kematian atau kejadian jantung serius di kalangan atlet, juga tidak ada bukti bahwa efek yang diketahui dari vaksin telah menyebabkan jenis kejadian jantung yang terlihat pada para atlet.
Kementerian Komdigi sempat mengungah tulisan bahwa video di media sosial yang mengklaim bahwa sejumlah atlet meninggal dunia karena terkena Sudden Arrhythmic Death Syndrome - sering disebut sebagai Sudden Adult Death Syndrome (SADS) - atau kematian yang terjadi secara tiba-tiba akibat serangan jantung setelah divaksin Covid-19 adalah hoaks.
Melansir liputan6.com, klaim sejumlah atlet meninggal dunia karena terkena Sudden Arrhythmic Death Syndrome - sering disebut sebagai Sudden Adult Death Syndrome (SADS) - atau kematian yang terjadi secara tiba-tiba akibat serangan jantung setelah divaksin Covid-19 adalah tidak benar.
Faktanya, Direktur Asosiasi Penelitian Aritmia Jantung di Medstar Heart dan Vascular Institute Washington Cyrus Hadadi menyebutkan tidak ada bukti valid bahwa SADS disebabkan oleh vaksin Covid-19. Yayasan SADS di Amerika Serikat juga mengeluarkan pernyataan resmi bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan jika salah satu vaksin Covid-19 yang tersedia menyebabkan orang memiliki kondisi SADS atau membuat kondisi SADS pada orang lebih parah.
Laman Mount Elizabeth Hospital, menyatakan vaksin aman untuk diberikan kepada pasien jantung, tanpa ada hubungan yang terbukti antara potensi efek samping vaksin dan kondisi jantung yang sudah ada sebelumnya. Uji klinis telah dilakukan pada pasien dengan berbagai kondisi kesehatan yang sudah ada sebelumnya, termasuk hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi. Tidak ada efek samping atau komplikasi yang dilaporkan setelah vaksin diberikan pada pasien-pasien ini.
Karena vaksin ini dianggap aman secara medis untuk pasien jantung, mereka yang memiliki kondisi jantung sangat disarankan untuk mendapatkan vaksinasi begitu vaksin ini tersedia bagi mereka. Hal ini dapat mengurangi risiko tertular virus COVID-19, sehingga melindungi mereka dari potensi komplikasi yang mungkin timbul akibat virus tersebut.
Dengan demikian, narasi yang menyebutkan vaksin sebagai sebab kematian mendadak pada orang dewasa atau Sudden Adult Death Syndrome atau Sudden Arrhythmic Death Syndrome (SADS) di kalangan dewasa muda dan atlet setelah bertahun-tahun penyuntikan adalah tidak benar.
Adapun video atlet yang jatuh di lapangan sering dipakai untuk mendukung narasi ini. Faktanya, kasus kolaps pada atlet sudah ada sejak lama. Penyebabnya bisa diakibatkan oleh kelainan jantung bawaan, aritmia, dehidrasi, atau kelelahan ekstrem, dan tidak ada bukti peningkatan kejadian setelah vaksinasi.
Baca juga:Cleveland Clinic Tak Sebut Penerima Vaksin COVID akan Meninggal
Pandangan Hulscher sering kali bertentangan dengan konsensus medis global. Sebagian besar otoritas kesehatan seperti CDC tetap menyatakan bahwa manfaat vaksin COVID-19 jauh lebih besar daripada risikonya, meskipun komplikasi langka seperti miokarditis memang diakui keberadaannya.
Dalam hasil penelitian CDC berjudul “Assessment of Risk for Sudden Cardiac Death Among Adolescents and Young Adults After Receipt of COVID-19 Vaccine - Oregon, June 2021- December 2022,” vaksinasi COVID-19 telah dikaitkan dengan miokarditis pada remaja dan dewasa muda, dan kekhawatiran telah muncul tentang kemungkinan kematian jantung terkait vaksin pada kelompok usia ini.
Pada April 2021, kasus miokarditis setelah vaksinasi COVID-19, khususnya di antara penerima vaksin laki-laki muda, dilaporkan ke Sistem Pelaporan Kejadian Buruk Vaksin (Vaccine Adverse Event Reporting System). Hasil penelitian menunjukkan tidak ditemukan adanya sertifikat kematian yang menyebutkan kematian disebabkan oleh vaksinasi.
Jadi, data ini tidak mendukung adanya hubungan antara penerimaan vaksin mRNA COVID-19 dan kematian jantung mendadak di antara orang muda yang sebelumnya sehat. Vaksinasi COVID-19 direkomendasikan untuk semua orang berusia ≥6 bulan untuk mencegah COVID-19 dan komplikasinya, termasuk kematian.
Senada dengan itu, kepada Tirto dr. Andreas Wilson Setiawan, M. Kes., Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Kedokteran Universitas Dian Nuswantoro, menegaskan bahwa memang benar, terdapat efek samping langka berupa miokarditis (radang otot jantung) yang lebih sering terjadi pada laki-laki muda setelah vaksin mRNA. Namun, penting dipahami bahwa kasusnya sangat jarang menyebabkan komplikasi berat dan umumnya ringan, serta akan sembuh sendiri. Sebaliknya, infeksi COVID-19 justru lebih berisiko menyebabkan miokarditis yang lebih berat dibandingkan dengan vaksin.
Menurut CIDRAP University of Minnesota, hasil studi yang dilakukan menunjukkan bahwa vaksin COVID tidak terkait dengan risiko kematian mendadak. Data menunjukkan bahwa orang muda dan sehat tidak memiliki risiko tambahan kematian mendadak jika mendapatkan vaksin COVID-19. Ini bertentangan dengan mitos yang terus beredar luas di media sosial.
Faktanya, remaja dan dewasa muda yang sehat, dan mendapat vaksinasi COVID-19, memiliki kemungkinan mengalami kematian mendadak, yang 43% lebih kecil dibandingkan dengan orang yang tidak divaksinasi. Ini diperkuat oleh sebuah studi kasus-kontrol Kanada yang diterbitkan minggu lalu di PLOS Medicine.
Para peneliti berfokus pada penduduk Ontario berusia 12 hingga 50 tahun. Tidak satupun dari mereka memiliki kondisi kronis yang meningkatkan risiko kematian akibat COVID-19. Kematian mendadak pada populasi ini sangat jarang terjadi, yaitu pada 4.806 orang atau 0,08% dari hampir 6,4 juta orang, yang catatan medisnya disertakan dalam penelitian ini.
Sebagai contoh, sebuah studi yang diterbitkan di JAMA Network Open pada tahun 2025 tidak menemukan peningkatan risiko henti jantung mendadak atau kematian mendadak pada atlet muda selama atau setelah pandemi.
Penelitian yang diterbitkan pada tahun 2024 juga tidak menemukan hubungan antara vaksinasi mRNA COVID-19 dan kematian jantung mendadak. Studi tersebut, yang muncul dalam publikasi unggulan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS, Morbidity and Mortality Weekly Report, meneliti sertifikat kematian dan catatan imunisasi orang dewasa muda yang sebelumnya sehat di Oregon.
Dokter Andreas Wilson Setiawan, M. Kes., menegaskan bahwa hingga saat ini, berbagai studi besar menunjukkan tidak ada peningkatan risiko kematian mendadak setelah vaksinasi dan tidak ditemukan hubungan sebab-akibat antara vaksin dan kematian jantung pada orang sehat.
“Pada beberapa penelitian, orang yang divaksin malah memiliki risiko kematian lebih rendah. Klaim bahwa vaksin menyebabkan kematian mendadak bertahun-tahun kemudian tidak terbukti secara ilmiah,” begitu jelas dr. Andreas.
Demikian juga laman Cardiac Risk in the Youngmenegaskan, tidak ada bukti bahwa vaksin COVID-19 terkait dengan pingsan atau kematian atlet. Para ahli juga mengatakan kepada Reuters Fact Check bahwa masih belum ada bukti peningkatan kematian atau kejadian jantung serius di kalangan atlet, juga tidak ada bukti bahwa efek yang diketahui dari vaksin telah menyebabkan jenis kejadian jantung yang terlihat pada para atlet.
Kementerian Komdigi sempat mengungah tulisan bahwa video di media sosial yang mengklaim bahwa sejumlah atlet meninggal dunia karena terkena Sudden Arrhythmic Death Syndrome - sering disebut sebagai Sudden Adult Death Syndrome (SADS) - atau kematian yang terjadi secara tiba-tiba akibat serangan jantung setelah divaksin Covid-19 adalah hoaks.
Melansir liputan6.com, klaim sejumlah atlet meninggal dunia karena terkena Sudden Arrhythmic Death Syndrome - sering disebut sebagai Sudden Adult Death Syndrome (SADS) - atau kematian yang terjadi secara tiba-tiba akibat serangan jantung setelah divaksin Covid-19 adalah tidak benar.
Faktanya, Direktur Asosiasi Penelitian Aritmia Jantung di Medstar Heart dan Vascular Institute Washington Cyrus Hadadi menyebutkan tidak ada bukti valid bahwa SADS disebabkan oleh vaksin Covid-19. Yayasan SADS di Amerika Serikat juga mengeluarkan pernyataan resmi bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan jika salah satu vaksin Covid-19 yang tersedia menyebabkan orang memiliki kondisi SADS atau membuat kondisi SADS pada orang lebih parah.
Laman Mount Elizabeth Hospital, menyatakan vaksin aman untuk diberikan kepada pasien jantung, tanpa ada hubungan yang terbukti antara potensi efek samping vaksin dan kondisi jantung yang sudah ada sebelumnya. Uji klinis telah dilakukan pada pasien dengan berbagai kondisi kesehatan yang sudah ada sebelumnya, termasuk hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi. Tidak ada efek samping atau komplikasi yang dilaporkan setelah vaksin diberikan pada pasien-pasien ini.
Karena vaksin ini dianggap aman secara medis untuk pasien jantung, mereka yang memiliki kondisi jantung sangat disarankan untuk mendapatkan vaksinasi begitu vaksin ini tersedia bagi mereka. Hal ini dapat mengurangi risiko tertular virus COVID-19, sehingga melindungi mereka dari potensi komplikasi yang mungkin timbul akibat virus tersebut.
Dengan demikian, narasi yang menyebutkan vaksin sebagai sebab kematian mendadak pada orang dewasa atau Sudden Adult Death Syndrome atau Sudden Arrhythmic Death Syndrome (SADS) di kalangan dewasa muda dan atlet setelah bertahun-tahun penyuntikan adalah tidak benar.
Adapun video atlet yang jatuh di lapangan sering dipakai untuk mendukung narasi ini. Faktanya, kasus kolaps pada atlet sudah ada sejak lama. Penyebabnya bisa diakibatkan oleh kelainan jantung bawaan, aritmia, dehidrasi, atau kelelahan ekstrem, dan tidak ada bukti peningkatan kejadian setelah vaksinasi.
Baca juga:Cleveland Clinic Tak Sebut Penerima Vaksin COVID akan Meninggal
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelusuran fakta, klaim yang menyatakan bahwa vaksin COVID-19 dapat menyebabkan kematian mendadak pada orang dewasa atau Sudden Adult Death Syndrome - juga sering disebut Sudden Arrhythmic Death Syndrome - (SADS) di kalangan dewasa muda dan atlet setelah bertahun-tahun penyuntikan adalah salah dan menyesatkan (false and misleading).
Vaksin COVID tidak terkait dengan risiko kematian mendadak. Data menunjukkan bahwa orang muda dan sehat tidak memiliki risiko tambahan kematian mendadak jika divaksinasi COVID-19.
Sebagian besar otoritas kesehatan seperti CDC tetap menyatakan bahwa manfaat vaksin COVID-19 jauh lebih besar daripada risikonya. Vaksin ini dianggap aman secara medis dan dapat mengurangi risiko tertular virus COVID-19, sehingga mampu menjadi proteksi dari potensi komplikasi yang mungkin timbul akibat virus tersebut.
==
Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.
Vaksin COVID tidak terkait dengan risiko kematian mendadak. Data menunjukkan bahwa orang muda dan sehat tidak memiliki risiko tambahan kematian mendadak jika divaksinasi COVID-19.
Sebagian besar otoritas kesehatan seperti CDC tetap menyatakan bahwa manfaat vaksin COVID-19 jauh lebih besar daripada risikonya. Vaksin ini dianggap aman secara medis dan dapat mengurangi risiko tertular virus COVID-19, sehingga mampu menjadi proteksi dari potensi komplikasi yang mungkin timbul akibat virus tersebut.
==
Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.
Rujukan
- https://www.facebook.com/groups/980378689522804/permalink/2092468951647100/?rdid=egEVa2qKgTOJUdmn#
- https://archive.today/cvY2S
- https://tirto.id/salah-klaim-74-kematian-disebabkan-oleh-vaksin-covid-19-hkwF
- https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11287309/
- https://www.cdc.gov/mmwr/volumes/73/wr/mm7314a5.htm
- https://www.cidrap.umn.edu/covid-19/covid-vaccines-not-tied-risk-sudden-death-study-shows#:~:text=Data%20show%20that%20young%2C%20healthy,second%2C%20or%20third%20vaccine%20dose
- https://www.cidrap.umn.edu/covid-19/new-data-early-fears-covid-raises-risk-sudden-cardiac-events-athletes-unfounded
- https://www.cidrap.umn.edu/covid-19/oregon-data-covid-vaccines-not-tied-sudden-cardiac-death-young-people
- https://www.c-r-y.org.uk/experts-say-there-is-no-evidence-to-support-the-claim-that-the-covid-19-vaccine-and-athletes-collapsing-due-to-cardiac-conditions-are-linked/
- https://www.reuters.com/article/fact-check/no-evidence-covid-19-vaccines-are-linked-to-athletes-collapsing-or-dying-idUSL1N3451N2/
- https://www.komdigi.go.id/berita/pengumuman/detail/hoaks-vaksin-covid-19-sebabkan-sindrom-kematian-mendadak-bagi-atlet
- https://www.liputan6.com/cek-fakta/read/5031331/cek-fakta-tidak-benar-vaksin-covid-19-sebabkan-sindrom-kematian-mendadak-bagi-atlet
- https://www.mountelizabeth.com.sg/id/health-plus/article/covid-vaccine-heart-diseases
- https://tirto.id/cleveland-clinic-tak-sebut-penerima-vaksin-covid-akan-meninggal-hahs
Hoaks, PM Italia Protes Netanyahu & Dukung Kemerdekaan Palestina
Sumber:Tanggal publish: 06/05/2026
Berita
tirto.id - Beredar di media sosial Facebook sebuah unggahan video yang mengklaim Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni menyatakan dukungannya terhadap kemerdekaan Palestina dan menentang Netanyahu.
Unggahan tersebut disebarkan oleh akun Facebook bernama “Duda Mbus” (arsip) pada Minggu (03/05/2026). Unggahan video berdurasi 13 detik tersebut menampilkan Meloni tengah melakukan aksi protes dengan membawa bendera Palestina di hadapan Netanyahu dalam ruangan rapat yang dipenuhi banyak audiens.
let gpt_inline2 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline2.cmd.push(function() {gpt_inline2.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-2', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline2-passback').addService(gpt_inline2.pubads());gpt_inline2.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline2.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline2.enableServices();gpt_inline2.display('gpt-inline2-passback');});
“Meloni challenger Trump and Netanyahu, supports Palestine’s freedom,” begitu keterangan tertulis dalam unggahan.
let gpt_inline3 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline3.cmd.push(function() {gpt_inline3.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-3', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline3-passback').addService(gpt_inline3.pubads());gpt_inline3.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline3.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline3.enableServices();gpt_inline3.display('gpt-inline3-passback');});
#gpt-inline3-passback{text-align:center;}
Pengunggah juga menambahkan teks terjemahan dalam video “Apa yang sedang kamu lakukan? Berhenti. Tidak, cukup dengan pendudukan. Kamu tidak bisa melakukan itu di sini. Palestina, kebebasan untuk semua,” begitu narasi teks terjemahan tertulis dalam cuplikan video. Namun, bahasa yang terdengar bukanlah bahasa Indonesia.
let gpt_inline4 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline4.cmd.push(function() {gpt_inline4.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-4', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline4-passback').addService(gpt_inline4.pubads());gpt_inline4.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline4.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline4.enableServices();gpt_inline4.display('gpt-inline4-passback');});
#gpt-inline4-passback{text-align:center;}
Sampai artikel ini ditulis pada Rabu (06/05/2026), unggahan tersebut telah mendapatkan 892 likes, 117 komentar, 103 kali dibagikan, dan 68 ribu kali ditayangkan. Kolom komentar dipenuhi dengan reaksi kepercayaan masyarakat terhadap informasi tersebut dan dukungan terhadap aksi yang dilakukan Meloni.
Tirto juga menemukan unggahan serupa pada akun Facebook “Nan Karo Ndar” yang menampilkan cuplikan serupa terkait dukungan PM Italia terhadap kemerdekaan Palestina.
Lantas, benarkah PM Italia mendukung kemerdekaan Palestina dan melakukan aksi protes terhadap Netanyahu?
Baca juga:Delegasi RI Desak Dunia Bertindak Atasi Penjajahan di Palestina
periksa fakta PM Italia: Free Palestine.
Unggahan tersebut disebarkan oleh akun Facebook bernama “Duda Mbus” (arsip) pada Minggu (03/05/2026). Unggahan video berdurasi 13 detik tersebut menampilkan Meloni tengah melakukan aksi protes dengan membawa bendera Palestina di hadapan Netanyahu dalam ruangan rapat yang dipenuhi banyak audiens.
let gpt_inline2 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline2.cmd.push(function() {gpt_inline2.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-2', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline2-passback').addService(gpt_inline2.pubads());gpt_inline2.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline2.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline2.enableServices();gpt_inline2.display('gpt-inline2-passback');});
“Meloni challenger Trump and Netanyahu, supports Palestine’s freedom,” begitu keterangan tertulis dalam unggahan.
let gpt_inline3 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline3.cmd.push(function() {gpt_inline3.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-3', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline3-passback').addService(gpt_inline3.pubads());gpt_inline3.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline3.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline3.enableServices();gpt_inline3.display('gpt-inline3-passback');});
#gpt-inline3-passback{text-align:center;}
Pengunggah juga menambahkan teks terjemahan dalam video “Apa yang sedang kamu lakukan? Berhenti. Tidak, cukup dengan pendudukan. Kamu tidak bisa melakukan itu di sini. Palestina, kebebasan untuk semua,” begitu narasi teks terjemahan tertulis dalam cuplikan video. Namun, bahasa yang terdengar bukanlah bahasa Indonesia.
let gpt_inline4 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline4.cmd.push(function() {gpt_inline4.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-4', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline4-passback').addService(gpt_inline4.pubads());gpt_inline4.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline4.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline4.enableServices();gpt_inline4.display('gpt-inline4-passback');});
#gpt-inline4-passback{text-align:center;}
Sampai artikel ini ditulis pada Rabu (06/05/2026), unggahan tersebut telah mendapatkan 892 likes, 117 komentar, 103 kali dibagikan, dan 68 ribu kali ditayangkan. Kolom komentar dipenuhi dengan reaksi kepercayaan masyarakat terhadap informasi tersebut dan dukungan terhadap aksi yang dilakukan Meloni.
Tirto juga menemukan unggahan serupa pada akun Facebook “Nan Karo Ndar” yang menampilkan cuplikan serupa terkait dukungan PM Italia terhadap kemerdekaan Palestina.
Lantas, benarkah PM Italia mendukung kemerdekaan Palestina dan melakukan aksi protes terhadap Netanyahu?
Baca juga:Delegasi RI Desak Dunia Bertindak Atasi Penjajahan di Palestina
periksa fakta PM Italia: Free Palestine.
Hasil Cek Fakta
Untuk memverifikasi klaim tersebut, pertama-tama Tirto melakukan pencarian gambar terbalik (reverse image) untuk menemukan gambar asli. Hasil penelusuran mengarahkan kami ke laman Kompas.Di situ dilaporkan bahwa sebuah video yang tersebar di media sosial yang diklaim menampilkan Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni menyerukan kemerdekaan Palestina di hadapan Benjamin Netanyahu merupakan hasil rekayasa berbasis artificial intelligence (AI).
Lebih lanjut, Tirto mengetikkan kata kunci “PM Italia dukung kemerdekaan Palestina dan protes Netanyahu.” Hasil penelusuran mengarah ke YouTube Kompas, yang melaporkan bahwa Italia masih belum mengakui kemerdekaan Palestina sebagai negara meskipun sudah didemo warganya. Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni menegaskan tidak akan mendukung pengakuan negara Palestina sampai dua syarat terpenuhi. Hal itu disampaikan di sela-sela Sidang Umum PBB di New York, Amerika Serikat, Selasa (23/9/2025).
“Palestina harus tunduk pada dua syarat: pembebasan para sandera dan tentu saja pengucilan Hamas dari pemerintahan manapun di Palestina. Karena kita perlu memahami apa prioritasnya. Saya tidak menentang pengakuan Palestina, tetapi kita harus memberikan prioritas yang tepat kepada diri kita sendiri,” begitu jelas Meloni.
PM Italia Giorgia Meloni mendukung solusi dua negara, namun menekankan bahwa pengakuan terhadap negara Palestina harus melalui proses nyata dan bukan sekadar pengakuan di atas kertas. Meloni mengajukan dua syarat utama untuk pengakuan Palestina, yaitu pembebasan sandera dan penghapusan Hamas dari pemerintahan masa depan. Italia juga mengkritik tindakan Israel di Gaza yang dinilai melampaui batas dan menegaskan perlunya komitmen terhadap kemanusiaan.
Kemudian, Tirto menonton secara menyeluruh dan menemukan sejumlah kejanggalan, terutama pada sinkronisasi gerak bibir, intonasi suara, serta ekspresi wajah Netanyahu dan Meloni yang tampak tidak natural. Karakteristik semacam ini kerap ditemukan pada konten yang diduga merupakan hasil manipulasi menggunakan teknologi akal imitasi (AI).
Untuk memastikannya, kami menggunakan situs Hive Moderation untuk mengetahui persentase penggunaan AI dalam video. Hasil analisis menunjukkan bahwa audio yang digunakan dalam video tersebut memiliki probabilitas 84,8 persen sebagai suara hasil manipulasi AI.
Dalam rangkuman Tirto, “Italia Stop Pertahanan dengan Israel, Hubungan Buruk?” Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni memutuskan untuk tidak memperpanjang perjanjian pertahanan dengan Israel pada Rabu (14/4/2026). Keputusan ini diambil imbas perkembangan situasi di Asia Barat.
Penangguhan kerjasama Italia-Israel ini dipandang banyak pihak sebagai isyarat terbaru memburuknya hubungan Roma dan Tel Aviv. Keduanya, sebelumnya dikenal punya hubungan yang solid.
Pemerintahan Meloni bahkan dianggap banyak pihak sebagai sekutu utama Presiden AS Donald Trump dan Israel di Eropa. Dalam banyak kesempatan, Italia bertindak sebagai negara pendukung AS dan Israel di tengah meluasnya sentimen negatif terhadap dua negara itu di Eropa. Namun, dalam beberapa pekan terakhir, hubungan Italia dan poros AS-Israel tampak memburuk.
Para analis menilai bahwa langkah Meloni dalam beberapa waktu terakhir merupakan respons atas meluasnya sentimen negatif publik Italia tentang AS dan Israel. Sentimen ini meluas pada 2026 seiring tindakan AS di Venezuela, keinginan mereka untuk mencaplok Greenland, dan serangan AS-Israel di Iran.
Meloni dipandang tengah menjauhkan diri dari poros AS-Israel yang semakin tak populer di kalangan pemilih Italia. Pemilu Italia dijadwalkan akan terselenggara pada akhir 2027 mendatang. Namun, sampai artikel ini ditulis, tidak ditemukan informasi dari media kredibel yang membenarkan klaim Meloni mendukung kemerdekaan Palestina.
Baca juga:WN Italia Dideportasi dari Bali setelah Mengamuk saat Ditilang
Lebih lanjut, Tirto mengetikkan kata kunci “PM Italia dukung kemerdekaan Palestina dan protes Netanyahu.” Hasil penelusuran mengarah ke YouTube Kompas, yang melaporkan bahwa Italia masih belum mengakui kemerdekaan Palestina sebagai negara meskipun sudah didemo warganya. Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni menegaskan tidak akan mendukung pengakuan negara Palestina sampai dua syarat terpenuhi. Hal itu disampaikan di sela-sela Sidang Umum PBB di New York, Amerika Serikat, Selasa (23/9/2025).
“Palestina harus tunduk pada dua syarat: pembebasan para sandera dan tentu saja pengucilan Hamas dari pemerintahan manapun di Palestina. Karena kita perlu memahami apa prioritasnya. Saya tidak menentang pengakuan Palestina, tetapi kita harus memberikan prioritas yang tepat kepada diri kita sendiri,” begitu jelas Meloni.
PM Italia Giorgia Meloni mendukung solusi dua negara, namun menekankan bahwa pengakuan terhadap negara Palestina harus melalui proses nyata dan bukan sekadar pengakuan di atas kertas. Meloni mengajukan dua syarat utama untuk pengakuan Palestina, yaitu pembebasan sandera dan penghapusan Hamas dari pemerintahan masa depan. Italia juga mengkritik tindakan Israel di Gaza yang dinilai melampaui batas dan menegaskan perlunya komitmen terhadap kemanusiaan.
Kemudian, Tirto menonton secara menyeluruh dan menemukan sejumlah kejanggalan, terutama pada sinkronisasi gerak bibir, intonasi suara, serta ekspresi wajah Netanyahu dan Meloni yang tampak tidak natural. Karakteristik semacam ini kerap ditemukan pada konten yang diduga merupakan hasil manipulasi menggunakan teknologi akal imitasi (AI).
Untuk memastikannya, kami menggunakan situs Hive Moderation untuk mengetahui persentase penggunaan AI dalam video. Hasil analisis menunjukkan bahwa audio yang digunakan dalam video tersebut memiliki probabilitas 84,8 persen sebagai suara hasil manipulasi AI.
Dalam rangkuman Tirto, “Italia Stop Pertahanan dengan Israel, Hubungan Buruk?” Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni memutuskan untuk tidak memperpanjang perjanjian pertahanan dengan Israel pada Rabu (14/4/2026). Keputusan ini diambil imbas perkembangan situasi di Asia Barat.
Penangguhan kerjasama Italia-Israel ini dipandang banyak pihak sebagai isyarat terbaru memburuknya hubungan Roma dan Tel Aviv. Keduanya, sebelumnya dikenal punya hubungan yang solid.
Pemerintahan Meloni bahkan dianggap banyak pihak sebagai sekutu utama Presiden AS Donald Trump dan Israel di Eropa. Dalam banyak kesempatan, Italia bertindak sebagai negara pendukung AS dan Israel di tengah meluasnya sentimen negatif terhadap dua negara itu di Eropa. Namun, dalam beberapa pekan terakhir, hubungan Italia dan poros AS-Israel tampak memburuk.
Para analis menilai bahwa langkah Meloni dalam beberapa waktu terakhir merupakan respons atas meluasnya sentimen negatif publik Italia tentang AS dan Israel. Sentimen ini meluas pada 2026 seiring tindakan AS di Venezuela, keinginan mereka untuk mencaplok Greenland, dan serangan AS-Israel di Iran.
Meloni dipandang tengah menjauhkan diri dari poros AS-Israel yang semakin tak populer di kalangan pemilih Italia. Pemilu Italia dijadwalkan akan terselenggara pada akhir 2027 mendatang. Namun, sampai artikel ini ditulis, tidak ditemukan informasi dari media kredibel yang membenarkan klaim Meloni mendukung kemerdekaan Palestina.
Baca juga:WN Italia Dideportasi dari Bali setelah Mengamuk saat Ditilang
Kesimpulan
Hasil penelusuran menunjukkan bahwa unggahan video yang mengklaim bahwa PM Italia menyatakan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina dan melakukan aksi protes di hadapan Netanyahu bersifat salah dan menyesatkan (false and misleading).
Hasil analisis menunjukkan bahwa audio dalam video yang beredar terindikasi kuat merupakan hasil rekayasa teknologi kecerdasan buatan (AI).
PM Italia Giorgia Meloni mengajukan dua syarat utama untuk pengakuan Palestina, yaitu pembebasan sandera dan penghapusan Hamas dari pemerintahan masa depan. Italia juga mengkritik tindakan Israel di Gaza dan menegaskan perlunya komitmen terhadap kemanusiaan. Namun, Meloni tidak pernah melakukan aksi protes terhadap Netanyahu untuk mendukung kemerdekaan Palestina.
==
Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.
Hasil analisis menunjukkan bahwa audio dalam video yang beredar terindikasi kuat merupakan hasil rekayasa teknologi kecerdasan buatan (AI).
PM Italia Giorgia Meloni mengajukan dua syarat utama untuk pengakuan Palestina, yaitu pembebasan sandera dan penghapusan Hamas dari pemerintahan masa depan. Italia juga mengkritik tindakan Israel di Gaza dan menegaskan perlunya komitmen terhadap kemanusiaan. Namun, Meloni tidak pernah melakukan aksi protes terhadap Netanyahu untuk mendukung kemerdekaan Palestina.
==
Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.
Rujukan
- https://www.facebook.com/reel/1613254533312206
- https://archive.today/mSziF
- https://www.facebook.com/watch/?v=1006159792084753
- https://tirto.id/delegasi-ri-desak-dunia-bertindak-atasi-penjajahan-di-palestina-huXA
- https://www.kompas.com/cekfakta/read/2026/05/04/154000682/-klarifikasi-konten-ai-pm-italia-serukan-kemerdekaan-palestina-di
- https://www.youtube.com/watch?v=aX-XpmcdRKs
- https://hivemoderation.com/ai-generated-content-detection
- https://tirto.id/italia-stop-perjanjian-pertahanan-dengan-israel-hubungan-buruk-hulw
- https://tirto.id/wn-italia-dideportasi-dari-bali-setelah-mengamuk-saat-ditilang-hvfF
Tidak Benar, Vaksin COVID Sebabkan Kematian Mendadak
Sumber:Tanggal publish: 06/05/2026
Berita
tirto.id - Sebuah unggahan beredar di media sosial Facebook mengklaim bahwa vaksin COVID menyebabkan sindrom kematian mendadak pada orang dewasa atau Sudden Adult Death Syndrome (SADS) di kalangan dewasa muda dan atlet setelah bertahun-tahun penyuntikan.
Unggahan tersebut disebarkan oleh akun Facebook bernama “Walman Tobing” (arsip) dalam obrolan grup Cerdik & Tulus pada Senin (30/03/2026). Unggahan tersebut menampilkan cuplikan video Nicolas Hulscher, MPH, tengah menyampaikan pendapatnya terkait vaksin COVID-19, dan di sisi kiri ditampilkan video jatuhnya para atlet di lapangan ketika bertanding.
let gpt_inline2 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline2.cmd.push(function() {gpt_inline2.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-2', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline2-passback').addService(gpt_inline2.pubads());gpt_inline2.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline2.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline2.enableServices();gpt_inline2.display('gpt-inline2-passback');});
“We published about six papers on heart conditions with these shots and it's quite unequivocal. Two studies have found the spike protein and messenger RNA in the heart in myocarditis patients and deceased victims and so we know it does get into the heart and since that happens it unfortunately gives the cardiomyocytes your heart cells in the myocardium the instructions to make these highly pathogenic spike proteins so once they begin to make them your own body is going to attack those cells expressing those proteins resulting in that cardiac inflammation scarring that's very important.
let gpt_inline3 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline3.cmd.push(function() {gpt_inline3.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-3', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline3-passback').addService(gpt_inline3.pubads());gpt_inline3.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline3.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline3.enableServices();gpt_inline3.display('gpt-inline3-passback');});
#gpt-inline3-passback{text-align:center;}
Our public health agencies claim that it's mild and transient myocarditis it's not it results it can result in irreversible heart scarring heart scarring does not go away and in particular it can result in micro scars an autopsy study found that you don't even see those on imaging you can only see it under a microscope and so and and these micro scars were found in sudden adult death syndrome victims from these shots they received like six boosters and there was this literally like tiny little scars resulting in these electrical conduction abnormalities you know ventricular tachycardia eventually cardiac arrest sudden death we published the first paper kind of elucidating COVID-19 vaccine induced cardiac arrest as well we published an autopsy series where we concluded that COVID-19 vaccine induced myocarditis is fatal.” Begitu narasi pada cuplikan video.
let gpt_inline4 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline4.cmd.push(function() {gpt_inline4.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-4', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline4-passback').addService(gpt_inline4.pubads());gpt_inline4.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline4.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline4.enableServices();gpt_inline4.display('gpt-inline4-passback');});
#gpt-inline4-passback{text-align:center;}
Dalam unggahan dituliskan keterangan bahwa terdapat enam studi yang telah ditinjau dan menunjukkan secara tegas bahwa vaksin mRNA sangat kardioksik, merusak jantung secara permanen dengan jaringan parut mikro yang mematikan.
Sampai artikel ini ditulis pada Selasa (05/05/2026), unggahan tersebut telah mendapatkan 1,4 ribu likes, 179 komentar, dan 927 kali dibagikan.
Lantas, benarkah vaksin COVID-19 menyebabkan Sindrom Kematian Mendadak pada Orang Dewasa atau Sudden Adult Death Syndrome (SADS) di kalangan dewasa muda dan atlet bertahun-tahun setelah penyuntikan?
Baca juga:Salah, Klaim 74% Kematian Disebabkan oleh Vaksin COVID-19
periksa fakta Kematian mendadak akibat vaksin. tirto.id/Mojo
Unggahan tersebut disebarkan oleh akun Facebook bernama “Walman Tobing” (arsip) dalam obrolan grup Cerdik & Tulus pada Senin (30/03/2026). Unggahan tersebut menampilkan cuplikan video Nicolas Hulscher, MPH, tengah menyampaikan pendapatnya terkait vaksin COVID-19, dan di sisi kiri ditampilkan video jatuhnya para atlet di lapangan ketika bertanding.
let gpt_inline2 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline2.cmd.push(function() {gpt_inline2.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-2', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline2-passback').addService(gpt_inline2.pubads());gpt_inline2.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline2.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline2.enableServices();gpt_inline2.display('gpt-inline2-passback');});
“We published about six papers on heart conditions with these shots and it's quite unequivocal. Two studies have found the spike protein and messenger RNA in the heart in myocarditis patients and deceased victims and so we know it does get into the heart and since that happens it unfortunately gives the cardiomyocytes your heart cells in the myocardium the instructions to make these highly pathogenic spike proteins so once they begin to make them your own body is going to attack those cells expressing those proteins resulting in that cardiac inflammation scarring that's very important.
let gpt_inline3 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline3.cmd.push(function() {gpt_inline3.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-3', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline3-passback').addService(gpt_inline3.pubads());gpt_inline3.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline3.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline3.enableServices();gpt_inline3.display('gpt-inline3-passback');});
#gpt-inline3-passback{text-align:center;}
Our public health agencies claim that it's mild and transient myocarditis it's not it results it can result in irreversible heart scarring heart scarring does not go away and in particular it can result in micro scars an autopsy study found that you don't even see those on imaging you can only see it under a microscope and so and and these micro scars were found in sudden adult death syndrome victims from these shots they received like six boosters and there was this literally like tiny little scars resulting in these electrical conduction abnormalities you know ventricular tachycardia eventually cardiac arrest sudden death we published the first paper kind of elucidating COVID-19 vaccine induced cardiac arrest as well we published an autopsy series where we concluded that COVID-19 vaccine induced myocarditis is fatal.” Begitu narasi pada cuplikan video.
let gpt_inline4 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline4.cmd.push(function() {gpt_inline4.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-4', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline4-passback').addService(gpt_inline4.pubads());gpt_inline4.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline4.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline4.enableServices();gpt_inline4.display('gpt-inline4-passback');});
#gpt-inline4-passback{text-align:center;}
Dalam unggahan dituliskan keterangan bahwa terdapat enam studi yang telah ditinjau dan menunjukkan secara tegas bahwa vaksin mRNA sangat kardioksik, merusak jantung secara permanen dengan jaringan parut mikro yang mematikan.
Sampai artikel ini ditulis pada Selasa (05/05/2026), unggahan tersebut telah mendapatkan 1,4 ribu likes, 179 komentar, dan 927 kali dibagikan.
Lantas, benarkah vaksin COVID-19 menyebabkan Sindrom Kematian Mendadak pada Orang Dewasa atau Sudden Adult Death Syndrome (SADS) di kalangan dewasa muda dan atlet bertahun-tahun setelah penyuntikan?
Baca juga:Salah, Klaim 74% Kematian Disebabkan oleh Vaksin COVID-19
periksa fakta Kematian mendadak akibat vaksin. tirto.id/Mojo
Hasil Cek Fakta
Sebagai informasi, Nicolas Hulscher adalah seorang epidemiolog dan peneliti di McCullough Foundation, sebuah organisasi nirlaba yang sering mengkaji aspek keamanan vaksin dan merupakan lulusan Master of Public Health (MPH) dari University of Michigan.
Pandangan Hulscher sering kali bertentangan dengan konsensus medis global. Sebagian besar otoritas kesehatan seperti CDC tetap menyatakan bahwa manfaat vaksin COVID-19 jauh lebih besar daripada risikonya, meskipun komplikasi langka seperti miokarditis memang diakui keberadaannya.
Dalam hasil penelitian CDC berjudul “Assessment of Risk for Sudden Cardiac Death Among Adolescents and Young Adults After Receipt of COVID-19 Vaccine - Oregon, June 2021- December 2022,” vaksinasi COVID-19 telah dikaitkan dengan miokarditis pada remaja dan dewasa muda, dan kekhawatiran telah muncul tentang kemungkinan kematian jantung terkait vaksin pada kelompok usia ini.
Pada April 2021, kasus miokarditis setelah vaksinasi COVID-19, khususnya di antara penerima vaksin laki-laki muda, dilaporkan ke Sistem Pelaporan Kejadian Buruk Vaksin (Vaccine Adverse Event Reporting System). Hasil penelitian menunjukkan tidak ditemukan adanya sertifikat kematian yang menyebutkan kematian disebabkan oleh vaksinasi.
Jadi, data ini tidak mendukung adanya hubungan antara penerimaan vaksin mRNA COVID-19 dan kematian jantung mendadak di antara orang muda yang sebelumnya sehat. Vaksinasi COVID-19 direkomendasikan untuk semua orang berusia ≥6 bulan untuk mencegah COVID-19 dan komplikasinya, termasuk kematian.
Senada dengan itu, kepada Tirto dr. Andreas Wilson Setiawan, M. Kes., Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Kedokteran Universitas Dian Nuswantoro, menegaskan bahwa memang benar, terdapat efek samping langka berupa miokarditis (radang otot jantung) yang lebih sering terjadi pada laki-laki muda setelah vaksin mRNA. Namun, penting dipahami bahwa kasusnya sangat jarang menyebabkan komplikasi berat dan umumnya ringan, serta akan sembuh sendiri. Sebaliknya, infeksi COVID-19 justru lebih berisiko menyebabkan miokarditis yang lebih berat dibandingkan dengan vaksin.
Menurut CIDRAP University of Minnesota, hasil studi yang dilakukan menunjukkan bahwa vaksin COVID tidak terkait dengan risiko kematian mendadak. Data menunjukkan bahwa orang muda dan sehat tidak memiliki risiko tambahan kematian mendadak jika mendapatkan vaksin COVID-19. Ini bertentangan dengan mitos yang terus beredar luas di media sosial.
Faktanya, remaja dan dewasa muda yang sehat, dan mendapat vaksinasi COVID-19, memiliki kemungkinan mengalami kematian mendadak, yang 43% lebih kecil dibandingkan dengan orang yang tidak divaksinasi. Ini diperkuat oleh sebuah studi kasus-kontrol Kanada yang diterbitkan minggu lalu di PLOS Medicine.
Para peneliti berfokus pada penduduk Ontario berusia 12 hingga 50 tahun. Tidak satupun dari mereka memiliki kondisi kronis yang meningkatkan risiko kematian akibat COVID-19. Kematian mendadak pada populasi ini sangat jarang terjadi, yaitu pada 4.806 orang atau 0,08% dari hampir 6,4 juta orang, yang catatan medisnya disertakan dalam penelitian ini.
Sebagai contoh, sebuah studi yang diterbitkan di JAMA Network Open pada tahun 2025 tidak menemukan peningkatan risiko henti jantung mendadak atau kematian mendadak pada atlet muda selama atau setelah pandemi.
Penelitian yang diterbitkan pada tahun 2024 juga tidak menemukan hubungan antara vaksinasi mRNA COVID-19 dan kematian jantung mendadak. Studi tersebut, yang muncul dalam publikasi unggulan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS, Morbidity and Mortality Weekly Report, meneliti sertifikat kematian dan catatan imunisasi orang dewasa muda yang sebelumnya sehat di Oregon.
Dokter Andreas Wilson Setiawan, M. Kes., menegaskan bahwa hingga saat ini, berbagai studi besar menunjukkan tidak ada peningkatan risiko kematian mendadak setelah vaksinasi dan tidak ditemukan hubungan sebab-akibat antara vaksin dan kematian jantung pada orang sehat.
“Pada beberapa penelitian, orang yang divaksin malah memiliki risiko kematian lebih rendah. Klaim bahwa vaksin menyebabkan kematian mendadak bertahun-tahun kemudian tidak terbukti secara ilmiah,” begitu jelas dr. Andreas.
Demikian juga laman Cardiac Risk in the Youngmenegaskan, tidak ada bukti bahwa vaksin COVID-19 terkait dengan pingsan atau kematian atlet. Para ahli juga mengatakan kepada Reuters Fact Check bahwa masih belum ada bukti peningkatan kematian atau kejadian jantung serius di kalangan atlet, juga tidak ada bukti bahwa efek yang diketahui dari vaksin telah menyebabkan jenis kejadian jantung yang terlihat pada para atlet.
Kementerian Komdigi sempat mengungah tulisan bahwa video di media sosial yang mengklaim bahwa sejumlah atlet meninggal dunia karena terkena Sudden Arrhythmic Death Syndrome - sering disebut sebagai Sudden Adult Death Syndrome (SADS) - atau kematian yang terjadi secara tiba-tiba akibat serangan jantung setelah divaksin Covid-19 adalah hoaks.
Melansir liputan6.com, klaim sejumlah atlet meninggal dunia karena terkena Sudden Arrhythmic Death Syndrome - sering disebut sebagai Sudden Adult Death Syndrome (SADS) - atau kematian yang terjadi secara tiba-tiba akibat serangan jantung setelah divaksin Covid-19 adalah tidak benar.
Faktanya, Direktur Asosiasi Penelitian Aritmia Jantung di Medstar Heart dan Vascular Institute Washington Cyrus Hadadi menyebutkan tidak ada bukti valid bahwa SADS disebabkan oleh vaksin Covid-19. Yayasan SADS di Amerika Serikat juga mengeluarkan pernyataan resmi bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan jika salah satu vaksin Covid-19 yang tersedia menyebabkan orang memiliki kondisi SADS atau membuat kondisi SADS pada orang lebih parah.
Laman Mount Elizabeth Hospital, menyatakan vaksin aman untuk diberikan kepada pasien jantung, tanpa ada hubungan yang terbukti antara potensi efek samping vaksin dan kondisi jantung yang sudah ada sebelumnya. Uji klinis telah dilakukan pada pasien dengan berbagai kondisi kesehatan yang sudah ada sebelumnya, termasuk hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi. Tidak ada efek samping atau komplikasi yang dilaporkan setelah vaksin diberikan pada pasien-pasien ini.
Karena vaksin ini dianggap aman secara medis untuk pasien jantung, mereka yang memiliki kondisi jantung sangat disarankan untuk mendapatkan vaksinasi begitu vaksin ini tersedia bagi mereka. Hal ini dapat mengurangi risiko tertular virus COVID-19, sehingga melindungi mereka dari potensi komplikasi yang mungkin timbul akibat virus tersebut.
Dengan demikian, narasi yang menyebutkan vaksin sebagai sebab kematian mendadak pada orang dewasa atau Sudden Adult Death Syndrome atau Sudden Arrhythmic Death Syndrome (SADS) di kalangan dewasa muda dan atlet setelah bertahun-tahun penyuntikan adalah tidak benar.
Adapun video atlet yang jatuh di lapangan sering dipakai untuk mendukung narasi ini. Faktanya, kasus kolaps pada atlet sudah ada sejak lama. Penyebabnya bisa diakibatkan oleh kelainan jantung bawaan, aritmia, dehidrasi, atau kelelahan ekstrem, dan tidak ada bukti peningkatan kejadian setelah vaksinasi.
Baca juga:Cleveland Clinic Tak Sebut Penerima Vaksin COVID akan Meninggal
Pandangan Hulscher sering kali bertentangan dengan konsensus medis global. Sebagian besar otoritas kesehatan seperti CDC tetap menyatakan bahwa manfaat vaksin COVID-19 jauh lebih besar daripada risikonya, meskipun komplikasi langka seperti miokarditis memang diakui keberadaannya.
Dalam hasil penelitian CDC berjudul “Assessment of Risk for Sudden Cardiac Death Among Adolescents and Young Adults After Receipt of COVID-19 Vaccine - Oregon, June 2021- December 2022,” vaksinasi COVID-19 telah dikaitkan dengan miokarditis pada remaja dan dewasa muda, dan kekhawatiran telah muncul tentang kemungkinan kematian jantung terkait vaksin pada kelompok usia ini.
Pada April 2021, kasus miokarditis setelah vaksinasi COVID-19, khususnya di antara penerima vaksin laki-laki muda, dilaporkan ke Sistem Pelaporan Kejadian Buruk Vaksin (Vaccine Adverse Event Reporting System). Hasil penelitian menunjukkan tidak ditemukan adanya sertifikat kematian yang menyebutkan kematian disebabkan oleh vaksinasi.
Jadi, data ini tidak mendukung adanya hubungan antara penerimaan vaksin mRNA COVID-19 dan kematian jantung mendadak di antara orang muda yang sebelumnya sehat. Vaksinasi COVID-19 direkomendasikan untuk semua orang berusia ≥6 bulan untuk mencegah COVID-19 dan komplikasinya, termasuk kematian.
Senada dengan itu, kepada Tirto dr. Andreas Wilson Setiawan, M. Kes., Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Kedokteran Universitas Dian Nuswantoro, menegaskan bahwa memang benar, terdapat efek samping langka berupa miokarditis (radang otot jantung) yang lebih sering terjadi pada laki-laki muda setelah vaksin mRNA. Namun, penting dipahami bahwa kasusnya sangat jarang menyebabkan komplikasi berat dan umumnya ringan, serta akan sembuh sendiri. Sebaliknya, infeksi COVID-19 justru lebih berisiko menyebabkan miokarditis yang lebih berat dibandingkan dengan vaksin.
Menurut CIDRAP University of Minnesota, hasil studi yang dilakukan menunjukkan bahwa vaksin COVID tidak terkait dengan risiko kematian mendadak. Data menunjukkan bahwa orang muda dan sehat tidak memiliki risiko tambahan kematian mendadak jika mendapatkan vaksin COVID-19. Ini bertentangan dengan mitos yang terus beredar luas di media sosial.
Faktanya, remaja dan dewasa muda yang sehat, dan mendapat vaksinasi COVID-19, memiliki kemungkinan mengalami kematian mendadak, yang 43% lebih kecil dibandingkan dengan orang yang tidak divaksinasi. Ini diperkuat oleh sebuah studi kasus-kontrol Kanada yang diterbitkan minggu lalu di PLOS Medicine.
Para peneliti berfokus pada penduduk Ontario berusia 12 hingga 50 tahun. Tidak satupun dari mereka memiliki kondisi kronis yang meningkatkan risiko kematian akibat COVID-19. Kematian mendadak pada populasi ini sangat jarang terjadi, yaitu pada 4.806 orang atau 0,08% dari hampir 6,4 juta orang, yang catatan medisnya disertakan dalam penelitian ini.
Sebagai contoh, sebuah studi yang diterbitkan di JAMA Network Open pada tahun 2025 tidak menemukan peningkatan risiko henti jantung mendadak atau kematian mendadak pada atlet muda selama atau setelah pandemi.
Penelitian yang diterbitkan pada tahun 2024 juga tidak menemukan hubungan antara vaksinasi mRNA COVID-19 dan kematian jantung mendadak. Studi tersebut, yang muncul dalam publikasi unggulan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS, Morbidity and Mortality Weekly Report, meneliti sertifikat kematian dan catatan imunisasi orang dewasa muda yang sebelumnya sehat di Oregon.
Dokter Andreas Wilson Setiawan, M. Kes., menegaskan bahwa hingga saat ini, berbagai studi besar menunjukkan tidak ada peningkatan risiko kematian mendadak setelah vaksinasi dan tidak ditemukan hubungan sebab-akibat antara vaksin dan kematian jantung pada orang sehat.
“Pada beberapa penelitian, orang yang divaksin malah memiliki risiko kematian lebih rendah. Klaim bahwa vaksin menyebabkan kematian mendadak bertahun-tahun kemudian tidak terbukti secara ilmiah,” begitu jelas dr. Andreas.
Demikian juga laman Cardiac Risk in the Youngmenegaskan, tidak ada bukti bahwa vaksin COVID-19 terkait dengan pingsan atau kematian atlet. Para ahli juga mengatakan kepada Reuters Fact Check bahwa masih belum ada bukti peningkatan kematian atau kejadian jantung serius di kalangan atlet, juga tidak ada bukti bahwa efek yang diketahui dari vaksin telah menyebabkan jenis kejadian jantung yang terlihat pada para atlet.
Kementerian Komdigi sempat mengungah tulisan bahwa video di media sosial yang mengklaim bahwa sejumlah atlet meninggal dunia karena terkena Sudden Arrhythmic Death Syndrome - sering disebut sebagai Sudden Adult Death Syndrome (SADS) - atau kematian yang terjadi secara tiba-tiba akibat serangan jantung setelah divaksin Covid-19 adalah hoaks.
Melansir liputan6.com, klaim sejumlah atlet meninggal dunia karena terkena Sudden Arrhythmic Death Syndrome - sering disebut sebagai Sudden Adult Death Syndrome (SADS) - atau kematian yang terjadi secara tiba-tiba akibat serangan jantung setelah divaksin Covid-19 adalah tidak benar.
Faktanya, Direktur Asosiasi Penelitian Aritmia Jantung di Medstar Heart dan Vascular Institute Washington Cyrus Hadadi menyebutkan tidak ada bukti valid bahwa SADS disebabkan oleh vaksin Covid-19. Yayasan SADS di Amerika Serikat juga mengeluarkan pernyataan resmi bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan jika salah satu vaksin Covid-19 yang tersedia menyebabkan orang memiliki kondisi SADS atau membuat kondisi SADS pada orang lebih parah.
Laman Mount Elizabeth Hospital, menyatakan vaksin aman untuk diberikan kepada pasien jantung, tanpa ada hubungan yang terbukti antara potensi efek samping vaksin dan kondisi jantung yang sudah ada sebelumnya. Uji klinis telah dilakukan pada pasien dengan berbagai kondisi kesehatan yang sudah ada sebelumnya, termasuk hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi. Tidak ada efek samping atau komplikasi yang dilaporkan setelah vaksin diberikan pada pasien-pasien ini.
Karena vaksin ini dianggap aman secara medis untuk pasien jantung, mereka yang memiliki kondisi jantung sangat disarankan untuk mendapatkan vaksinasi begitu vaksin ini tersedia bagi mereka. Hal ini dapat mengurangi risiko tertular virus COVID-19, sehingga melindungi mereka dari potensi komplikasi yang mungkin timbul akibat virus tersebut.
Dengan demikian, narasi yang menyebutkan vaksin sebagai sebab kematian mendadak pada orang dewasa atau Sudden Adult Death Syndrome atau Sudden Arrhythmic Death Syndrome (SADS) di kalangan dewasa muda dan atlet setelah bertahun-tahun penyuntikan adalah tidak benar.
Adapun video atlet yang jatuh di lapangan sering dipakai untuk mendukung narasi ini. Faktanya, kasus kolaps pada atlet sudah ada sejak lama. Penyebabnya bisa diakibatkan oleh kelainan jantung bawaan, aritmia, dehidrasi, atau kelelahan ekstrem, dan tidak ada bukti peningkatan kejadian setelah vaksinasi.
Baca juga:Cleveland Clinic Tak Sebut Penerima Vaksin COVID akan Meninggal
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelusuran fakta, klaim yang menyatakan bahwa vaksin COVID-19 dapat menyebabkan kematian mendadak pada orang dewasa atau Sudden Adult Death Syndrome - juga sering disebut Sudden Arrhythmic Death Syndrome - (SADS) di kalangan dewasa muda dan atlet setelah bertahun-tahun penyuntikan adalah salah dan menyesatkan (false and misleading).
Vaksin COVID tidak terkait dengan risiko kematian mendadak. Data menunjukkan bahwa orang muda dan sehat tidak memiliki risiko tambahan kematian mendadak jika divaksinasi COVID-19.
Sebagian besar otoritas kesehatan seperti CDC tetap menyatakan bahwa manfaat vaksin COVID-19 jauh lebih besar daripada risikonya. Vaksin ini dianggap aman secara medis dan dapat mengurangi risiko tertular virus COVID-19, sehingga mampu menjadi proteksi dari potensi komplikasi yang mungkin timbul akibat virus tersebut.
==
Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.
Vaksin COVID tidak terkait dengan risiko kematian mendadak. Data menunjukkan bahwa orang muda dan sehat tidak memiliki risiko tambahan kematian mendadak jika divaksinasi COVID-19.
Sebagian besar otoritas kesehatan seperti CDC tetap menyatakan bahwa manfaat vaksin COVID-19 jauh lebih besar daripada risikonya. Vaksin ini dianggap aman secara medis dan dapat mengurangi risiko tertular virus COVID-19, sehingga mampu menjadi proteksi dari potensi komplikasi yang mungkin timbul akibat virus tersebut.
==
Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.
Rujukan
- https://www.facebook.com/groups/980378689522804/permalink/2092468951647100/?rdid=egEVa2qKgTOJUdmn#
- https://archive.today/cvY2S
- https://tirto.id/salah-klaim-74-kematian-disebabkan-oleh-vaksin-covid-19-hkwF
- https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11287309/
- https://www.cdc.gov/mmwr/volumes/73/wr/mm7314a5.htm
- https://www.cidrap.umn.edu/covid-19/covid-vaccines-not-tied-risk-sudden-death-study-shows#:~:text=Data%20show%20that%20young%2C%20healthy,second%2C%20or%20third%20vaccine%20dose
- https://www.cidrap.umn.edu/covid-19/new-data-early-fears-covid-raises-risk-sudden-cardiac-events-athletes-unfounded
- https://www.cidrap.umn.edu/covid-19/oregon-data-covid-vaccines-not-tied-sudden-cardiac-death-young-people
- https://www.c-r-y.org.uk/experts-say-there-is-no-evidence-to-support-the-claim-that-the-covid-19-vaccine-and-athletes-collapsing-due-to-cardiac-conditions-are-linked/
- https://www.reuters.com/article/fact-check/no-evidence-covid-19-vaccines-are-linked-to-athletes-collapsing-or-dying-idUSL1N3451N2/
- https://www.komdigi.go.id/berita/pengumuman/detail/hoaks-vaksin-covid-19-sebabkan-sindrom-kematian-mendadak-bagi-atlet
- https://www.liputan6.com/cek-fakta/read/5031331/cek-fakta-tidak-benar-vaksin-covid-19-sebabkan-sindrom-kematian-mendadak-bagi-atlet
- https://www.mountelizabeth.com.sg/id/health-plus/article/covid-vaccine-heart-diseases
- https://tirto.id/cleveland-clinic-tak-sebut-penerima-vaksin-covid-akan-meninggal-hahs
Halaman: 61/8504





