• [SALAH] Dua Siswa SD di Aceh Meninggal Keracunan MBG

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 05/03/2026

    Berita

    Akun Facebook “Rahmat Al Muhajir” pada Senin (2/3/2026) mengunggah video [arsip] yang menampilkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Bireuen Aceh, disegel karena adanya klaim bahwa dua siswa meninggal dunia setelah mengonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG).

    Unggahan tersebut disertai narasi : 

    “Viral ! Dapur SPPG di Bireuen, Aceh disegel. Buntut 2 orang siswa SD meninggal karena keracunan MBG.”

    Per Kamis (5/3/2026) video tersebut telah dilihat 1,8 ribu kali, disukai 18 kali, menuai 2 komentar dan dibagikan ulang sebanyak 10 kali oleh pengguna Facebook lainnya. 

    Hasil Cek Fakta

    Tim Pemeriksa Fakta Mafindo (TurnBackHoax) menelusuri kebenaran klaim dengan memasukkan potongan video ke Google lens. Hasilnya mengarah ke akun TikTok “info bireuen” yang mengunggah video serupa pada Minggu (1/3/2026),terkait penyegelan SPPG di Bireuen akibat insiden keracunan ratusan siswa. Namun, tidak ada informasi mengenai dua siswa meninggal dunia. 

    TurnBackHoax kemudian memasukkan kata kunci “siswa keracunan MBG di Bireuen Aceh” ke mesin pencarian Google. Ditemukan artikel Antaranews.com “BGN: Siswa Keracunan MBG di Bireuen Aceh Sudah Sembuh” Selasa (3/3/2026). Wakil Kepala BGN, Nanik Sudaryati Deyang menyatakan siswa yang keracunan telah sembuh. Ia juga menegaskan kabar dua siswa meninggal adalah hoaks. 

    “Itu hoaks. Hati-hati jangan langsung percaya,” ujarnya. 

    Kesimpulan

    Badan Gizi Nasional (BGN) menyebut informasi siswa yang meninggal karena keracunan MBG adalah hoaks atau tidak benar. Unggahan dengan narasi “Dua siswa di Aceh meninggal keracunan MBG” merupakan konten yang menyesatkan (misleading content).

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • Cek Fakta: Hoaks Link Pendaftaran BSU Ramadan Sebesar Rp 600.000

    Sumber:
    Tanggal publish: 05/03/2026

    Berita


    Liputan6.com, Jakarta - Cek Fakta Liputan6.com mendapati klaim link pendaftaran Bantuan Subsidi Upah (BSU) Ramadan sebesar Rp 600.000. Informasi tersebut diunggah salah satu akun Facebook, pada 26 Februari 2026.
    Berikut isi unggahannya:
    "Dapatkan Bantuan Subsidi Upah (BSU) Ramadhan Sebesar Rp.600.000,-.
    Melalui Kementerian Ketenagakerjaan, Pemerintah kembali menyalurkan Bantuan Subsidi Upah (BSU) kepada para Pekerja / Buruh yang memenuhi syarat."
    Unggahan disertai menu daftar. Jika menu daftar diklik akan muncul link yang mengarah pada halaman situs menampilkan formulir digital dan meminta data pribadi seperti nama lengkap dan nomor Telegram.
    Lalu benarkah klaim link pendaftaran BSU Ramadan sebesar Rp 600.000? Simak penelusuran Cek Fakta Liputan6.com.

    Hasil Cek Fakta


    Cek Fakta Liputan6.com menelusuri klaim link pendaftaran BSU Ramadan sebesar Rp 600.000. Penelusuran mengarah pada artikel berita dari Liputan6.com berjudul "Ramai Info BSU 2026, Kemnaker Tegaskan Belum Ada Kebijakan Resmi" yang tayang pada 7 Februari 2026.
    Dalam artikel ini, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mengimbau masyarakat mewaspadai maraknya informasi palsu atau hoaks yang mengatasnamakan Program Bantuan Subsidi Upah (BSU) 2026. Informasi menyesatkan tersebut umumnya disertai tautan pendaftaran tidak resmi yang berpotensi mengarah pada penipuan.
    Kepala Biro Humas Kemnaker, Faried Abdurrahman Nur Yuliono, mengatakan klarifikasi ini perlu disampaikan menyusul beredarnya unggahan di media sosial, pesan berantai, hingga sejumlah pemberitaan yang mencatut Program BSU 2026. Kondisi ini dinilai berpotensi menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
    "Kami mengimbau masyarakat tidak mudah percaya pada hoaks dan disinformasi tentang BSU, khususnya yang mengarahkan pendaftaran melalui tautan tidak resmi, karena BSU tidak memerlukan pendaftaran mandiri," kata Faried dikutip dari Antara, Rabu 7 Januari 2026.
    Faried menekankan bahwa informasi resmi terkait BSU hanya disampaikan melalui kanal resmi Kementerian Ketenagakerjaan yakni laman bsu.kemnaker.go.id dan media sosial resmi Kementerian Ketenagakerjaan.

    Kesimpulan


    Hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com, klaim link pendaftaran BSU Ramadan sebesar Rp 600.000 merupakan hoaks.
    • Liputan 6
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • Cek Fakta: Hoaks Dubes Iran Minta Prabowo Urus Rakyatnya yang Miskin Ketimbang Mediasi Iran - AS

    Sumber:
    Tanggal publish: 05/03/2026

    Berita


    Liputan6.com, Jakarta - Tim Cek Fakta Liputan6.com menemukan postingan Dubes Iran meminta Presiden Prabowo mengurus rakyatnya yang miskin ketimbang mediasi Iran dan AS. Postingan itu beredar sejak awal pekan ini.
    Salah satu akun ada yang mengunggahnya di Facebook. Akun itu mempostingnya pada 4 Maret 2026.
    Dalam postingannya terdapat foto Dubes Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi dan Presiden Prabowo dengan narasi sebagai berikut:
    "Iran tolak ajakan mediasi Indonesia dengan AS: Lebih baik urus rakyat anda masih banyak yang m1sk1n! Kami tidak membuka ruang mediasi dengan AS!"
    Akun itu menambahkan narasi:
    "apa ora isi wo mau kesana kemari ngabisin duit rakyat,mau mendamaikan, dikira perang sarung kali"
    Lalu benarkah postingan Dubes Iran meminta Presiden Prabowo mengurus rakyatnya yang miskin ketimbang mediasi Iran dan AS?
     
    Cek Fakta Liputan6.com menelusuri dan menemukan pernyataan dari Dubes Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi terkait tawaran mediasi dengan AS.
    Dia menjelaskan tidak akan membuka ruang negosiasi dengan Amerika Serikat. Liputan6.com menulisnya dalam artikel berjudul "Prabowo Tawarkan Jadi Mediator Perdamaian, Ini Kata Dubes Iran" yang tayang 2 Maret 2026.
    "Kami mengharapkan dukungan dari negara-negara sahabat. Kami juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Indonesia atas bantuan yang telah dikirimkan serta kesiapan untuk melakukan mediasi," ujar Dubes Boroujerdi.
    "Kami meyakini bahwa tidak ada negosiasi ataupun perundingan dengan Amerika Serikat, karena mereka tidak berkomitmen dan tidak mau mematuhi kesepakatan apa pun," katanya menegaskan.
    Dubes Boroujerdi juga menyerukan solidaritas dari negara-negara Islam. Ia menilai serangan terhadap Iran sebagai tindakan ilegal yang harus dikecam secara tegas oleh komunitas internasional.
    "Kami meminta kepada negara-negara Islam untuk melihat bahwa serangan terhadap suatu negara adalah tindakan ilegal, dan agar secara tegas mengecam tindakan tersebut," katanya.
    Tidak ada sama sekali pernyataan Dubes Iran menolak karena ingin Presiden Prabowo mengurusi rakyat Indonesia yang miskin.
    Simak pernyataan lengkapnya dalam video ini...

    Hasil Cek Fakta

    Kesimpulan


    Postingan Dubes Iran meminta Presiden Prabowo mengurus rakyatnya yang miskin ketimbang mediasi Iran dan AS adalah tidak benar.

    Rujukan

    • Liputan 6
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • Cek Fakta: Hoaks BMKG Prediksi Gempa Besar pada 5 Maret 2026

    Sumber:
    Tanggal publish: 05/03/2026

    Berita


    Liputan6.com, Jakarta - Cek Fakta Liputan6.com mendapati klaim unggahan yang menyebutkan BMKG memprediksi gempa besar pada 5 Maret 2026. Informasi tersebut diunggah salah satu akun Facebook, pada 2 Maret 2026.
    Berikut isi unggahannya:
    "Himbauan Bagi Kita Semua. Ini Info dari BMKG. Mudah²an Nanti tidak Terjadi. Amin..."
    Unggahan menyertakan poster dengan tulisan sebagai berikut:
    "BMKG
    PERINGATAN DINI GEMPA BESAR
    BMKG MENGHIMBAU UNTUK SELURUH RAKYAT INDONESIA
    ADA KEMUNGKINAN TERJADINYA GEMPA BESAR SKALA BESAR PADA TANGGAL 5 MARET 2026"
    Lalu benarkah klaim unggahan yang menyebutkan BMKG memprediksi gempa besar pada 5 Maret 2026? Simak penelusuran Cek Fakta Liputan6.com.
     
     

    Hasil Cek Fakta


    Cek Fakta Liputan6.com menelusuri klaim unggahan yang menyebutkan BMKG memprediksi gempa besar pada 5 Maret 2026. Penelusuran mengarah pada unggahan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui akun Instagram resminya @infobmkg.
    BMKG menyampaikan, unggahan prediksi gempa megathrust akan terjadi di seluruh Indonesia pada 2026 adalah hoaks, tidak benar. 
    "BMKG tidak pernah menyampaikan prediksi waktu pasti terjadinya gempa bumi. Hingga saat ini, ilmu pengetahuan dan teknologi belum mampu memprediksi kapan, di mana, dan seberapa besar gempa akan terjadi secara tepat dan akurat," tulis BMKG yang dikutip pada Kamis (5/3/2026). 
    BMKG menyampaikan, pihaknya secara rutin melakukan pemantauan aktivitas seismik, kajian potensi sumber gempa, dan penyampaian informasi resmi berbasis data.
    Penting untuk dipahami, kajian potensi bukanlah prediksi waktu kejadian. Informasi potensi gempa bertujuan untuk meningkatkan kesiapsiagaan, bukan menimbulkan kepanikan.
    "Jangan mudah percaya pada informasi yang tidak bersumber dari kanal resmi. Pastikan selalu memeriksa informasi melalui website resmi: www.bmkg.go.id, media sosial resmi: @infobmkg," demikian unggahan BMKG.

    Kesimpulan


    Hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com, klaim unggahan yang menyebutkan BMKG memprediksi gempa besar pada 5 Maret 2026 merupakan hoaks.
    • Liputan 6
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini